Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Mei 2012

Sesaat setelah bunga mawarku tak lagi mekar



Ah.. terlalu malam untuk aku kabarkan
Tentang semuanya
Maka cukuplah sudah
Diselesaikan saja
Toh kau memang tidak akan pernah datang

Malam ini mawar-mawar ku kembali mekar
Warnanya merah merekah cantik
Semoga besok hati ku bisa seperti bunga mawarku
Walau keraguan lebih besar dari keyakinan ku

Kemarin malam kau datang disaat kemarahan ku masih memuncak
Jika hari ini atau lusa kau datang lagi
Maka perlu kau tahu hati ku masih membeku
Mawarku masih berwarna merah
Itu artinya hati ku pun masih merah
Merah seperti kemarahan ini
Yang aku tak tahu siapa pengukirnya

Aku ingin sekali membenci nya, bahkan sangat membenci
Tuhan bantulah aku membencinya
Sesaat setelah bunga mawarku tak lagi mekar

Selasa, 01 Mei 2012

Hitam Putih Pendidikan Indonesia




Hitam Putih Pendidikan Indonesia


Net
Setiap tahun dapat kita saksikan di Indonesia, dan mungkin memang hanya di negeri ini saja, selepas pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) maka dapat kita lihat pemandangan yang membuat miris. Ratusan bahkan ribuan pelajar tumpah ke jalanan, melakukan aksi corat-coret baju seragam dengan berbagai warna, selepas melakukan itu maka mereka akan konvoi berkeliling dengan sepeda motor yang tentu saja akan membuat macet jalanan. Kegembiraan setelah mendapat pengumumam kelulusan ini akan bertolak belakang dengan teman teman mereka yang justru gagal melaksanakan ujian, bahkan banyak diantara mereka memilih jalan pintas akibat kekecewaan itu dengan bunuh diri. Belum lagi melihat “hobby” tawuran anak Indonesia yang sudah sangat parah. Menjadi kebiasaan yang sukar sekali dihilangkan. Lalu coba lihat lagi maraknya seks bebas yang dilakukan oleh anak anak negeri ini bahkan tak jarang di lakukan dilingkungan sekolah.
 Ironi sekali melihat produk dari hasil belajar selama 12 tahun duduk di bangku sekolah. Apakah ini yang diajarkan di sekolah –sekolah di negeri ini. Maka patutlah jika sekarang pemerintah masih berkubang mencari bentuk sistem pendidikan bahkan terkesan meraba raba. Masih  dipertanyakan sistem yang mana yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia, mengapa Negara ini masih “memproduksi” koruptor yang lihai hingga dikatakan bahwa korupsi adalah extraordinary crime yaitu kejahatan yang paling sulit untuk diungkap karena penjahat nya adalah orang-orang pintar.
Belum lagi bicara soal fasilitas, pembangunan yang tak merata menyebabkan akses pendidikan sukar didapatkan, Ribuan Mil dari tempat dimana sekarang kita bisa menikmati segala sesuatu nya dengan mudah maka lihatlah di sudut pelosok Negara ini jauh di lereng bukit sana untuk menempuh perjalanan ke sekolah nya mereka harus  menyeberangi sungai, melewati hutan. Semua dilakukan agar bisa sampai disekolah, maka jangan pernah kita berkhayal bahwa di sekolah –sekolah lereng bukit itu akan kita temui ruang komputer, ruang belajar layak, buku-buku.
Sebagian lagi bahkan harus menerima kenyataan bahwa bersekolah adalah sebuah mimpi yang tak akan mungkin dapat mereka jangkau, maka  keputusan menjadi pengamen, buruh, pengemis, tereksplotasi adalah pilihan yang sebenarnya bukan pilihan hidup mereka. Dari tahun 2010 saja tercatat ada 1,08 juta anak Indonesia putus sekolah, dan ada 3.03 juta jiwa yang tak bisa melanjutkan ke jenjang SMP, SMA dan perguruan tinggi.
Coba kita perhatikan Undang Undang  45  pasal 31 di bawah ini yang  mengatakan bahwa :
1.       Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2.       Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
3.        Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undangundang.
4.        Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
5.       Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Sebegitukah miris kah realita pendidikan di negeri ini, lalu sebenarnya apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan negeri  ini yang seolah tak kunjung selesai. Bicara anggaran maka masih ada dalam mimpi jika anggaran itu sepenuhnya digunakan untuk kepentingan pembangunan di sektor pendidikan. Pengganggaran sebesar 20 % dari belanja negara saat ini hanya habis untuk belanja pegawai saja dan membayar gaji guru berikut perjalanan dinas  padahal dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa anggaran senilai tersebut diluar biaya operasional dan membayar tenaga pendidik. Jika ini terus dilakukan maka akan ada pengabaian hak-hak siswa untuk memperoleh perbaikan kualitas dalam proses belajar mengajar, maka hak untuk mendapat perpustakaan, buku-buku, laboratorium dan gedung layak pakai akan terus terabaikan. Belum lagi jika lagi jika kita bicara bahwa anggaran yang dinilai belum cukup itu di korupsi lagi oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Coba lihat penggunan dana BOS yang diduga telah di korupsi dengan dana yang fantastis bahkan BPK mencatat ada 2.592 sekolah (62,84 persen) tidak mencantumkan seluruh penerimaan dana BOS dan dana pendidikan lainnya dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Nilainya mencapai Rp 625 miliar. Dana BOS Rp 28,14 miliar digunakan tidak sesuai peruntukannya. Buku yang dibeli dari dana BOS buku Rp 562,39 juta tidak sesuai panduan, serta sebanyak 47 SD dan 123 SMP di 15 kabupaten/kota belum membebaskan biaya pendidikan bagi siswa miskin.
Net
Oleh karena itu rasanya sudah tak mungkin lagi buat kita menunggu untuk bermimpi melihat Indonesia maju, maka sudah saatnya pemerintah berhenti bermain-main dalam mengurusi persoalan pendidikan di Negara yang tercinta ini, keseriusan pemerintah menuntaskan menjadi harapan semua pihak. Sudah saatnya sekarang sistem pendidikan berubah tidak hanya sekedar menjadikan anak Indonesia cerdas secara kognitif namun yang terpenting dari itu adalah adalah bagaimana sistem pendidikan menjadikan mereka memilki nilai-nilai yang mampu terimplementasi untuk menjadikan pribadi yang mampu merasa dengan hati, pikiran dan jiwa, sehingga nilai yang didapat tidak berhenti menjadi teori saja. Ini lah yang sebenarnya tidak bisa diukur melalui ujian nasional yang menerapkan standar hanya untuk melihat kualitas dari satu sisi saja, maka jika dirasa bahwa UN yang hanya menghabiskan anggaran dan rentan dengan kecurangan ini lebih baik dihapus maka dihapus saja. Pemerintah tidak perlu memaksakan seuatu yang tidak terlalu penting. Kembalikan saja penilaian kelulusan pada sekolah, tentu ini lebih obyektif. Lalu segera mewujudkan secara penuh pelaksanaan pendidikan berbasis karakter tidak hanya dalam kurikulum saja, namun menyeluruh dan penuh. Karena tidak mungkin membentuk manusia Indonesia seutuhnya tanpa membentuk karakter. Dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah mulai saat ini.
Lalu juga mendesak segera memenuhi kelayakan sarana pendidikan di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali, dari Sabang hingga Merauke. Karena ini penting untuk meningkatkan  Kuantitas dan kualitas pendidikan. Akses yang mudah dijangkau, bangunan yang layak pakai, sarana dan prasarana yang bermutu untuk menunjang kualitas. Juga yang terpenting adalah kualitas tenaga pendidik yang mumpuni dan menyadari tugas dan kewajibannya.
 Termasuk disini bagaimana pengawasan terhadap dana pendidikan di rasa sangat penting menjadi perhatian seluruh Rakyat Indonesia, anggaran pendidikan adalah yang terbesar, walau dirasa belum cukup, seharusnya alokasi penggunaan yang tepat mampu mengurangi angka putus sekolah, sehingga berkurang anak Indonesia yang tidak bisa mendapatkan haknya di negeri ini.
Sudah saatnya kita semua menjadi bagian dari perubahan pendidikan di Indonesia, bersama-sama dengan pemerintah tentunya. Tidak mungkin untuk kita berkerja masing-masing tapi sangat mungkin untuk kita berada digerbong perubahan itu bersama-sama. Majunya pendidikan di Indonesia adalah cita-cita yang akan terus kita bangun, karena harapan itu pasti selalu ada.
Majulah Pendidikan, Maju lah negeri ku
Ria Bustanudin
Sekretaris Dept.Kebijakan Publik KAMMI Daerah Riau

