Total Tayangan Halaman

Rabu, 14 Maret 2012

Belajarlah dari Perang Tabuk




Belajarlah dari perang Tabuk
Ria Bustanudin

Perang Tabuk terjadi pada saat musim paceklik, terjadi pada tahun 8 Hijriyah. Kondisinya saat itu sangat panas luar biasa. Lalu di tempat lain masyarakat tengah menunggu panen buah-buahan.   Ketika seruan jihad memanggil  ketika para sahabat bersiap-siap untuk segera pergi berjihad, mengasah pedang, mempersiapkan bekal, merawat kuda yang akan bertarung di medan perang. Ketika semua sibuk Ka’ab Bin Malik justru tidak terlihat bersiap-siap dia masih ragu apakah akan berangkat atau tidak. “Aku akan bersiap-siap setelah satu atau dua hari, lalu menyusul mereka”. Ketika keesokan harinya tiba dan kaum muslimin telah berangkat, aku bermaksud melakukan persiapan, namun aku tidak mempersiapkan sesuatupun.” Ujar Ka’ab Bin Malik. Hingga akhirnya ka’ab bin malik pun tidak turut serta saat itu.
Allah mengabadikan suasana saat itu dalam surat At Taubah ayat 43 saat itu Allah menegur Rasulullah yang menerima alasan Ka’ab Bin Malik untuk tidak pergi berperang. Hingga kemudian Ka’ab pun menerima hukuman dari Rasulullah atas kelalaian nya. dia diisolasi dari jamaah selama kurang lebih satu bulan  juga dipisahkan dari istrinya.
 Perang Tabuk mengajari banyak hal, hakikatnya ada dua perang yang saat itu bergejolak terjadi di tubuh para sahabat dan pasukan, perang di internal dalam artian perang ini terjadi di diri mereka sendiri dimana saat perang itu tak lama lagi akan panen buah-buahan, lalu ada yang berangkat setengah hati ketika yang lagi begitu bersemangatnya mempersiapkan semuanya maka dengan setengah hati pula dia mempersiapkan peralatan nya. lalu perang yang kedua dalam artian sebenarnya yakni perang di medan laga.
Kasus Ka’ab bin malik ini tentu sangat kompleksitas, Ka’ab bin malik yg lansung ditarbiyah oleh Rasulullah bisa-bisa nya  meninggalkan kewajiban  untuk turun perang saat itu. Lalu bagaimana dengan saat ini berapa banyak yang memberikan alas an untuk tidak turut berjuang ke medan juang, dengan alasan apa mereka enggan, apakah kesibukan duniawi atau kemalasan yang diperturutkan . Berapa banyak dari kita yang membiarkan saudara kita turun sendirian mengurusi masalah umat. Lalu berapa banyak pula  yang turun namun dengan setengah hati, bukannya malah menambah kekuatan malah membuat kacau segalanya.  Jika pada saat itu di perang Tabuk Rasulullah kehilangan Ka’ab Bin malik yang enggan turun dan beberapa yang lainnya maka Tanya lah pada hari ini berapa ratus jumlah mereka yang lebih memilih kenikmatan di rumah daripada menemani saudaranya berjuang. Jika saat itu jumlah nya hanya 3 atau 4 orang maka pada hari ini bisa ribuan jumlahnya. Sementara, kita hari ini telah luput dalam banyak absen di medan dakwah, hilang di banyak kesempatan. Kita absen dan tidak hadir bukan pada satu, dua atau tiga medan ketaatan, tapi mungkin puluhan, ratusan, ribuan, atau mungkin lebih dari itu. Tapi kita belum juga menangisi itu semua. Ingatkah ketika beberapa kaum faqir pada saat itu menangisi menemui Rasulullah untuk diajak pergi perang dengan peralatan seadanya. Lalu kemana air mata penyesalan kita ketika banyak hal telah kita tinggalkan. Padahal tahukan kita bahwa saat itu Sahabat Rasulullah saw, Umar bin Khattab menyerahkan separuh dari hartanya, sedangkan Utsman menyerahkan 300 unta dan 1000 dinar untuk membiayai perang.
Lalu teringat pula ketika Hukuman (iqob) diberikan kepada Ka’ab Bin malik, maka atas keimanan nya kepada Allah walau telah digoda oleh kaum kafir Quraisy namun tidak sedikit pun dia goyah.  Dia menerima semua hukuman yang diberikan kepadanya.
Dan terakhir mari Tanya pada diri sendiri, jangankan menyesali keabsenan kita, kebesaran jiwa kita untuk menerima hukuman atas kelalaian pun kita anggap sebagai angin lalu. malah hukuman kita jadikan alasan untuk keluar dari barisan ini lalu balik menyerang. Lalu mengapa semua ini bisa terjadi tahukah kenapa Mungkin ini terjadi bahwa kita belum tulus berjuang di jalan-Nya.
Wallahualam Bis shawwab

Ria Bustanudin
Staff Kebijakan Publik KAMMI Riau
Terima kasih kepada ketua KAMMI Riau untuk inspirasinya di       Kajian Pengurus KAMDA Riau  
Semoga bermanfaat
Pekanbaru/ 13  Maret 2012



Sabtu, 18 Februari 2012

Lumbung Mas Hari itu bersama Mereka...


Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu

Indonesia …
debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga

biarpun bumi bergoncang
kau tetap Indonesiaku
andaikan matahari terbit dari barat
kaupun tetap Indonesiaku
tak sebilah pedang yang tajam
dapat palingkan daku darimu
kusingsingkan lengan
rawe-rawe rantas
malang-malang tuntas
denganmu …

Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia …
debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga
Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia …
nada laguku, symphoni perteguh
selaras dengan symphonimu

Waktu telah menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit, tapi masih saja  di kampus alamat  telat lah ini ceritanya.  Agenda  selanjutnya selepas dari kampus adalah mengikuti rapat alumni pelatihan Kementrian Pemuda dan Olahraga kami berjanji bertemu di rumah makan Padang  yang bernama Lumbung Mas di sekitar kampus UNRI.
Berbekal kepercayaan diri saya pun berangkat menuju tempat pertemuan, alhasil tanpa peta dan pengetahuan pasti dimana tempatnya dalam keadaan terlambat saya tidak menemukan rumah makan yang dimaksud, Putar-Putar aja sekeliling kampus UNRI tanpa juga berinisiatif bertanya pada orang lain. Akhirnya setelah menelepon Mbak Lusi sang Koordinator tempat yang dilantik  dadakan saya tiba di depan rumah makan yang menjual makanan padang ini. Lansung menuju lantai II tempat pertemuan.
Wuaaahhh..ternyata teman-teman udah pada hadir dan bersiap-siap untuk makan, di meja makan telah tersedia  hidangan makanan berbagai macam , tanpa basa basi Mbak Lusi lansung menawarkan saya untuk makan, sebenarnya saat itu \ masih kenyang sih..tapi ya.. mau gimana lagi susunan agenda kan sudah diatur rapi otomatis harus patuh pada jadwal, yang mana sesuai jadwal agenda pertama adalah makan. Berbagai  jenis makanan tersedia di atas meja, mulai dari Ikan Asam Pedas, Gulai daging, ayam goreng, sayur, lalu juga ada Gulai daun Ubi Tumbuk yang Khas dari Sumatra Utara walau ada terasa pahit ketika makan nya tapi gulai ini saya rasa cukup best dan fresh  dibandingkan Gulai dan sayur lain yang penuh dengan rempah dan minyak.
Ternyata masih ada juga yang telat, tak kirain saya yang paling telat. Harusnya hari ini  saya gak telat, dari rumah udah on time banget, tujuan pertama memang ke kampus dulu  untuk minta Cap di TU FKIP, setelah itu baru  ke tempat pertemuan, namun ternyata Allah berkehendak lain, Alhamdulillah di kampus saya bertemu adik-adik  yang dulu sama –sama aktif di organisasi, pertemuan dengan mereka dalam bentuk silahturrahmi seperti ini memang menyenangkan, terasa persaudaraanya walau jarang bertemu, saling menyapa, menanyakan kabar menyatu dalam kerinduan. Dan tak lupa  bertukar pikiran, seperti pagi ini senangnya bisa bertemu dengan Tari yang baru muallaf setahun lalu, Tari adalah anak yang semangat menuntut Ilmu, alhamdullillah walau baru masuk Islam Tari sudah memakai jilbab dengan Rapi. Yang lebih menyenangkan lagi Tari bercerita kepada saya bahwa sekarang dia belajar mengaji setiap seminggu dua kali. Wah.. senang sekali mendengar nya, tidak setiap muallaf bisa seperti Tari yang banyak mendapat bimbingan. Semoga ALLah selalu membimbingnya.
Dan berkah lain di pagi itu adalah bisa bertemu dengan Rizka Mahasiswa Biologi angkatan 2007, dulu pernah sama-sama di BEM FKIP selama setahun, senang nya mendengar kabar kalau tak lama lagi dia akan ujian Kompre..wah..selamat ya, berkah makin bertambah ketika melihat kesibukan pengurus BEM FKIP membuka bazaar kegiatan  seminar mengangkat tema tentang pendidikan berkarater. Ya..sejak lama BEM FKIP memang fokus pada isu pendidikan berkarakter sejak tahun 2009  setiap kegiatan kami dulu selalu mengusung tema karakter, saya ingat ketika tahun 2009 BEM FKIP membuat seminar tentang pendidikan berkarakter dengan  3 orang pembicara walau kemudian yang datang hanya satu orang pembicara yaitu Anggota DPRD Kota Fadri AR. Kehadirannya menghangatkan acara pada saat itu. Lalu di tahun 2010, seminar dengan 400 orang peserta  diadakan di PKM kampus, jumlah peserta ini melebihi target panitia, namun ada kebahagiaan yang dirasakan saat itu, yang pasti kami bisa menjawab tantangan dari orang-orang yang mengkritik kegiatan kami di tahun 2009 lalu. kegiatan Ini juga mengangkat tema karakter dengan 4 pembicara dari berbagai kalangan termasuk pemuda. Keuntungan dari acara saat itu di sumbangkan kepada salah satu yayasan yang mengelola sekolah marjinal khusus anak putus sekolah dan anak miskin kota, senangnya saat itu ketika bisa berkumpul bersama mereka menyampaikan sumbangan yang diberikan oleh mahasiswa FKIP. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala setimpal.
Tahun berganti  kini dengan kepengurusan lain dan dengan suasana yang  sudah tak sama lagi dengan masa kepengurusan kami, saya berharap BEM FKIP akan terus maju walau dalam keterbatasan materi..biarlah asal jangan keterbatasan ide dan semangat. Karena jika itu yang telah hilang maka semua akan mati tidak akan ada lagi pergerakan..! tidak akan ada reformasi, maka revolusi akan mati di tangan mereka yang tak lagi ada semangat.
Selesai cap di TU saya bergegas segera menuju parkiran motor namun ternyata Allah masih memberi rizki bertemu dengan saudara yang lain, ya di lorong kampus saya bertemu dengan Arik, kader kampus satu ini memang sangat semangat sekali, dia aktif di lembaga umum kampus bagi saya semangat nya ini perlu di apresiasi. Tidak semua anak Rohis kampus mau terjun ke organisasi umum jumlah nya sangat sedikit sekali. Perjuangan orang-orang seperti Arik ini tidaklah mudah, mereka harus lansung berhadapan dengan realita, bahkan terkadang saya lihat mereka harus menyelesaikan urusan keumatan seorang diri, bertikai dengan waktu dalam kesepian orang-orang yang mau menemani.
