Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 Desember 2012

Berkarya dan berbuat, jangan berhenti

Sabtu pagi ini bersiap siap untuk mengikuti sebuah acara yang di sms oleh salah seorang akhwat teman ku di satu organisasi, setelah selesai melakukan pekerjaan rumah , dan urusan pribadi aku pun segera menuju ke lokasi,  namun sebelumnya aku ada janji untuk menjemput Resti dulu, kebiasaanku dari dulu jika ada kegiatan – kegiatan seperti ini aku selalu mengajak akhwat akhwat di dekatku, aku ingin mereka dan aku sama sama belajar setiap harinya tidak peduli seperti apa bentuk belajar nya. Aku sadar aku  tidak bisa membekali kehidupan ini dengan teori teori di majelis atau forum bagi ku mengikut sertakan mereka dalam kehidupan yang real jauh lebih bermanfaat. Seperti  banyak nya manfaat yang aku dapatkan disini aku pun juga ingin mereka merasakan hal yang sama.
Walau sudah sedikit telat dari waktu yang di sms oleh temanku kami masih menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu tidak mau mengambil resiko dengan serangan maag yang akan menganggu aktifitas seharian ini mengingat masih banyak yang harus aku lakukan. Semangkuk bubur ayam  kami santap dengan lahapnya.  Selesai sarapan kupacu kendaraan lansung ke tempat acara, pagi ini kami dimintai tolong untuk menyebarkan 1000 bunga sempena dengan hari Ibu  oleh Ibu Iin istri dari wakil walikota Pekanbaru. Karena kedatangan kami yang telat rombongan telah bergerak duluan, janjian bertemu di tugu Zapin alih alih kami putar arah kendaraan menuju Jl sudirman setelah sebelumnya kami sempat menyusul rombongan di RS Zainab. Tak beberapa lama kami sampai di Tugu Zapin tepat di samping Mapolda Riau.  Kami  akhirnya bertemu dengan rombongan Ibu ibu dari Yayasan Peduli Keluarga pimpinan Ibu Iin sendiri. Akhirnya demi menghemat waktu mengingat bunga yang akan di bagikan masih cukup banyak maka rombongan pun dibagi beberapa kelompok menyebar ke berbagai pusat keramaian di Kota Pekanbaru.