Kamis, 19 April 2012

Dina dan Mimpi Sederhananya



Dina dan Mimpi Sederhananya


“Cita-cita ku Cuma satu Kak, aku ingin membahagiakan Apak dan Adi, Aku ingin membelikan Apak ku rumah dan mengajak nya tinggal bersama ku. .” ujarnya kepada ku siang itu di kamar sempit berukuran 3x4 di rumah kontrakan yang disewanya bersama dua orang akhwat lainnya. Mata ku sejak tadi telah berkaca-kaca mendengarkan cerita nya. Tak dapat kubayangkan jika aku mengalami nasib seperti Dina. Kedua orang  tua nya telah berpisah sejak Dina berusia 7 tahun, dia, adik dan ayahnya kembali ke Riau setelah perpisahan tersebut. Dina dibesarkan oleh Apaknya yang sekarang berumur 69 tahun dan seorang adik laki-laki yang baru saja menamatkan sekolah di bangku SMA. Kesulitan ekonomi keluarga tidak menjadikan Dina sebagai orang yang egois. Apaknya hanyalah seorang buruh kasar di kampung, dengan gaji yang tidak banyak Apak hanya bisa mengirimkan uang seadannya bahkan lebih sering kurang. Demi mencukupkan uang kuliahnya Dina menyambi bekerja sebagai guru les dari rumah ke rumah setiap malamnya. Namun apa yang membuat ku selalu iri padanya adalah semangat dan pengabdiannya kepada KAMMI selama ini.  Aku mengenalnya  5 tahun yang lalu, perkenalan itu dimulai ketika kami diutus untuk pergi seminar sosialiasi UU Pemilu  di hotel Sahid kami utusan dari BEM FKIP UIR, saat itu aku tak terlalu mengenalnya, begitu pun kurasa dia.
Diawali dengan perkenalan manis itulah aku semakin akrab dengannya, berada bersama di satu departemen membuat kami semakin dekat. Tentang sebuah semangat aku selalu belajar banyak dari beliau. Aku mengenalnya sebagai kader KAMMI yang sangat bisa dihandalkan. Apapun itu padanya aku bisa berharap, dan aku tahu betul bahwa dia telah menyerahkan hidupnya untuk berjuang di KAMMI. Sering kulihat dia menangis seorang diri, memikirkan Apak dan adiknya di kampung, mengingat bagaimana dia ditinggal oleh Ibunya. Tak terkira kebahagiaannya ketika suatu waktu dia menginap dirumah ku, ketika akan berpamitan pergi, Mama memberikan kami masing-masing selembar uang dua puluh ribu rupiah untuk ongkos di jalan, kulihat kebahagiaan di wajahnya..ah.. bagaimana jika aku yang harus kehilangan ibu ku. Akan kah masih bisa kukecap bahagia, masihkah bisa aku berdiri tegap memikirkan orang lain, membantu orang lain, namun seorang Dina telah berhasil membuktikan kepada ku bahkan kepada dunia bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memberi kepada orang lain.
Setahun yang lalu teringat oleh ku pasca kemenangan kami di BEM Universitas, empat tahun kurang kami bertungkus lumus menyelesaikan sengketa BEM, mulai dari jaman Bang Effri hingga kemudian BEM kembali kami  “kuasai” kepercayaan tersebut di letakkan kepada salah seorang kader  terbaik yang kami miliki di kampus. Sebut saja namanya Bang Tomi. Selepas kemenangan itu maka saatnya kami menyusun “formasi cantik”. Bang Tomi sering berdiskusi dengan ku tentang penempatan-penempatan kader yang akan membantu nya di BEM, beberapa nama ikhwan dan akhwat menjadi target sasaran. Saat itu melalui forum akhwat beberapa nama aku ajukan kepada Bang Tomi, mulai dari si A hingga Z. tentunya kami tidak sembarangan meletakkan nama, memilih yang terbaik dari yang terbaik, belum lagi pembagian posisi untuk beberapa lembaga lain yang kami pegang. Dina nama yang sebenarnya kuharapkan untuk berada bersama kami di BEM universitas namun hingga detik di penghujung keputusan namanya belum kudapatkan dari para senior akhwat kampus, lobby terus kulakukan saat itu, beberapa kali kuyakini kakak – kakak itu bahwa Dina pasti bisa duduk di sana. Saat itu memang yang kuharapkan adalah Dina masuk menjadi pengurus BEM. Sosok akhwat yang bagi ku paling cocok untuk bertarung di lembaga siyasi kampus. Jarang ada akhwat yang seperti nya, orangnya yang supel, energik, tidak banyak mengeluh, bisa diharapkan dan tahu betul bagaimana menghadapi dinamika jika ditempatkan bersama dengan orang umum.
Teringat kembali olehku di tahun 2009 ketika kami mencari utusan untuk mengikuti pelatihan.  Ketua BEM fakultas ku  membutuhkan dua orang akhwat untuk kesana, dia mengamanahkan ku untuk mencari orangnya, entah mengapa lagi-lagi hati ku terpaut kepadanya, lansung saja ku sms dia saat itu, tak lama setelah itu sms balasan kudapatkan. Dan jawabannya sangat menyenangkan. Yak.. kesediaan nya tanpa tahu pelatihan apakah itu dia lansung menyanggupi. Itulah yang senantiasa membuat ku bangga kepadanya karena kutahu betapa sulitnya menemukan akhwat yang seperti dia di sini.  Kembali ke cerita BEM universitas ku, aku pun kembali berusaha untuk memasukkan nama Dina kedalam jajaran pengurus, entah alasan apa yang membuat kakak – kakak senior itu sedikit berat memasukkan nama Dina, apakah karena ketakutan dengan stigma yang suka menghubung  hubungkan keberadaan seorang kader jika ditempatkan di ammah akan futur  ada –ada saja menurutku.
Waktu ketika itu terus berjalan, tak lama lagi nama-nama pengurus BEM baik akan segera dipublikasikan, namun izin penempatan Dina belum juga keluar. Seminggu sebelum struktur dibentuk oleh Bang Tomi akhirnya dengan kenekatan kami Dina di masukkan dalam kepengurusan, resiko adalah  masalah nanti. Bagi  ku potensi seorang Dina tidak boleh tidak dimanfaatkan. Karena ku tahu kerja Bang Tomi bukanlah kerja mudah, ibarat kapal maka tugas Bang Tomi adalah memperbaiki kapal yang telah rusak total oleh karena itu butuh orang-orang yang bisa membantu nya.  Kenekatan melanggar aturan jamaah terpaksa diambil, melalui diskusi bersama Dina sore itu kukatakan padanya bahwa dia harus masuk di BEM, dia harus membantu, dan ini pasti berat. Lagi-lagi Dina tanpa banyak sanggahan mengatakan kesiapannya. Air matanya  mengalir, kutahu pasti saat itu dia tengah membayangkan Apak dan Adi harta yang paling berharga yang dimilikinya di dunia ini.