Selesai makan acara pun kemudian di buka oleh Aan  Koordinator alumni yang sebulan lalu di tunjuk. By the way tempat rapat ini cozy banget, ekslusif seolah-olah disediakan hari ini hanya untuk kami, ada pendingin udara, ruangan kedap suara, disediakan white board juga . Yah..pokoknya nyaman lah. Pertemuan  yang kesekian kali ini dihadiri sekitar 70 % alumni, memang tidak mudah  untuk mendatangkan seluruhnya.  Hari ini harusnya menjadi kesepakatan pembentukan pengurus dan nama dari kepengurusan ini, namun entah mengapa tadi masih saja dibahas apakah perlu membentuk pengurus atau tidak, ya..mungkin berdasarkan berbagai pertimbangan dan ingin memilki semangat baru dengan nama baru maka keputusan di kembalikan ke hasil keputusan rapat sebelum nya yaitu pembentukan pengurus. Yang pertama kami menentukan dulu nama untuk alumni ini, cukup alot karena memang tidak mudah membuat sebuah nama, bukankah dalam nama ada cita-cita, ada harapan, ada mimpi, ada keterwakilan sosok sang pembawa nama, yang pasti dari  semua itu jangan sampai aja nama nya lucu dan ga’banget seperti usulan alumni yang memberi usulan nama ICBC yang kalo dibaca isi bi si, ini nama kan lucu banget, kurang ada karakter, pas bacanya jadi keinget ama slogannya Cherrybelle yang suka dilatahin ma orang –orang yaitu “cibi..cibi..” emang nya girl band. Sembari rapat beberapa orang Nampak sibuk dengan laptop dan androidnya, berjibaku untuk memposting kegiatan yang tengah berlansung ke dalam facebook, tak lupa beserta gambar nya, koment pun berdatangan ke postingan baru di group,. Yah..zaman udah beda segala sesuatu sekarang bisa diakses dengan cepat melalui tekhnologi terkini, jika saja kita tidak siap dengan perubahan sekecil apapun maka niscaya kita yang akan di tinggalkan zaman“ musuh itu bergerak lebih cepat dalam melancarkan aksinya, dan seharusnya seorang pejuang kebenaran lebih gesit daripada mereka, makanya jangan pernah takut dengan perubahan, perubahan dan kemudahan nya itu jadikan sebagai wadah bukan sebagai sarana.  Setelah beberapa masukan mengenai nama akhirnya diambil keputusan tentang nama Alumni yaitu Komite Pemuda Pembangun Negeri yang disingkat KOMPPAK-Negeri, semua lansung setuju dengan nama ini, lansung dapat feel nya. Setelah berjibaku dengan nama alumni pembahasan dilanjutkan dengan pemilihan struktur pengurus dimulai dari ketua, tentunya pemilihan ketua tidak bisa sembarangan, bukan hanya dilihat dari kualitas tapi juga dari sosok pribadinya yang akan mewakili organisasi yang akan dipimpin, dari beberapa nama yang diusulkan sebagai calon Mulai dari Bantuan, Subhan, hingga Adzroi maka berdasarkan  musyawarah dan keterwakilan kehadiran selama mengawal pembentukan ini maka peserta menyepakati Adzroi sebagai Ketua, mahasiswa Universitas Riau asal Kota Pekanbaru dinilai layak sebagai Ketua, selanjutnya dipilihlah masing kepala- bidang tak lupa Sekretaris dan Bendahara sebagai pemegang peranan strategis. Pemilihan ini tidak lah terlalu rumit , semua berjalan lancar dan penuh kekeluargaan. Ya..bagi kami sebuah kerja untuk negeri ini harus lepas dari kepentingan-kepentingan pribadi, kejujuran pada niat dan tujuan menjadi prioritas, makanya tak perlu berlama-lama menunjuk orang-orangnya. Pelatihan empat bulan lalu di Hotel Mutiara Merdeka telah mengajarkan banyak hal kepada kami, sehingga tanpa serupiah pun rupiah kami masih setia berbakti untuk negeri, ini lah yang saya lihat pada semangat mereka pada setiap  pertemuan mulai dari di UNRI, Mesjid Ar Rahman, Taman Kota hingga Rumah makan padang ini, semangat yang tak pernah padam menuju cita-cita Indonesia Jaya.
Ini memang bukan kerja yang mudah, kepengurusan ini mempunyai banyak harapan tentang mimpi dan cita-cita, dalam Indonesia dengan kondisi nya seperti sekarang ini kami tidak boleh lemah, Hasan Al Bana sang pelopor Islam kontemporer mengatakan dalam risalah nya bahwa kebangkitan itu berangkat dari hal-hal yang mustahil dan penuh dengan keterbatasan namun kemustahilan itu lah yang kemudian mengajarkan bahwa kerja keras, keyakinan, teguh dan ulet sebagai kunci sebuah kebangkitan bangsa  yang kini besar. Dan kami yakin bahwa apa yang kami kerjakan hari ini akan menjadi buah manis  suatu hari nanti Sebuah keyakinan yang kuat dan usaha yang maksimal menjadi jalan pembuka keberhasilan.
Hari ini setelah melewati perjalanan beberapa bulan dari pelatihan 4 bulan yang lalu maka terbentuk lah ikatan dari alumni ini, pelatihan yang meninggalkan kesan berbeda, pertemuan dengan banyak teman-teman dari berbagai daerah di Sumatra, sebuah pulau yang memilki etnis budaya lokal yang hampir-hampir sama menyatukan kami dalam kebersamaan cita-cita dan fikiran. Saat itu kami di giring dalam frame berfikir yang sama yang jika saya artikan pelatihan ini lebih kurang sama seperti doktrin. Doktrin untuk mencintai Indonesia dan bekerja nya untuknya. Trainer dan panitia yang juga mampu menjaga alur pelatihan sedemikian rupa, hingga peserta selalu penasaran dengan apa yang akan diberikan selanjutnya, pembicara dan pemateri yang juga sangat luar biasa. Mulai dari Hari pertama dengan materi kepemudaan nya oleh Pak Imam, Mas Indra, Bang Fahrul, lalu lanjut ke Bang Mufti, Mas Agung, pembicara undangan seperti dari Jakarta seorang anggota DPR RI dari Fraksi PKS dengan materi sejarahnya lalu dari Riau Pos, Mas Farhan dari kemetrian pemuda dan olahraga dengan materi analisis sosial tak ketinggalan akademisi  juga mulai dari Dosen Hingga Rektor, ada juga dokter Arif yang gokil abis,  hingga Terapis-Terapis luar biasa dari Mind power..wow..sungguh keren apa yang mereka sajikan kepada kami, selanjutnya kejutan-kejutan demi kejutan terus berlansung Dik Doank dengan kandang Jurangnya, lalu ada  Pak Nanang Mubarok trainer yang keren luar biasa.. Hmmm Bicara soal Pak Nanang cukup menarik ..beberapa bulan setelah pelatihan itu kami mengundang Pak Nanang kembali  Pekanbaru lagi, tepatnya di Bulan Desember, Pak Nanang mengisi materi di Kampus, menyenangkan bisa mengenal beliau, banyak hal positif yang bisa diambil dari seorang laki-laki yang ramah dan tidak sombong ini. Sabar sekali dalam menghadapi tingkah pola kami sebagai panitia, bahkan sebelum kedatangannya di Pekanbaru dia sempat di rawat di Rumah sakit di Jakarta, tapi sebagai seorang yang professional dia tetap memenuhi janji nya kepada panitia saat itu. Hmmm.. menyenangkan sekali bisa kenal dan bertemu dengannya juga dengan Mas Asep, CO  Asisten trainernya yang diperkenalkan oleh Pak Nanang.
Tentunya ketika itu ada harapan yang disematkan kepada 150 orang pemuda yang datang di Hotel Mutiara Merdeka saat itu, Pak Imam bahkan tidak mengizinkan ada sesi penutupan dalam acara tersebut, baginya tidak boleh ditutup, pelatihan ini akan terus berlanjut, pelatihan karakter, yang mana saat itu adalah teori yang diberikan maka saat ini kami pemuda menjalani materi praktek, karena karakter adalah proses terus menerus yang tak boleh berhenti. Maka pada hari ini izinkan kami mengutip kata – kata dari Anis matta untuk memulai langkah perjalanan ini “Beri kami kesempatan utk terlibat, dan izinkan kami menata ulang taman indonesia, biar kami buat kalian tersenyum sebelum senja tiba..”. semangat  ini tak boleh padam sampai di sini kami harus terus bekerja, Indonesia Jaya adalah mimpi kami Dari Pemuda untuk Negara nya.
Pekanbaru, 19 Desember 2012
Specially For semua teman – teman di KOMPPAK Negeri (Aan, Roi, Hendra, Lusi, Ara, Etti, Nurul, Vita, Ezi,