Pasar bawah pun menjadi tujuan aku dan Resti  untuk menyebarkan bunga, sebagian kelompok ada yang ke pasar pusat, pasar pagi di Jl Arengka.  Setiba di sana setelah memarkirkan kendaraan kami segera melangkahkan kaki menuju lapak penjual sayuran, Ibu ibu yang ditemui kami berikan bunga, dengan tak lupa menyampaikan salam dari Ibu Iin, tidak hanya Ibu ibu bapak bapak penjual Ikan pun ikut meminta bunga alasannya buat dibagikan ke Istrinya dirumah.”buat orang rumah nak..” kata sang bapak, Ibu ibu yang tidak mengerti maksud kami memberi bunga bertanya ini dan itu, kenapa  Buk Iin (sapaan akrab Istri wakil walikota) menyebarkan bunga nak..?, bahkan ada yang request “nak Ibuk minta yang warna merah ya..Ibu suka warna merah”, bahkan ada yang titip salam “nak salam ya buat Ibu cahyadi ..” bahkan engkong-engkong cina yang tengah menjaga toko pun ikut menyerbu kami, si engkong entah apa maksudnya bahkan meminta  dua tangkai.. bahkan seorang Mbak mbak penjual koran malah meminta bunga kami untuk Ibunya yang tengah sakit dirumah sakit. “Mbak minta ya buat Ibu saya yang lagi sakit ya..” kelakar-kelakar penghuni pasar ini menyejukkan hati kami, kebersamaan tanpa embel embel, yap..hanya untuk berbagi kebahagiaan di hari  ini tanggal 22 desember , walau sesungguhnya budi baik seorang Ibu tak akan pernah bisa terbalasakan bukankah kita hanya di minta berbuat baik saja, karena jasa ibu tak akan bisa dibalas walau laut dan isinya ditangkupkan.  
Lega rasanya harus berbagi dengan mereka semua, momen momen seperti ini tentu tak bisa kita rasakan jika kita tidak langsung bertemu dengan mereka, ada kepuasaan yang terpancar dari raut wajah pedagang  di pasar  ini, dari masyarakat yang di katergorikan menengah kebwah, dari orangorang yang sering kita katakan sebagai masayarakat yang kurang pendidikannya, lalu tahu apa kita tentang kesusahan hidup mereka, dari jerit pahit mereka, bahkan untuk menebus obat yang paling murah sekalipun. Kita sering  membuat  kajian kajian teoritis tentang kesusahan hidup mereka, tapi semua sayangnya hanya sampai di wacana saja tanpa eksekusi, ya..bagaimana mau eksekusi, jika mengurusi diri sendiri kita tak selesai. Padahal  sering kita katakan di orasi orasi ilmiah yang seolah olah begitu sangat ilmiah, dengan narasi narasi yang terlihat sangat luar biasa.lalu kapankah kita turun, kenapa terlalu lama kita memberi alasan untuk menyentuh mereka , kita masih berkutat di urusan internal saja, mengurus alas an alas an kemalasan kita. Ah..lalu apa bedanya kita dengan mereka yang juga hanya sampai di konferensi atau debat tak ada penghujungnya itu.
Teringat kembali beberapa bulan yang lalu ketika  mengawal kegiatan SISTER di daerah Tenayan Raya daerah Badak, daerah yang mayoritas penduduk nya membuat batu bata, bertemu dengan ibu ibu majelis taklim yang semua nya hidup dalam kesederhanaan, bahkan Musholla pun sangat terlihat ala kadarnya, tak ada pagar pembatas antara jalan dengan halaman, dalam keadaan penuh dengan keterbatasan mereka tak lupa untuk senantiasa memuliakan tamu, sajian kue sederhana tetap mereka suguhkan kepada kami, acara sore itu berakhir dengan penuh harapan dari Ibu ibu disana, betapa mereka sudah sangat merindukan perubahan.