Banyak hal yang kulewatkan bersama Dina, di tahun 2010 hingga 2011 kami bersama-sama duduk sebagai badan pengurus harian di KAMMI Komisariat, wajahnya selalu ceria menyambut kami di setiap pagi nya di sekretariat pengabdian yang kami cintai, saat itu pemikirannya bagai mutiara di lautan, lagi – lagi aku selalu merasa Dina adalah sosok yang luar biasa, lahir dari kekurangan dan dibesarkan oleh cobaan demi cobaan  yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.  Kehilangan kasih sayang ibu lalu kemudian terpisahkan hingga saat ini tanpa ingat sekalipun dengan wajah sang Ibu, lalu seorang ayah yang sangat menyayangi nya yang senantiasa  menanti kepulangan Dina, lalu memiliki seorang adik yang sangat merindukan Ibunya, seorang adik yang pernah suatu ketika ditemui nya di pasar  sedang membersihkan kulit bawang demi upah lima ribu perak.
Dan Dina bukanlah seorang aktivis dakwah kecengan, yang hanya karena keterbatasaan lantas meninggalkan jalan perjuangan yang berliku ini, tidak sedikit aktivis yang melakukan hal ini. Namun aku tahu Dina bukan lah akhwat seperti itu, lagi-lagi kuingat ketika Dina yang saat itu diutus oleh KAMMI untuk menjadi panitia persiapan PEMIRA di kampus, tentunya Dina tidak boleh memihak kepada salah satu pasangan dia harus menjaga indepedensinya, pagi itu di bulan Desember 2010  hari terakhir kampanye pasangan calon , semua pendukung Bang Tomi dan Rino yang mayoritas berasal dari anak KAMMI dan LDK kampus yang menjadi pendukung setia telah bersiap-siap untuk melaksanakan kampanye akbar demi memberi dukungan dan mendulang suara, tiba-tiba si Dina muncul dengan atribut anehnya, kacamata besar, dan muka ditutup sapu tangan tak lupa jaket. Aku tahu betul Dina pasti tidak bisa menahan gejolak semangat nya untuk turun bersama kami pagi itu, senyum bangga tersungging di bibir ku, Ah.. Dina betapa aku bangga padamu.
Kini Dina masih setia menemani Bang Tomi di BEM, tanpa melupakan posisinya sebagai seorang koordinator di salah satu departemen di Komsat, setiap hari sembari menyelesaikan Proposal nya Dina masih tetap setia, tak ada waktu berleha-leha baginya, siapa pun yang membutuhkan bantuannya pasti akan dibantunya. Bersama-sama dengan akhwat komsat lainnya Dina membimbing adik-adiknya untuk menjadi akhwat tangguh dan kuat.  Terakhir kulihat dia berpeluh-peluh membantu panitia dalam pelatihan kepemimpinan tingkat daerah, setiap saat mencuci piring yang kotor dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk peserta pelatihan, namun tak kuasa pula ketika kulihat dia terkapar di kamarku sore itu di hari kedua pelatihan, dengan wajah penuh minyak dan kusam, Dina masih tetap saja tersenyum dan masih bisa bercanda dengan ngocol gaya khas seorang Dina.
Ah..Dina sosok akhwat militan yang luar biasa, bersama dengannya aku punya banyak harapan, sejak dulu aku paling bisa menghandalkan Dina, menggalang massa dari kampus untuk pergi aksi menjadi perkerjaan yang menyenangkan bagi kami, undangan seminar dari kampus lain pun disanggupinya, menjemput pembicara  dari ujung ke ujung pun tak masalahnya baginya. Walaupun letih sering menghampiri namun Dina tetap melaksanakan kewajiban, setelah seharian beraktivitas malamnya dilanjutkan lagi dengan bekerja. Ah.. Dina andai saja Ikhwah-ikhwah cengeng itu tahu bagaimana semangat nya kamu seharusnya mereka malu.
Mengutip sebuah kalimat di buku “mengapa aku mencintai KAMMI”  yang menuliskan tentang semangat akhwat-akwhat KAMMI maka Dina adalah satu dari ribuan akhwat militan itu, dia adalah bunga haroki yang mana diamnya adalah mati, teringat bagaimana ketika Asma` binti Yazid bin Sakan  ditunjuk sebagai juru bicara mewakili perempuan di masanya menanyakan tentang posisi perempuan di mata Allah maka Rasulullah menjawab bahwa bakti dan patuh  kepada suami  lah yang akan menghantarkanya mendapat pahala setimpal dengan yang didapat oleh laki-laki yang pergi berperang. Asma yang setelah Rasulullah wafat turun ke medan perang bersama para wanita lainnya, dia berada di antara kobaran semangat perang Yarmuk saat itu. Asma mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka diantara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Maka tidak ada alasan bagi seorang akhwat untuk bermanja-manja kerjakan apa yang bisa dikerjakan, pekerjaan rumah bangsa ini begitu banyak ketika pekerjaan itu membutuhkan banyak orang maka akhwat harus mengambil peran di sini, jika seorang Khadijah mampu menjadi penopang dakwah Rasulullah di masa awal maka akhwat pun harus demikian, jika seorang Cut Nyak Dien tidak sedikit pun gentar menghadapi Belanda masa itu maka saat ini tidak perlu ada yang kita takuti dalam perjuangan ini.
Akhwat KAMMI di tempa menjadi akhwat tangguh yang senantiasa berada di garda terdepan memimpin kaumnya, membela harkat dan martabat wanita. Seorang perempuan tangguh pasti akan melahirkan generasi yang tangguh pula, seorang perempuan yang rapuh akan melahirkan generasi yang rapuh pula.
Dina dan akhwat-akhwat KAMMI lainnya adalah inspirasi bagi yang lainnnya dalam keterbatasan hidup keluarga Dina tetap tampil menjadi aktivis sejati. Mimpinya untuk membangun kebahagiaan bersama Apak dan Adi adalah mimpi yang dibangun diatas mimpinya untuk mendedikasikan hidup untuk jalan dakwah ini. Untuk Negara Indonesia, untuk Bumi pertiwi.
*Apak : Panggilan untuk Ayah
 