Selasa, 24 Januari 2012

MoT adalah penanggung jawab utama keseluruhan penyelenggaraan dauroh.





Beberapa pengalaman saya lalui banyak kader Komisariat yang kebingungan ketika akan melaksanakan dauroh atau yang biasa kita sebut dengan pelatihan. Minimnya jumlah AB 2 Komsat bisa menjadi salah satu faktor. Bukan mengecilkan keberadaan AB 1 Komsat namun sebuah training tetap membutuhkan konsep jelas dan terarah, sehingga merapikan kerja-kerja dauroh.
Untuk KAMMI sendiri training instruktur diberikan ketika seorang kader telah menjadi alumni DM 2 yang mana memang pelaksanaan DM1 dilaksanakan oleh Alumni DM 2 dan AB2 dibantu oleh AB 1 Komsiariat. Namun dengan kondisi  saat ini maka manejerial nya tidak bisa hanya menghandalkan peran AB 2 yang kadang sering disibukkan dengan amanah lain di tempat lain.
Oleh karena itu dauroh yang kita laksanakan tidak sekedar menggunakan feeling apalagi hanya berpatokkan dengan training yag pernah dilaksanakan di masa sebelumnya. Sebelumnya sudah ada standarisasi dari pelaksanaan training, mulai dari tujuan, konten, pelaksana, target, materi, teknis operasional pelaksanaan hingga evaluasi semua adalah keseluruhan dari dauroh yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Untuk sekarang ini bab yang saya tampilkan baru terkait dengan pengelola dauroh atau siapa-siapa yang terlibat dengan pelaksanaan dauroh, di selanjutnya InsyaAllah akan dipublikasikan bab yang lainnya yang sama pentingnya ke publiK komsat UIR, namun bagi AB 2 yang ingin membantu Tafadhol.