Ah…kadang aku berfikir, dan aku mulai dengan melihat realita disekelilingku, mahasiswa dengan segala permasalahannya, urusan akademis, perkuliahan, tugas  yang telah menyita kehidupan mereka dengan realita sosial, apakah memang kehidupan kampus sekarang telah menjadi jurang pemisah realita itu? Entah lah.. lalu ada sekelompok lagi yang sibuk berkutat dengan organisasi namun tak pernah selesai dengan urusan urusan yang bahkan sangat sepele, lalu sering aku bertanya apa mereka dilahirkan hanya untuk berwacana saja,mereka yang menamai diri mereka dengan pejabat kampus pun kadang hanya sibuk di urusan menghadiri seminar, simpsoium atau mengahdiri undangan dan di akhir masa kepengurusan sibuk foto bareng, tidak kah amanah sekecil apapun akan dipertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Ya..lagi lagi aku berfikir bahwa masyarakat Indonesia ini adalah tipikal orang yang sangat sabar dalam penantian, bagaimana tidak dia harus sabar melihat pertikaian elit politik yang hidup dalam kemewahan yang selalu membawa nama _atas nama rakyat_ ke mana pun dia pergi, bahkan rakyat harus sabar menahan air liur melihat pemimpin nya menyantap kehidupan mewah, mereka harus selalu bersabar  dengan fasilitas umum yang sangat tidak layak yang diberikan oleh pejabatnya. Namun aneh nya   bapak bapak pejabat itu masih bisa dengan bangganya mengatakan di baliho bahwa mereka adalah sosok yang sangat merakyat, peduli dan penuh integritas dimana mereka mengatakan itu ketika istri dan anaknya tampil mentereng meminjam uang rakyat. Ah.. kasihannya menjadi rakyat Indonesia..
Dan kini berpuluh tahun sejak Soeharto menjajah Indonesia ditambah pasca lengesernya ke Primbon  oknum oknum penikmat uang rakyat masih banyak di negeri ini  namun beberapa muncul  dengan melawan arus politik yang kejam, mereka yang berani mengatakan tidak pada KKN, mereka yang amanah, mereka yang tampil sederhana dan narasi narasi mereka telah terwujud dalam perilaku dan masyarakat pun bangga pada mereka mereka yang jumlah nya sangat sedikit itu. Tentu nya Indonesia butuh sangat banyak sosok sosok amanah itu, tidak cukup 100 tetapi harus ribuan atau bahkan jutaan.
Di hari Ibu ini aku berfikir kembali bahwa setiap perempuan yang lahir di Indonesia ini mempunyai “kewajiban” untuk melahirkan pemimpin pemimpin luar biasa , setiap kita baik laki laki dan perempuan wajib berbuat baik dan menyebarkan kebaikan itu kepada semua orang. Kita tidak bisa duduk diam saja tapi harus berbuat, lakukan kebaikan sekecil apapun untuk mereka masyarakat yang membutuhkan perubahan, meyuapi  tentu bukan perkara bijak tetapi memberikan kail mungkin bisa jadi alternatif  untuk membuat hidup mereka lebih baik. Aku sering terkagum kagum pada sosok Ibu ibu penggerak di sekelilingku yang luar biasa, Ibu ibu yang tak kenal henti memberikan kebaikan, tanpa melalaikan kewajiban sebagai seorang Istri, mereka tak pernah kenal  lelah mengajarkan kebaikan kepada orang lain,di manapun orang orang itu berada. Tak ada keletihan dan keluh kesah pada wajah mereka.mereka yang kusebut dengan perempuan penginspirasi  untuk hidup ku. Ah.. ibu ibu luar biasa.. seperti Mama ku yang juga luar biasa, yang tak pernah melarang ku untuk berkarya dan berbuat untuk orang banyak. Mama dan Ibu ibu itu luar biasa.
Dan  izinkan aku berkata kepada ibu ibu pembuat batu bata, ibu penjual kue, ibu ibu penjual koran, ibu guru, ibu ibu pemetik sayuran , ibu penjual jamu, mohon izinkan aku dan teman teman ku yang sevisi dengan ku  atas nama kalian berjanji untuk tetap berkarya dan berbuat, bersama sama menyonsong perubahan. Izinkan kami  menyentuh kalian, senyum kalian yang jauh dari polesan make up, jauh dari gemerlapnya eye shadow ,lipstik ,atau  blus on mahal menjadi kebahagaian bagi ku.  
Ria Bustanudin
Ketua Salimah kec. Tenayan Raya