My Dedication :
 For All Akhwat di Universitas Islam Riau My Lovely University, I Love You so Much Ukh..
u/ mereka yg pernah  merasakan bahwa berada “sendirian” di BEM FKIP dan UNIV itu sangat menyenangkan
u/ mereka yang pernah dan masih ada Di komisariat Al Adiyat UIR,
menyenangkan ^_^, dan u/ adik – adiku yang sekarang di sana
 juga u/ akhwat Aklamasi ku (Evi , Kak Desi, Mbak Irfa, Uni Rini, Amie, Iis)
untuk semua Kakak dan adik-adik di UKMI Asy Syuhada ( Ngaji yuk..)
 Last..
Hey.. Ukhti I am Love you so Much too..Ya..You in KAMMI Daerah Riau (Meri, Ilam, Lusi, Inung,Anggie, Ezi, Ana, Ises, Evi,  Kak Fizoh, Kak Siti, Mbak Ijum, Lilis, Silvi, Batdal, and all) Memori malam minggu bersama kalian tak akan terlupakan, Jepangmu, Qatarmu, UI mu, malaysia yg kau tuju, jumpa kita di cita-cita agung itu ^_^

Oleh Ria Bustanudin
Staff Kebijakan Publik KAMMI Daerah Riau


Jumat, 23 Maret 2012

rasa cinta yang tidak boleh takluk di atas cinta kepada Allah


Hidup adalah perjuangan itu pasti, perjuangan untuk menjadi lebih baik, perjuangan untuk dewasa secara pemikiran dan  tujuan, perjuangan untuk mempertahankan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran itu sendiri. Hidup juga adalah tentang mimpi dan cita-cita, tentang keyakinan. Hidup itu adalah bagaimana kita menjadikan visi hidup itu untuk kebaikan dan kebermanfaatan untuk orang lain. Mengubah nilai menjadi perilaku. Mengubah cita-cita menjadi kenyataan, mengubah mimpi menjadi satu hal pembuktian bahwa mimpi itu harus dan mewujudkannya adalah mutlak. Apapun itu jalan kehidupan yang dipilih adalah jalan yang kita pastikan bahwa itu adalah jalan menuju keridhoanNya. Inilah yang kemudian membedakan kita dengan makhluk Allah yang lain yang diciptakannya di alam raya ini. 
Begitu juga tentang pilihan  di perjalanan ini. Mungkin tak ada pantas nya jika kita mencari kesempurnaan itu dalam bentuk fisik dan materi saja, walaupun itu bisa-bisa saja namun bukan kah hal mutlak yang harus menjadi standard untuk menentukan pilihan hidup. Materi bisa dicari, fisik bisa dipoles tetapi karakter tidak bisa di beli disembarang tempat. Penyesalan mungkin bisa saja terjadi tapi haruskah kita dibayang-bayangi oleh ketakutan akan salah memilih  pilihan itu. Jalan hidup telah saya pilih oleh karena itu pada sebuah pilihan  hidup maka sudah pasti bahwa saya hanya memilih sesuatu yang juga meletakkan pilihan hidup nya pada jalan yang sama dengan jalan yang saya tempuh. Jika visi saya dan dia sama maka mari kita jalani kehidupan ini atas keridhoannya. Pernah saya berpikir dulu bahwa dia itu haruslah seseorang yang sempurna, dia yang saleh, dia yang militant namun perjalanan ini juga ternyata mengajarkan bahwa syariat diatas segalanya. Dia tidak harus sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna.
        Pernahkan kita perhatikan pada siapa burung belajar terbang, pada siapakah ikan bertanya mengapa untuk hidup dia berenang tentu Allah lah yang telah mengatur semua itu mengajari rasa cinta pada  makhluknya, rasa cinta yang tidak boleh  takluk  di atas cinta kepada Allah. Maka pertemuan dengan seorang yang juga cinta nya atas cinta pada Allah adalah pertemuan yang terindah dalam hidup ini, dia yang telah mematrikan hidupnya untuk Allah dan Rasulullah, untuk mati syahid di jalannya. Dia yang lemah lembut kepada orang lain, dia yang bisa menempatkan sebuah kecintaan pada porsinya, dan dia yang sadar betul bahwa dia dilahirkan di Indonesia negeri yang Allah telah takdirkan kau dan aku di lahirkan karena kesadaran penuhmu itu maka nya kau pun bekerja untuk kejayaan negeri ini.
        Nafsu dan cinta sangat tipis perbedaannya, diantara perbedaan itu lah banyak manusia yang terjebak. Maka hanya pada Allah kita kembalikan keseluruhan jiwa ini, bagaimana perbedaan setipis kulit bawang itu tidak menjadi penghantar kita ke nerakanya.
        Mimpi dan cita-cita pun adalah satu, ah..alangkah bodohnya jika kita tidak berani bermimpi. Maka sia-sia lah kehidupan di dunia ini. Aku pun punya mimpi, mimpi selepas ini. Biarlah senja di tepi khatulistiwa itu yang kuberikan cerita tentang nya, tentang mimpi, tentang dia dan tentang aku.
        Aku tidak ingin mengkhianati siapapun dalam perjalanan hidup ku, maka akan aku berikan penghargaan pada kehidupan itu sendiri. Biarkan ku baktikan hidup pada cita-cita itu. Biarkan kita terus berkarya yang kelak akan kita persembahakan di nisan terakhir hidup untuk menjadi kenangan peradaban tentang seorang saya, kamu, dan kita. 


Ria Bustanudin
Pekanbaru

Disini pernah ada rasa simpati
disini pernah ada rasa mengagumi
Rasa ingin memilikimu
Memasukkanmu kedalam hati ini
Menjadi penghuni…..

Mencoba berlindung dibalik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri…
Namun ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku tertipu….

Reff :
Tuhanku, berikanku Cinta yang Engkau titipkan
bukan Cinta yang pernah kutanam

Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi Cinta Perawan
Cinta yang hanya kuberikan
Saat Ijab Qobul telah tertunaikan
(Maidany)