Diambil dari modul  Training Instruktur 2010/Pekanbaru oleh KAMMI Daerah Riau
Manajemen Dauroh KAMMI
Manajemen ini dilaksanakan pada pelatihan dauroh marhalah di Komisariat masing-masing
1.Instrumen dauroh
          Pengelolalaan sebuah dauroh melibatkan berbagai komponen yang tersistematiskan dalam suatu instrumen daouroh, interaksi komponen-komponen tersebut harus sinergis agar dauroh berjalan secara teratur. Instrumen minimal sebuah dauroh terdiri dari MOT, MCR, Observer dan Fasilitator. Komponen yang dimaksud adalah :
Pengelola Dauroh

Pengelola dauroh adalah tim yang bertanggungiawab terhadap pengelolaan training secara substantif. Tim Pengelola daurohterdiri dari :

1) Master of Treining (MoT)
MoT adalah penanggung jawab utama keseluruhan penyelenggaraan dauroh. Ia adalah orang yang paling faham dengan alur dan desain dauroh.
Tugas:
a) Penanggungiawab keseluruhan training
b) pengendali team instruktur dalam mengelola sebuh training.
c) Penentu alur dan desain training
d) pengambil kebiiakan-kebijakan strategis selama proses training
e) Memimpin koordinasi-koordinasi pra, saat, dan pasca training
f) Memberi materi orientasi dan refleksi training
g) Menentukan kelulusan peserta training
h) Membentuk OC (PANITIA PELAKSANA)
i) Meminta Pettanggungiawaban OC (PANITIA PELAKSANA)

2) Asisten MoT
Asisten MoT adalah insruktur yang bertugas membantu MOT dalam menentukan keb[iakan dauroh
Tugas:
Menganalisa data perkembangan dauroh: peserta keberjalanan proses dauroh,
dan fasilitator.


3) Administrator
Administrator adalah instruktur yang bertanggungiawab mengumpulkan data
mengklasifikasikann dan mengolah, sehingga mampu dibaca guna memberikan
rekomendasi terkait proses dauroh.

4) Masterof ClassRoom (MCR)
MCR adalah instruktur yang bertanggungjawab untuk mengkondusifkan forum di kelas. Ia akan senantiasa bersama peserta di dalam ruangan.
Tugas:
a) Mengalurkan materi-materi training
b) Pelaksana kebiiakan-kebijakan MOT di forum
c) MengkondisikanPeserta

5) Observer
Observer adalah instruktur yang bertugas melakukan pemantauan dan penilaian terhadap keberjalanan forum.
Tugas:
a) Mengamati perkembanganpeserta
b) Mengamati fasilitator dalam memfasilbsi
c) Menganalisa hasil pengamatannya dan membuat rekomendasi.

6) Fasilitator
          Fasilitator adalah instruktur yang bertugas menyampaikan materi-materi dauroh. Terdapat beberapa sub dalam fasilitator materi antara lain :

a)   Fasilitator materi
Instruktur yang bertugas sebagai fasilitator utama dalam menyampaikan materi

b)  CO. Fasilitator
Fasilitator materi adalah instruktur yang bertugas bersama dengan fasilitator materi menyampaikan materi dauroh, namun peran Co Fasilitator digunakan berdasarkan pertimbangan target dauroh

c)   Instruktur tamu/Penceramah 
Inshuktur tamu adalah pemateri yang berasal dari luar tim instruktur.
Biasanya s€orang ustada pakar/ahli dalam bidang terterrtu, akademisi
praktisi, dan sejenisnya yang akan menjadi nara sumber bagi permasalahan
tertentu. Dalam DM 1 dilakukan dalam kondisi penting mendesak, namun alangkah lebih baik jika semua instruktur materi bersala dari Korps Instruktur Daerah


7) Ustrdz Dauroh
Instruktur yang berperan melakukan monitoring dan kontrol dalam sisi
Maknawiyah dauroh baik proses dauroh atau pun peserta dauroh.

b. Organizing Comiile -Panitia (OC)
Panitia OC adalah tim yang bertanggungiawab secara teknis bagi
keberlangsungan sebuah dauroh. panitia ini dibentrk oleh komisariat penyelenggara dauroh. OC bertanggung jawab terhadap : penyediaan tempat akomodasi, konsumsi transnsportasi, dokumentasi, dekorasi, dan sarana prasarana training lain yang sifatnya pendukung dauroh.

 PERANGKATDAUROH
1. Sarana dan Prasarana dauroh
Sebuah dauroh berjalan dengan baik mengharuskan tersedianya sarana dan
Prasarana yang memadai. Antara lain :

a. Tempat
Tempat harus kondusif, tidak gaduh dan memungkinkan pesertra untuk mengekspresikan setiap kemampuannya tanpa merasa terbatasi oleh kondisi tempat.

b. Desaian Ruang Kelas
Ruang kelas harus didesain sedemikan rupa agar daunrh dapat berjalan secara optimal. Ruang dauroh standar harus menggunakan meja dan kursi yang disusun leter U, setengah lingkaran ataupun segitiga. NB: Ruang kelas khusus DM I dibuat kesan sederhana, tempat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat

c. Perlengkapan Ruang Training
model tempat duduk peserta 
Perlengkapan yang harus ada dalam ruang taining  antara lain : papan tulis, kertas plano, spidol, penghapus, sotmd sistem, OHP, vtransparasi, buku-buku referensi/perpustakaan kecil, vlaptop/komputer, vptinter, proyektor (LCD) dan sebagainya.

d. prasanarana pendukung dauroh
          berupa kamar mandi yang memadai, tempat tidur, ruang local, ruang instruktur, ruang panitia, tempat sholat, alat komunikasi, dsb
e. administrasi dauroh
          berkenaan dengan hal pendataan dan pendokumentasian dalam bentuk softcopy atau hardcopy.
1.    Biodata peserta
2.   Daftar peserta
3.    Presensi peserta
4.   Lembar observasi
5.    Sosiometri
6.    Form data instruktur

Jumat, 20 Januari 2012

Khalid bin Walid adalah legenda perang dunia.