Kamis, 29 November 2012

Loe udah punya apa?? udah melakukan apa??



Aku benar – benar suka merasa heran dengan banyak nya realita di sekitar ku, banyak anak muda yang  sombong  merasa dirinya paling hebat, aih…aku benar – benar heran dengan orang orang seperti ini. Selama aku kuliah banyak hal tipe manusia yang seperti itu yang kutemui. Petantang petenteng kesana kemari, ngomong pake istilah ilmiah, merasa paling mengerti hukum orang lain selalu salah. Bicara nya seolah olah sudah merasa paling benar saja. Aih… aku sering bertanya tanya apakah yang menyebabkan kesombonngan di hati mereka. Dulu aku pernah tergabung di majalah kampus, 4 tahun lebih aku disana. Hilir mudik bersileweran orang masuk di dalamnya. Lebih variatif sifat yang aku kenal, begitu juga ketika aktif di BEM tak sedikit aku bertemu dengan orang yang sombong nya naudzubillah.. ada pejabat kampus yang ngerasa paling oke banget,, semua orang gak ada yang bener, yang bener tuh dia ama group sanggarnya, ujung ujung nya sih bicara kepentingan, semua nya berlatar kepentingan. Yap..kepentingan  yang ujung ujung nya bermuara kepada kepentingan pribadi
 Kembali kembali lagi dengan keheranan ku dengan kesombongan orang orang yang merasa paling benar itu, ada orang yang koar koar mengkritik semua kebijakan yang di buat oleh pimpinan ex; kampus, sampai mengkritik pun sudah tak lagi pake logika, nafsu merasa paling benar dan semua orang salah. Lalu aku berfikir nih orang apa sih yang dibanggakannnya.. emang nya udah berapa karya sih yang dihasilkannnya, udah berapa ribu kebaikan yang sih dilakukannya, trus udah berapa juta umat yang merasakan manfaat dari dirinya, sehingga mudah sekali menyalahkan semua orang. Merasa bangga dengan membawa bawa organisasi yang diikutinya, nah nih dia yang sering ku temui orang yang merasa paling hebat karena berada di organisasi yang sudah tua (ingat Tua bukan karena hebatnya). Ada orang yang akhirnya lupa daratan karena dibuai memori masa  lampau, aduhhh.. duhai  manusia lupa kah kau besarnya organisasi mu bukan karena dirimu seorang dinda, ada banyak campur tangan orang di dalamnya, ada masa yang telah dilewati yang membuat namamu organisasi di kenal orang. Lalu apa yang harus kau sombongkan jika untuk bergerak saja kau masih mengemis pada orang lain. Bukan kah setiap bulan kau pun menadahkan tangan kepada pimpinan yang kerap kau maki. Agar dana proposal mu cair. Kau boleh merasa paling hebat jika kau telah melalukakn banyak hal yang tak dilakukan orang lain, kebaikanmu kurva nya diatas orang lain.. maka boleh lah kau bangga bukan kah Firaun dan qorun pun sombong karena dia memilki banyak harta. Apakah kau Raja yang di pilih rakyat, yang paling kaya, yang paling banyak berbuat, sehingga pantas kau sombong?? Aih… berkaca lah dinda..
Aku pun sering merasa jengah dengan beberapa tingkah laku beberapa aktivis di kampus yang suka sekali mencari celah kesalahan orang lain, hingga beberapa kali orang orang seperti ini terpaksa aku block dalam hidup ku, aku sudah paling tidak bisa terima jika sudah masuk pada masalah fitnah memfitnah, bahkan kalian ada yang menyamakan organisasi ku  dengan yahudi laknatullah. Naudzubillah haruskah aku masih memanggil mu saudara ku, jika kau telah samakan kami dengan yahudi atau Israel laknatullah itu. Aku tidak tahu apakah kau memang terlahir sombong atau kah ashobiyah mu yang menyebabkan kau sombong, organisasi mu sudah sebebrapa hebatnya di dunia ini?? Bukankah Jutaan orang di dunia mempertanyakan kerja nyata organisasi anda bung?? Jika dulu sebelum kau bergabung dengan organisasi yang kau kalian klaim hebat itu ukhuwah kita baik obrolah kita menyenangkan, ada rindu untuk berdiskusi dengan mu, lalu kenapa sekarang kau jadikan kami musuh ketika kau ada di organisasi itu, hei,… teman kalau di tempat ku ketika hijrah menjadi pilihan maka saat itu juga kami diajarkan untuk tetap menjaga ukhwuah.. apakah kau tidak diajarkan demikian??? Ah..sayang sekali kalo begitu.
                Ah..entah sampai keheranan ini mengikuti..aku rasa tak kan habis sampai dunia kiamat. Karena orang orang seperti ini pasti aka ada terus sampai kebenaran itu disingkap denga nyata oleh pembuat kebenaran itu. 
“sombong  itu hanya milik Allah dan tdak di peruntukan buat mahkluk “
Ya Allah melalui tulisan ini
Satu pintaku
Jauhkan aku, keluarga ku, pendamping ku, anak cucu ku dan keturunan ku kelak
Dari sifat sombong
Dari sifat keji
Dari sifat bangga dengan kebodohan
Dari sifat alpa untuk mengedepankan ilmu dan amal
Ya Allah betapa takutnya kami jika ada secuil kesombongan dalam hati kami
Bantulah kami membersihkannya ya Allah
Bantu lah kami mengikis nya Ya Allah
Sungguh Ya Allah betapa aku takut dengan kesombongan itu