Bukan Buat siapa-siapa ini hanya buat renungan saya.... ^_^

Rabu, 14 Maret 2012

Belajarlah dari Perang Tabuk




Belajarlah dari perang Tabuk
Ria Bustanudin

Perang Tabuk terjadi pada saat musim paceklik, terjadi pada tahun 8 Hijriyah. Kondisinya saat itu sangat panas luar biasa. Lalu di tempat lain masyarakat tengah menunggu panen buah-buahan.   Ketika seruan jihad memanggil  ketika para sahabat bersiap-siap untuk segera pergi berjihad, mengasah pedang, mempersiapkan bekal, merawat kuda yang akan bertarung di medan perang. Ketika semua sibuk Ka’ab Bin Malik justru tidak terlihat bersiap-siap dia masih ragu apakah akan berangkat atau tidak. “Aku akan bersiap-siap setelah satu atau dua hari, lalu menyusul mereka”. Ketika keesokan harinya tiba dan kaum muslimin telah berangkat, aku bermaksud melakukan persiapan, namun aku tidak mempersiapkan sesuatupun.” Ujar Ka’ab Bin Malik. Hingga akhirnya ka’ab bin malik pun tidak turut serta saat itu.
Allah mengabadikan suasana saat itu dalam surat At Taubah ayat 43 saat itu Allah menegur Rasulullah yang menerima alasan Ka’ab Bin Malik untuk tidak pergi berperang. Hingga kemudian Ka’ab pun menerima hukuman dari Rasulullah atas kelalaian nya. dia diisolasi dari jamaah selama kurang lebih satu bulan  juga dipisahkan dari istrinya.
 Perang Tabuk mengajari banyak hal, hakikatnya ada dua perang yang saat itu bergejolak terjadi di tubuh para sahabat dan pasukan, perang di internal dalam artian perang ini terjadi di diri mereka sendiri dimana saat perang itu tak lama lagi akan panen buah-buahan, lalu ada yang berangkat setengah hati ketika yang lagi begitu bersemangatnya mempersiapkan semuanya maka dengan setengah hati pula dia mempersiapkan peralatan nya. lalu perang yang kedua dalam artian sebenarnya yakni perang di medan laga.
Kasus Ka’ab bin malik ini tentu sangat kompleksitas, Ka’ab bin malik yg lansung ditarbiyah oleh Rasulullah bisa-bisa nya  meninggalkan kewajiban  untuk turun perang saat itu. Lalu bagaimana dengan saat ini berapa banyak yang memberikan alas an untuk tidak turut berjuang ke medan juang, dengan alasan apa mereka enggan, apakah kesibukan duniawi atau kemalasan yang diperturutkan . Berapa banyak dari kita yang membiarkan saudara kita turun sendirian mengurusi masalah umat. Lalu berapa banyak pula  yang turun namun dengan setengah hati, bukannya malah menambah kekuatan malah membuat kacau segalanya.  Jika pada saat itu di perang Tabuk Rasulullah kehilangan Ka’ab Bin malik yang enggan turun dan beberapa yang lainnya maka Tanya lah pada hari ini berapa ratus jumlah mereka yang lebih memilih kenikmatan di rumah daripada menemani saudaranya berjuang. Jika saat itu jumlah nya hanya 3 atau 4 orang maka pada hari ini bisa ribuan jumlahnya. Sementara, kita hari ini telah luput dalam banyak absen di medan dakwah, hilang di banyak kesempatan. Kita absen dan tidak hadir bukan pada satu, dua atau tiga medan ketaatan, tapi mungkin puluhan, ratusan, ribuan, atau mungkin lebih dari itu. Tapi kita belum juga menangisi itu semua. Ingatkah ketika beberapa kaum faqir pada saat itu menangisi menemui Rasulullah untuk diajak pergi perang dengan peralatan seadanya. Lalu kemana air mata penyesalan kita ketika banyak hal telah kita tinggalkan. Padahal tahukan kita bahwa saat itu Sahabat Rasulullah saw, Umar bin Khattab menyerahkan separuh dari hartanya, sedangkan Utsman menyerahkan 300 unta dan 1000 dinar untuk membiayai perang.
Lalu teringat pula ketika Hukuman (iqob) diberikan kepada Ka’ab Bin malik, maka atas keimanan nya kepada Allah walau telah digoda oleh kaum kafir Quraisy namun tidak sedikit pun dia goyah.  Dia menerima semua hukuman yang diberikan kepadanya.
Dan terakhir mari Tanya pada diri sendiri, jangankan menyesali keabsenan kita, kebesaran jiwa kita untuk menerima hukuman atas kelalaian pun kita anggap sebagai angin lalu. malah hukuman kita jadikan alasan untuk keluar dari barisan ini lalu balik menyerang. Lalu mengapa semua ini bisa terjadi tahukah kenapa Mungkin ini terjadi bahwa kita belum tulus berjuang di jalan-Nya.
Wallahualam Bis shawwab

Ria Bustanudin
Staff Kebijakan Publik KAMMI Riau
Terima kasih kepada ketua KAMMI Riau untuk inspirasinya di       Kajian Pengurus KAMDA Riau  
Semoga bermanfaat
Pekanbaru/ 13  Maret 2012



Sabtu, 18 Februari 2012

Lumbung Mas Hari itu bersama Mereka...


Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu

Indonesia …
debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga

biarpun bumi bergoncang
kau tetap Indonesiaku
andaikan matahari terbit dari barat
kaupun tetap Indonesiaku
tak sebilah pedang yang tajam
dapat palingkan daku darimu
kusingsingkan lengan
rawe-rawe rantas
malang-malang tuntas
denganmu …

Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia …
debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga
Indonesia …
merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia …
nada laguku, symphoni perteguh
selaras dengan symphonimu