Kisah Tiga Sahabat Mulia

Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan Abu Dzar al-Gifari. Tiga sahabat Rasulullah yang amat masyhur kemuliaannya, semoga Allah merahmati beliau. Mereka merupakan simbol perlawanan, simbol perjuangan.

Umar bin Khattab adalah mantan jagoan Mekkah. Saat seluruh kaum muslimin berhijrah ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, justru Umar memproklamirkan hijrahnya. “…Barangsiapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya jadi yatim atau istrinya jadi janda; temui aku di balik lembah itu!!!”, teriaknya lantang di tengah musyrikin Quraisy di Ka’bah.

Khalid bin Walid adalah legenda perang dunia. Mantan aktor utama kekalahan Rasulullah dalam perang Uhud itu menjadi panglima paling brilyan dalam naungan Islam. Dialah Syaifullah yang menyelamatkan ribuan jiwa sahabat dalam perang Muktah. Dialah yang mengusir Heraklius sang jendral besar Romawi dari Syam. Heraklius sendiri amat meratapi kekalahannya dari singa gurun pasir itu. Dia pulalah yang meluluh lantakkan Musailamah al-Kadzdzab si nabi palsu yang sudah banyak membunuh sahabat Rasulullah.

Abu Dzar al-Gifari dari suku Gifar, suku yang tiada taranya dalam menempuh perjalanan padang pasir. Mereka menjadi tamsil perbandingan dalam perjalanan yang luar biasa, baik malam atau pun siang hari tidak masalah bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar bertemu suku Gifar di malam hari!!!. Abu Dzar mewarisi sifat keras dan militansi sukunya. Saat baru masuk Islam, beliau dengan lantang mengucapkan syahadat di depan Ka’bah. Teriakan pertama tentang Islam diproklamirkan untuk menentang kesombongan Quraisy, justru dilakukan oleh perantau asing yang tidak punya kerabat atau pembela. Tak ayal, Abu Dzar habis dihajar masyarakat Quraisy. Baru pulih sedikit dari lukanya, Abu Dzar ingin bergegas melakukan provokasi itu sekali lagi. Untunglah segera dicegah para sahabat.

Ketiga sahabat militan itu memiliki “garis hidup” yang berbeda pasca kejayaan Islam. Umar sang jagoan berubah menjadi laki-laki lembut yang mudah menangis saat memegang tampuk khilafah. Kekuatan dan kecerdasannya membuatnya sukses memperluas dan mengelola wilayah Islam yang amat besar. Membentang dari perbatasan Hindustan hingga sungai Nil, dari Hadramaut hingga Armenia.

Khalid sang panglima seakan ditakdirkan hanya sebagai prajurit sejati. Namun gagal saat melakoni peran barunya sebagai Gubernur penaklukan Armenia. Beliau memilih memberikan harta kepada para pembesar untuk memperkuat fondasi pemerintahan dari pada kepada rakyat banyak. Hal ini amat membuat berang khalifah Umar bin Khattab. Beliau mencopot panglima besar itu dan mengirimnya balik ke Madinah.

Abu Dzar al-Gifari sang radikal revolusioner justru tidak diberi kesempatan menjadi pemimpin. Saat hampir seluruh sahabat terbaik Rasulullah memegang berbagai amanah publik dan strategis, Rasulullah menetapkan Abu Dzar tetap seperti sedia kala. Namun justru dari sinilah, Abu Dzar melakukan peran otokritik yang amat efektif. Sepeninggal khalifah Umar, hampir semua pejabat berlomba memperkaya diri. Disinilah Abu Dzar muncul, beliau berjalan dari satu negeri ke negeri yang lain mengontrol perilaku penguasa dan mengajak mereka kembali hidup sederhana.

Sekarang tantangan zaman terus berkembang. Dan perubahan memang menjadi watak dunia ini. Hanya satu hal terus konsisten, yaitu perubahan itu sendiri.

Maka, kenalilah perubahan dan berbagai tantangannya. Jangan lagi terjebak pada romantisme masa lalu. Para sahabat tidak berlama-lama mengenang sulitnya hidup di Mekkah, atau susahnya perjalanan hijrah. Bagaimana menjayakan Islam diseluruh penjuru dunia. Bagaimana mengelola pemerintahan dan masyarakat yang kian luas dan majemuk. Itulah yang menjadi perhatian besar mereka. Semua tantangan itu sudah cukup membuat mereka sibuk hingga tidak ada waktu untuk berselisih dan berpecah-belah.

Tidak ada waktu untuk melakukan berbagai hal yang justru memberatkan langkah derap perjuangan ini. Sebagaimana ucapan Rasulullah bagi orang-orang tertinggal dalam perang Tabuk :

“Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan Allah susulkan untuk kalian. Dan andaikan tidak, maka Allah telah membebaskan kalian dari padanya”.

Sahabatku yang baik, semoga Allah memberikan keistiqomahan kepada anda, dan bagi yang belum tergabung dengan kafilah perubahan…Bergabunglah.

Wallahu a’lam.

(Disunting dari majalah Al-Izzah)

“Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya




Januari 28, 2010 (diambil dari tulisan Edi Purnama/ Jakarta) 
Risalah Untuk Para Ikhwan dan akhwat 

Akhii, kutuliskan risalah ini bagimu. Bukan karena apa. Kau adalah saudaraku, Akhii fillah. Karena Allah Ta’ala.