Ria Bustanudin
Pekanbaru di suatu pagi

Minggu, 14 Oktober 2012

Jelajah Gizi _ Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah

 
Add caption
Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah
Asam Pedas Ikan Patin adalah nama masakan khas dari Provinsi Riau. Provinsi ini   terletak di bagian tengah pulau Sumatra, dan terkenal dengan sungai  nya yaitu sungai Siak, Riau sendiri berpenduduk sekitar 5.543.031 jiwa. Riau telah didiami oleh berbagai suku dan etnik budaya, satu suku yang terkenal banyak mendiami wilayah ini adalah suku Melayu dengan persentase sekitar 37,74%, selanjutnya ada Minang, Jawa, Bugis, Batak dan Cina.
 Letaknya yang berdekatan dengan selat Malaka menjadikan Riau sebagai daerah transit para pedagang pada masanya, kekayaan alam nya yang berasal dari laut dan sungai  mempengaruhi pula berbagai kuliner khas nya. Berbagai penganan kebanyakan berbahan dasar ikan, hingga tak mengherankan jika  ikan menjadi satu dari komoditi andalan provinsi Riau. Tak  terkecuali dengan makanan yang satu ini, yaitu Asam Pedas Ikan Patin, walau tak dapat dinafikan jika asam pedas juga terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Asam pedas ada hampir di seluruh wilayah Sumatra dan semenanjung melayu. Masakan ini  sendiri juga terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang mayoritas penduduk nya bersuku melayu, orang minang menyebut nya Asam Padeh, sementara Aceh menyebutnya dengan Asam Keueng. Dalam sejarahnya tidak diketahui dengan pasti asal muasal asam pedas, di Malaysia asam pedas juga menjadi salah satu masakan khas mereka. Sementara di Riau Asam pedas yang sangat  terkenal yaitu asam pedas ikan patin. Ini menjadi salah satu ciri khas kuliner Riau,  masakan ini menjadi sangat popular baik di restoran-restoran maupun dalam santap di rumah tangga, ibarat kata kurang lengkap rasanya jika ke Riau belum mencicipi Asam Pedas Ikan Patin yang sangat menggoda selera ini. Di Pekanbaru khususnya Asam Pedas Ikan Patin disajikan tidak hanya di restoran atau rumah makan khas melayu saja tapi kita bisa menemukannya di restoran-restoran padang atau jawa, dan biasanya Ikan Patin lansung didatangkan dari para nelayan di tepi sungai Kampar, karena kelezatannya yang menggoda Asam Pedas ikan Patin disukai oleh banyak orang dan digemari semua kalangan. Belum lagi tambahan asam belimbing dalam sajiannya menjadikan kuliner ini benar-benar sayang untuk dilewatkan .
Riau sendiri menjadikan asam pedas  bagian dari seni  memasak masyarakat melayu yang tak boleh di tinggalkan, rasanya yang asam dan pedas sangat cocok dengan lidah orang melayu dan dapat diterima oleh yang lainnya.  Asam pedas ikan patin di olah dengan cara di masak  bersama bumbu-bumbu nya yang terdiri dari berbagai bahan asli Indonesia, aroma pedas yang berasal dari cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas yang ditumbuk sampai halus lalu ditambah dengan belimbing wuluh/asam belimbing, serai, daun jeruk dan daun salam membuatnya sangat fresh ketika dimakan, belum lagi ikan patin yang memiliki banyak manfaat seperti asam lemak tak jenuh Omega-3, Selenium, dan Taurin. Yang mana kita tahu bahwa Omega 3 bagus untuk proses perkembangan otak pada janin dan penting untuk perkembangan fungsi saraf dan penglihatan bayi. Sementara selenium sendiri berfungsi untuk membantu metabolisme tubuh dan sebagian anti oksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas. Konsumsi ikan Patin akan memberikan kecukupan lemak harian, dan lemak dibutuhkan oleh tubuh sebanyak seperempat hingga sepertiga dari total kalori sehari.
 Ikan patin menjadi ciri khas kuliner khas Riau yang kental dengan budaya melayu ini,  Pengolahannya hanya menggunakan sedikit minyak untuk menumis bumbu,  tekstur ikan patin  yang lembut tidak mengharuskan ikan ini di masak lama sehingga tidak banyak kandungan gizi yang hilang karena pengolahan yang lama, biasanya setelah bumbu yang ditumis di beri air dan ditunggu mendidih ikan baru di masukkan, tidak menunggu sekitar 5 sampai 10 menit  asam pedas siap disajikan, untuk menambah cita rasa bisa ditambahkan potongan tomat merah ke dalam kuahnya yang segar, kuah asam pedas ikan patin tidak memilki tekstur yang kental seperti asam pedas yang terdapat di tempat lain, kekentalannya yang mirip TomYam dari Thailand membuat makanan ini cocok disajikan dengan sepiring nasi panas, warna kuah nya yang begitu berselera dan tekstur ikan yang lembut dan creamy tentu tak dapat dilupakan. Ini lah yang membuat masakan ini begitu familiar di masyarakat, pengolahannya pun mudah, dan lagi Ikan Patin tidak sulit untuk di cari. Tentunya masakan ini menambah lagi Khasanah kuliner Indonesia. Rasanya yang asam dan pedas, dengan potongan ikan yang lembut dan lumer di mulut ditambah kandungan gizi yang banyak cocok untuk disajikan dalam menu masakan keluarga, menambah gizi, murah dan sehat.  