Waktu telah menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit, tapi masih saja  di kampus alamat  telat lah ini ceritanya.  Agenda  selanjutnya selepas dari kampus adalah mengikuti rapat alumni pelatihan Kementrian Pemuda dan Olahraga kami berjanji bertemu di rumah makan Padang  yang bernama Lumbung Mas di sekitar kampus UNRI.
Berbekal kepercayaan diri saya pun berangkat menuju tempat pertemuan, alhasil tanpa peta dan pengetahuan pasti dimana tempatnya dalam keadaan terlambat saya tidak menemukan rumah makan yang dimaksud, Putar-Putar aja sekeliling kampus UNRI tanpa juga berinisiatif bertanya pada orang lain. Akhirnya setelah menelepon Mbak Lusi sang Koordinator tempat yang dilantik  dadakan saya tiba di depan rumah makan yang menjual makanan padang ini. Lansung menuju lantai II tempat pertemuan.
Wuaaahhh..ternyata teman-teman udah pada hadir dan bersiap-siap untuk makan, di meja makan telah tersedia  hidangan makanan berbagai macam , tanpa basa basi Mbak Lusi lansung menawarkan saya untuk makan, sebenarnya saat itu \ masih kenyang sih..tapi ya.. mau gimana lagi susunan agenda kan sudah diatur rapi otomatis harus patuh pada jadwal, yang mana sesuai jadwal agenda pertama adalah makan. Berbagai  jenis makanan tersedia di atas meja, mulai dari Ikan Asam Pedas, Gulai daging, ayam goreng, sayur, lalu juga ada Gulai daun Ubi Tumbuk yang Khas dari Sumatra Utara walau ada terasa pahit ketika makan nya tapi gulai ini saya rasa cukup best dan fresh  dibandingkan Gulai dan sayur lain yang penuh dengan rempah dan minyak.
Ternyata masih ada juga yang telat, tak kirain saya yang paling telat. Harusnya hari ini  saya gak telat, dari rumah udah on time banget, tujuan pertama memang ke kampus dulu  untuk minta Cap di TU FKIP, setelah itu baru  ke tempat pertemuan, namun ternyata Allah berkehendak lain, Alhamdulillah di kampus saya bertemu adik-adik  yang dulu sama –sama aktif di organisasi, pertemuan dengan mereka dalam bentuk silahturrahmi seperti ini memang menyenangkan, terasa persaudaraanya walau jarang bertemu, saling menyapa, menanyakan kabar menyatu dalam kerinduan. Dan tak lupa  bertukar pikiran, seperti pagi ini senangnya bisa bertemu dengan Tari yang baru muallaf setahun lalu, Tari adalah anak yang semangat menuntut Ilmu, alhamdullillah walau baru masuk Islam Tari sudah memakai jilbab dengan Rapi. Yang lebih menyenangkan lagi Tari bercerita kepada saya bahwa sekarang dia belajar mengaji setiap seminggu dua kali. Wah.. senang sekali mendengar nya, tidak setiap muallaf bisa seperti Tari yang banyak mendapat bimbingan. Semoga ALLah selalu membimbingnya.
Dan berkah lain di pagi itu adalah bisa bertemu dengan Rizka Mahasiswa Biologi angkatan 2007, dulu pernah sama-sama di BEM FKIP selama setahun, senang nya mendengar kabar kalau tak lama lagi dia akan ujian Kompre..wah..selamat ya, berkah makin bertambah ketika melihat kesibukan pengurus BEM FKIP membuka bazaar kegiatan  seminar mengangkat tema tentang pendidikan berkarater. Ya..sejak lama BEM FKIP memang fokus pada isu pendidikan berkarakter sejak tahun 2009  setiap kegiatan kami dulu selalu mengusung tema karakter, saya ingat ketika tahun 2009 BEM FKIP membuat seminar tentang pendidikan berkarakter dengan  3 orang pembicara walau kemudian yang datang hanya satu orang pembicara yaitu Anggota DPRD Kota Fadri AR. Kehadirannya menghangatkan acara pada saat itu. Lalu di tahun 2010, seminar dengan 400 orang peserta  diadakan di PKM kampus, jumlah peserta ini melebihi target panitia, namun ada kebahagiaan yang dirasakan saat itu, yang pasti kami bisa menjawab tantangan dari orang-orang yang mengkritik kegiatan kami di tahun 2009 lalu. kegiatan Ini juga mengangkat tema karakter dengan 4 pembicara dari berbagai kalangan termasuk pemuda. Keuntungan dari acara saat itu di sumbangkan kepada salah satu yayasan yang mengelola sekolah marjinal khusus anak putus sekolah dan anak miskin kota, senangnya saat itu ketika bisa berkumpul bersama mereka menyampaikan sumbangan yang diberikan oleh mahasiswa FKIP. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala setimpal.