Akhii, sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jemari Ar Rahman. Maka beruntunglah orang yang dihadapkan hatinya pada ketaatan pada Allah Ta’ala. Sungguh benarlah doa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam panjatkan, “Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘alaa tha’atika” (Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkan hati kami di atas ketaatan pada-Mu)

Akhii, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Manusia, ya Akhii. Tak terkecuali. Laki-laki maupun wanita.
 Tahukah kau wahai Akhii, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya yang artinya, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”

Dan agama kita yang mulia juga telah mengajarkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis yaa, Akhii. Bila kita tapaki perjalanan salaful ummah, kita akan temukan betapa mereka menjaga adab-adab tersebut.

Maka tidak layak bagi kita untuk bermudah-mudah dalam bergaul dengan lawan jenis. Janganlah bermain-main dengan kehormatan, yaa Akhii. Allah Ta’ala selalu mengawasi kita di manapun dan kapanpun. Apakah itu dalam kamar tertutup rapat, ketika kau sedang asik ber-SMS dengan wanita yang bukan mahrammu tanpa keperluan yang mendesak. Sama sekali bukan untuk hal yang membawa mashlahat, hanya untuk mengatakan,

“Ap kbr, Ukhti? Lg sbk ap skrng?”
 “Smgt ^_^”
 “Ttp senyum nggih =)”

Atau untuk sekadar mengirimkan nasehat. Entah itu terjemah Al Qur’an, potongan hadits, atau perkataan ulama. Apa maksud yang ada dalam hatimu, yaa Akhii? Banyak teman-teman ikhwan yang lebih berhak kau beri perhatian dan nasehat. Na’am, murni perhatian dan nasehat, tanpa tendensi apapun.

Tahukah yaa Akhii, terkadang syaithan menghiasi keburukan sehingga menjadi tampak indah. Bahkan terkadang syaithan membuka sembilan puluh sembilan pintu kebaikan untuk menjerumuskan manusia kepada satu pintu keburukan.

Akhii, Ibnu Taimiyah pernah berkata yang artinya, “Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah.”

Yaa Akhii, tidakkah kau ingin meneladani Yusuf ‘Alaihis Salam? Seorang pemuda yang menjaga iffah-nya yang dijanjikan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya.

Yaa Akhii, mungkin kau sudah pernah mendengar sebuah hadits dari Nau’as Ibni Sam’an radiyyallahu anhu yang artinya, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.”

Yaa Akhii, kebahagiaan sejati tidak akan diperoleh dengan cara yang haram. Percayalah itu. Cara ini hanya akan menimbulkan kesusahan dan kerusakan pada diri serta terbuangnya harta dengan sia-sia. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.

Terakhir yaa Akhii, saya akan nukilkan perkataan Salman Al Farisi radiyyallahu ‘anhu dari Ja’far bin Burqan yang artinya, “Ada tiga orang yang membuatku menangis dan tiga orang lagi membuatku tertawa. Aku tertawa melihat orang mengejar dunia sedangkan kematian telah mengintainya, orang berbuat lalai berbuat padahal dirinya tak pernah dilupakan, dan orang banyak tertawa, sedangkan ia tidak tahu apakah Allah murka ataukah ridha kepadanya. Dan aku menangis karena kepergian orang-orang yang dicintai, yaitu kepergian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya, kedahsyatan yang sangat mengerikan saat berada di pintu kematian, dan saat berdiri di hadapan Rabb semesta alam, yaitu ketika aku tidak mengetahui apakah aku akan dikembalikan ke surga atau ke neraka.

Kuharap risalah ini memperberat timbangan amal kebaikanku kelak. Pada hari di mana harta dan anak takkan berguna kecuali orang yang menghadap Allah Ta’ala dengan hati yang selamat.
 Wallahu’alam.

“ana sudah tidak sanggup lagi akh, mendingan ana mengundurkan diri….”

Diambil dari Tulisan Bang Edi Purnama (Jakarta)
Oktober 11, 2010
Meniti jalan profesional (Itqonul amal..)

“ana sudah tidak sanggup lagi akh, mendingan ana mengundurkan diri….”

Demikianlah bisikan seorang ikhwan di tengah syuro yang berlangsung cukup ‘memanas’. Suara ikhwan di balik hijab pun kian tinggi saja, bersahut-sahutan dengan sanggahan seorang akhwat di sisi lain.

Menjelang hari H, masih banyak pekerjaan panitia yang belum tuntas. Bagi segelintir panitia, P4L (pergi pagi pulang pagi lagi) tampaknya jadi kemestian. Dan hari itu tibalah, jumlah peserta melebihi target dan seluruh pendukung acara hadir, Alhamdulillah. Acara selesai dan dianggap lumayan sukses walau menyisakan hutang hingga bilangan jutaan.

“Dari mana kita melunasi hutang itu akh..?”

“Kita minta sama Allah”

Ba’da itu, sebagaimana tiap usai sebuah kegiatan, diadakanlah muhasabah. “Mari bersama-sama kita lapangkan dada serta membuang semua prasangka yang bisa merusak keikhlasan hati. Hendaknya selesai dari sini, kita semakin dikuatkan, semakin kokoh sebagai rijalud dakwah. Bukan sebaliknya…”, demikianlah taujihat ikhwan yang bertindak sebagai Steering Committee (SC). Sore itu masing-masing panitia bersalaman, berpelukan, dan ada juga yang terharu sambil bergumam, “Gak nyangka ya, ternyata Forkalam bisa melakukan acara ini, padahal keuangan kita hanya sedikit…hmm”.

Ini bukan penggalan fiksi, dan kisah di atas sebenarnya masih panjang lagi. “Kasus-kasus” klasik tentang kerja yang terdistribusikan hanya pada sedikit orang, Oknum panitia yang tidak amanah, ‘gesekan-gesekan’ antar personal, dan masih banyak lagi yang ikut menghiasi kinerja kepanitiaan itu.