Sumber :
PW BKMT Provinsi Riau, 2005. Aneka resep Masakan Melayu Riau. Yogyakarta. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
http://id.wikipedia.org/wiki/Riau
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_pedas
http://cuek.wordpress.com/2012/05/24/gulai-asam-pedas-ikan-patin-riau/
http://shintaprastantidewi.blogspot.com/2012/06/kayanya-manfaat-ikan-patin.html


Kamis, 20 September 2012

Itulah kalau nakhoda tidaklah paham alamat kapal akan tenggelam


Euforia kemeriahan PON ke 18 telah berakhir tepat pada tanggal 20 September pekan olahraga terbesar di Indonesia ini ditutup oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, gegap gempita pelaksanaannya sungguh luar biasa, semua berpesta, semua bergembira. Ini lah Indonesia, inilah rakyatnya, terlalu lama di percundangi oleh kompeni membuat watak orang Indonesia mengkal.
PON ke 18 di Provinsi Riau sepatutnya menjadi ajang yang luar biasa,  kemegahan seharusnya berbanding lurus dengan capaian yang dijadikan target, namun tampaknya hal ini hanya akan menjadi cerita kosong saja, selepas PON ini kita akan sama-sama melihat apakah targetan-targertan itu memang tercapai atau justru jauh panggang dari api.
Pemerintah Provinsi Riau melalui data LSM diperkirakan telah mengeluarkan 4,8 T untuk pembiayaan PON, bukan jumlah uang yang sedikit, oleh karenanya dipastikan pemerintah Provinsi Riau dalam kurun beberapa tahun kedepan akan hanya melunasi pembiayaan ini saja, karena seperti yang kita tahu bahwa pendanaan berasal dari anggaran pendapatan belanja daerah Riau, sementara pemerintah pusat hanya menggelontorkan sedikit bantuan saja, pihak sponsor yang tadinya diharap mau bekerja sama malah hilang entah kemana, hingga mau tak mau daripada kehilangan marwah PON tetap dilaksanakan di provinsi ini dengan terpaksa menggunakan uang “pribadi”.  
Kilas balik bagaimana Riau bisa menjadi tuan rumah memang tidak dapat di lepaskan dari peran besar Rusli Zainal Gubernur Riau yang menjabat 2 periode ini di tahun 2007, saat itu Riau bersaing dengan beberapa provinsi seperti  Jawa Barat, dan pada making decision nya Riau keluar sebagai “pemenang”. Dengan alasan agar ada pemerataan kemajuan olah raga di seluruh Indonesia . jadinya Riau menjadi Tuan Rumah. Kemelut kisruh PON ini telah terjadi di awal pelaksanaan hingga kini tepat dimana PON telah ditutup dengan pesta mewahnya. Dimulai dengan pembagian proyek pembangunan venues yang dijatah “masing-masing” kepada kolega dan handai taulan sang Pejabat. Kasus suap menyuap, kasus korupsi anggaran, venues yang terbengkalai, pembayaran honor, dan masih banyak masalah yang lainnya.