Tahun berganti  kini dengan kepengurusan lain dan dengan suasana yang  sudah tak sama lagi dengan masa kepengurusan kami, saya berharap BEM FKIP akan terus maju walau dalam keterbatasan materi..biarlah asal jangan keterbatasan ide dan semangat. Karena jika itu yang telah hilang maka semua akan mati tidak akan ada lagi pergerakan..! tidak akan ada reformasi, maka revolusi akan mati di tangan mereka yang tak lagi ada semangat.
Selesai cap di TU saya bergegas segera menuju parkiran motor namun ternyata Allah masih memberi rizki bertemu dengan saudara yang lain, ya di lorong kampus saya bertemu dengan Arik, kader kampus satu ini memang sangat semangat sekali, dia aktif di lembaga umum kampus bagi saya semangat nya ini perlu di apresiasi. Tidak semua anak Rohis kampus mau terjun ke organisasi umum jumlah nya sangat sedikit sekali. Perjuangan orang-orang seperti Arik ini tidaklah mudah, mereka harus lansung berhadapan dengan realita, bahkan terkadang saya lihat mereka harus menyelesaikan urusan keumatan seorang diri, bertikai dengan waktu dalam kesepian orang-orang yang mau menemani.
Selesai makan acara pun kemudian di buka oleh Aan  Koordinator alumni yang sebulan lalu di tunjuk. By the way tempat rapat ini cozy banget, ekslusif seolah-olah disediakan hari ini hanya untuk kami, ada pendingin udara, ruangan kedap suara, disediakan white board juga . Yah..pokoknya nyaman lah. Pertemuan  yang kesekian kali ini dihadiri sekitar 70 % alumni, memang tidak mudah  untuk mendatangkan seluruhnya.  Hari ini harusnya menjadi kesepakatan pembentukan pengurus dan nama dari kepengurusan ini, namun entah mengapa tadi masih saja dibahas apakah perlu membentuk pengurus atau tidak, ya..mungkin berdasarkan berbagai pertimbangan dan ingin memilki semangat baru dengan nama baru maka keputusan di kembalikan ke hasil keputusan rapat sebelum nya yaitu pembentukan pengurus. Yang pertama kami menentukan dulu nama untuk alumni ini, cukup alot karena memang tidak mudah membuat sebuah nama, bukankah dalam nama ada cita-cita, ada harapan, ada mimpi, ada keterwakilan sosok sang pembawa nama, yang pasti dari  semua itu jangan sampai aja nama nya lucu dan ga’banget seperti usulan alumni yang memberi usulan nama ICBC yang kalo dibaca isi bi si, ini nama kan lucu banget, kurang ada karakter, pas bacanya jadi keinget ama slogannya Cherrybelle yang suka dilatahin ma orang –orang yaitu “cibi..cibi..” emang nya girl band. Sembari rapat beberapa orang Nampak sibuk dengan laptop dan androidnya, berjibaku untuk memposting kegiatan yang tengah berlansung ke dalam facebook, tak lupa beserta gambar nya, koment pun berdatangan ke postingan baru di group,. Yah..zaman udah beda segala sesuatu sekarang bisa diakses dengan cepat melalui tekhnologi terkini, jika saja kita tidak siap dengan perubahan sekecil apapun maka niscaya kita yang akan di tinggalkan zaman“ musuh itu bergerak lebih cepat dalam melancarkan aksinya, dan seharusnya seorang pejuang kebenaran lebih gesit daripada mereka, makanya jangan pernah takut dengan perubahan, perubahan dan kemudahan nya itu jadikan sebagai wadah bukan sebagai sarana.  Setelah beberapa masukan mengenai nama akhirnya diambil keputusan tentang nama Alumni yaitu Komite Pemuda Pembangun Negeri yang disingkat KOMPPAK-Negeri, semua lansung setuju dengan nama ini, lansung dapat feel nya. Setelah berjibaku dengan nama alumni pembahasan dilanjutkan dengan pemilihan struktur pengurus dimulai dari ketua, tentunya pemilihan ketua tidak bisa sembarangan, bukan hanya dilihat dari kualitas tapi juga dari sosok pribadinya yang akan mewakili organisasi yang akan dipimpin, dari beberapa nama yang diusulkan sebagai calon Mulai dari Bantuan, Subhan, hingga Adzroi maka berdasarkan  musyawarah dan keterwakilan kehadiran selama mengawal pembentukan ini maka peserta menyepakati Adzroi sebagai Ketua, mahasiswa Universitas Riau asal Kota Pekanbaru dinilai layak sebagai Ketua, selanjutnya dipilihlah masing kepala- bidang tak lupa Sekretaris dan Bendahara sebagai pemegang peranan strategis. Pemilihan ini tidak lah terlalu rumit , semua berjalan lancar dan penuh kekeluargaan. Ya..bagi kami sebuah kerja untuk negeri ini harus lepas dari kepentingan-kepentingan pribadi, kejujuran pada niat dan tujuan menjadi prioritas, makanya tak perlu berlama-lama menunjuk orang-orangnya. Pelatihan empat bulan lalu di Hotel Mutiara Merdeka telah mengajarkan banyak hal kepada kami, sehingga tanpa serupiah pun rupiah kami masih setia berbakti untuk negeri, ini lah yang saya lihat pada semangat mereka pada setiap  pertemuan mulai dari di UNRI, Mesjid Ar Rahman, Taman Kota hingga Rumah makan padang ini, semangat yang tak pernah padam menuju cita-cita Indonesia Jaya.