Belum lagi berbicara tentang ‘penzholiman’ terhadap keluarga, orang tua dan saudara di rumah yang juga harus sering menahan kedongkolan karena jomplangnya perhatian sang aktivis antara dakwah di kampus dengan perhatian terhadap keluarga. Belum lagi ancaman mengulang kuliah gara-gara sering ditinggal manakala ada agenda, dan pada yang sama terngiang jargon : “Jasad kuat, dakwah hebat, IP 4”

Kalau sudah begini, alih-alih mensugesti diri dengan kalimat tauhid “ innallaha ma’ashshobirin”, bisa-bisa yang terucap malah :”pusiiiiing!…..”

Mari kita berbenah….



Al-Insaan

Prinsip Al-Insaan yang kita pahami adalah bahwa setiap manusia punya tiga potensi : hati (ruh), otak (aql), dan jasad. Kelengkapan tiga potensi ini merupakan syarat mutlak bagi seseorang agar berdaya secara utuh.

Walaupun konsep ini sudah jadi santapan sejak awal tarbiyah (pembinaan), namun realisasinya memang tak seindah dan semudah yang dibayangkan. Tuntutan untuk bisa menjadi da’i yang itqon (professional) dan cerdas berbarengan dengan tuntutan untuk menjaga hubungan antar manusia.

Pada saat seorang da’i terjun dalam aktivitas dakwah ammah, itqonul amal tampaknya memang jadi keniscayaan. Berbekal hamasah untuk meninggikan izzah diennya, profesionalisme menjadi kata yang ditulis besar-besar dalam buku agenda.

Walau demikian, jangan lupa da’i (yang notabene adalah manusia juga) bekerja dengan manusia juga. Dan tidak semua tipikal manusia bisa bekerja secara otomatis, layaknya mesin. Ada manusia yang begitu perasa dan ada pula yang sangat teoritis. Ada yang unggul dalam penguasaan fikroh, ada yang unggul dalam rutinitas ibadah mahdhah. Begitu seterusnya. Begitu beragamnya manusia, hatta manusia yang sama-sama tertarbiyah.

Anyway, once again, basically all human beings need to be filled in those three potentions. Semuanya butuh asupan untuk memenuhi keseimbangan fungsi-fungsinya. Maka, manakala seorang da’i menjadi “mati rasa”, menjadi sedemikian mekanis layaknya mesin, ia perlu ingat bahwa mesin pun butuh pelumas.

Kesuksesan sebuah amal dakwah, taruhlah sebagaimana kegiatan pada kisah di atas, tidak dapat di ukur hanya dari variabel-variabel yang kasat mata. Membludaknya peserta atau peliputan berbagai media massa, tidak cukup menjadi indikator sukses sebuah amal dakwah apabila menyisakan hubungan yang retak. Ukhuwahlah yang seharusnya mampu menjadi pelumas mesin itu. Dan ukhuwah, sangat terkait dengan ikatan hati (ta’liful qulub), terkait dengan kemampuan untuk berhubungan secara interpersonal. Sedangkan kekuatan hati itu tergantung pada quwwatus sillah billah (kekuatan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya).

Demikian pula, da’i tidak bisa berkutat pada hubungan interpersonal semata dengan mengabaikan kerja-kerja teknis yang dibutuhkan bagi sebuah seminar, aksi, atau agenda lainnya agar menjadi sebuah kegiatan yang layak. Kegiatan itu toh juga butuh pasukan yang jiddiyah mencari dana, menyebarkan publikasi, menata setting acara, dan kerja-kerja operasional lainnya.

Semestinya tidak ada potensi manusiawi yang terdzolimi demi memenuhi yang lain. Mendzolimi hati bisa berakibat turut terdzoliminya fikri dan jasmani. Demikian pula sebaliknya.

Berharap bisa professional, namun mengesampingkan kedekatan hati, baik antar personal maupun dengan Khaliknya, maka rasa-rasanya itu pun termasuk kezholiman.



Ketawazunan Jama’i

Oleh karena itu dalam setiap aktivitas yang melibatkan insan, sekompleks apapun kondisinya, seberagam apapun kasusnya, insya Allah akan menjadi aktivitas yang sukses tidak saja secara lahiriah namun juga kesuksesan secara yang hakiki, asal masing-masing dari ketiga potensi itu dipenuhi kebutuhannya secara adil. Dan bukankah itu adalah itqonul amal yang sesungguhnya?.

Dengan begitu, konsep ketawazunan dalam Al-Insaan hendaknya dipahami sebagai konsep yang tidak berlaku fardhi atau bagi orang per orang saja, namun lebih kompleks lagi juga berlaku di dalam sebuah sistem amal jama’i.

Yakinlah bahwa teori yang indah di atas kertas itu juga bisa terwujud di lapangan bila setiap da’i tak hanya taat mengikuti ta’limatnya, melainkan juga taat mejalankannya.

Bila penzholiman demi penzholiman ini masih terjadi juga, maka mungkin di sela-sela kepenatan beraktivitas dakwah, kita perlu berkontemplasi sejenak. Perlu membuka-buka lagi lembaran madah liqo’at kita, dan tentunya juga membuka mata dan hati kita.

Sebagaimana jingle iklan sebuah kopi instant: “Buka mata, buka hati, buka pikiran…”

Sesungguhnya bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Wallahu’alam.

(Materinya diambil dari majalah Al-Izzah)

———

Edi Purnama

Februari 2010

terima kasih pada semua pihak yg telah menginspirasi…