Ini memang bukan kerja yang mudah, kepengurusan ini mempunyai banyak harapan tentang mimpi dan cita-cita, dalam Indonesia dengan kondisi nya seperti sekarang ini kami tidak boleh lemah, Hasan Al Bana sang pelopor Islam kontemporer mengatakan dalam risalah nya bahwa kebangkitan itu berangkat dari hal-hal yang mustahil dan penuh dengan keterbatasan namun kemustahilan itu lah yang kemudian mengajarkan bahwa kerja keras, keyakinan, teguh dan ulet sebagai kunci sebuah kebangkitan bangsa  yang kini besar. Dan kami yakin bahwa apa yang kami kerjakan hari ini akan menjadi buah manis  suatu hari nanti Sebuah keyakinan yang kuat dan usaha yang maksimal menjadi jalan pembuka keberhasilan.
Hari ini setelah melewati perjalanan beberapa bulan dari pelatihan 4 bulan yang lalu maka terbentuk lah ikatan dari alumni ini, pelatihan yang meninggalkan kesan berbeda, pertemuan dengan banyak teman-teman dari berbagai daerah di Sumatra, sebuah pulau yang memilki etnis budaya lokal yang hampir-hampir sama menyatukan kami dalam kebersamaan cita-cita dan fikiran. Saat itu kami di giring dalam frame berfikir yang sama yang jika saya artikan pelatihan ini lebih kurang sama seperti doktrin. Doktrin untuk mencintai Indonesia dan bekerja nya untuknya. Trainer dan panitia yang juga mampu menjaga alur pelatihan sedemikian rupa, hingga peserta selalu penasaran dengan apa yang akan diberikan selanjutnya, pembicara dan pemateri yang juga sangat luar biasa. Mulai dari Hari pertama dengan materi kepemudaan nya oleh Pak Imam, Mas Indra, Bang Fahrul, lalu lanjut ke Bang Mufti, Mas Agung, pembicara undangan seperti dari Jakarta seorang anggota DPR RI dari Fraksi PKS dengan materi sejarahnya lalu dari Riau Pos, Mas Farhan dari kemetrian pemuda dan olahraga dengan materi analisis sosial tak ketinggalan akademisi  juga mulai dari Dosen Hingga Rektor, ada juga dokter Arif yang gokil abis,  hingga Terapis-Terapis luar biasa dari Mind power..wow..sungguh keren apa yang mereka sajikan kepada kami, selanjutnya kejutan-kejutan demi kejutan terus berlansung Dik Doank dengan kandang Jurangnya, lalu ada  Pak Nanang Mubarok trainer yang keren luar biasa.. Hmmm Bicara soal Pak Nanang cukup menarik ..beberapa bulan setelah pelatihan itu kami mengundang Pak Nanang kembali  Pekanbaru lagi, tepatnya di Bulan Desember, Pak Nanang mengisi materi di Kampus, menyenangkan bisa mengenal beliau, banyak hal positif yang bisa diambil dari seorang laki-laki yang ramah dan tidak sombong ini. Sabar sekali dalam menghadapi tingkah pola kami sebagai panitia, bahkan sebelum kedatangannya di Pekanbaru dia sempat di rawat di Rumah sakit di Jakarta, tapi sebagai seorang yang professional dia tetap memenuhi janji nya kepada panitia saat itu. Hmmm.. menyenangkan sekali bisa kenal dan bertemu dengannya juga dengan Mas Asep, CO  Asisten trainernya yang diperkenalkan oleh Pak Nanang.
Tentunya ketika itu ada harapan yang disematkan kepada 150 orang pemuda yang datang di Hotel Mutiara Merdeka saat itu, Pak Imam bahkan tidak mengizinkan ada sesi penutupan dalam acara tersebut, baginya tidak boleh ditutup, pelatihan ini akan terus berlanjut, pelatihan karakter, yang mana saat itu adalah teori yang diberikan maka saat ini kami pemuda menjalani materi praktek, karena karakter adalah proses terus menerus yang tak boleh berhenti. Maka pada hari ini izinkan kami mengutip kata – kata dari Anis matta untuk memulai langkah perjalanan ini “Beri kami kesempatan utk terlibat, dan izinkan kami menata ulang taman indonesia, biar kami buat kalian tersenyum sebelum senja tiba..”. semangat  ini tak boleh padam sampai di sini kami harus terus bekerja, Indonesia Jaya adalah mimpi kami Dari Pemuda untuk Negara nya.
Pekanbaru, 19 Desember 2012
Specially For semua teman – teman di KOMPPAK Negeri (Aan, Roi, Hendra, Lusi, Ara, Etti, Nurul, Vita, Ezi,