Saat pelaksanaan PON masyarakat pun dibuai dengan cerita dan tayangan betapa luar biasa nya PON ini, Riau dikenal di seluruh Indonesia, Riau semarak dengan kemeriahan pesta, tak ada ruang yang terbuka untuk sedikit melihat bahwa betapa ini menyakitkan. Betapa tidak, untuk kemeriahan beberapa saat kita harus mengorbankan triliyunan rupiah jatah jaminan pembangunan masyarakat Riau. Untuk euphoria sejenak kita mengabaikan nasib kesejehteraan puluhan ribu guru, perawat, buruh, petani, nelayan negeri ini. Di tengah hiruk pikuk pesta kita menutup mata atas jaminan kesehatan  ribuan anak balita, ratusan pasien miskin yang harus terbaring di lorong-lorong kamar sempit  rumah sakit pemerintah dengan pelayanan seadanya, dan demi gegap gempita nya pesta ratusan anak negeri ini terancam akan semakin dimatikan karakternya karena jatah pendidikan tak lagi cukup untuk mendidik mereka. Dan demi pesta bersama artis-artis ibu kota kita merelakan mereka yang berada di perbatasan, di pulau-pulau kecil semakin tersudutkan tak diperdulikan.
Kita bisa saja mengatakan bahwa kita orang Riau harus mensukseskan pelaksanaan PON ini, bukan orang Riau namanya jika tidak menghargai kerja keras orang menyelenggarakan PON, prestasi luar biasa jika Riau bisa membuat open dan closing ceremony yang megah, mengundang penyanyi dengan bayaran tinggi datang ke Riau menghibur kita semalam ya..hanya semalam, karena malam-malam berikutnya kita akan kembali bertemankan pelito* duduk di tangga depan rumah melihat jalanan telah kosong, pesta telah usai, kita ditinggal sendiri.
Pelaksanaan PON dengan 4 catur sukses yang diharapkan akan bisa dilihat berhasil atau tidak tentunya selepas ini, tapi jika dikatakan sebagai promosi daerah maka cukup selama pelaksanaan PON ini Riau di cap gagal menyelenggarakannya, tak ada good news yang ada bad news, pemerintah daerah telah mengeluarkan triliyunan rupiah untuk promosi tapi pemerintah pusat apalah daya membantu, media jauh lebih berkuasa. Kedatangan SBY pun tercoreng dengan pemberlakuan tiket masuk seharga 3 juta hingga 100 ribu untuk tribun penonton, alhasil kursi banyak yang kosong,  tak pelak sampai disitu, di tempat  pertandingan dikenakan pula retribusi parkir yang tak wajar, jika tak tahu malu tiket penonton pun akan di charge. Sungguh kenyataan yang diluar akal logika, korupsi dengan gaya baru dan ini benar-benar tidak lagi di bawah meja tapi sudah dengan meja-meja nya.
Kita sering lupa bahwa banyak kerja yang lebih penting, ibarat berladang kita belum menanam tapi sudah mau makan enak, bekerja lah dulu, tanamlah padi, beri air dan pupuk, kerja keras menjaga padi dari hama, mengairinya agar tak kering, bersabar menunggu hingga padi menguning siap di panen, ketika semua dipastikan padi rakyatnya telah tumbuh dengan subur tak ada lagi yang bersedih hati karena tanaman padinya  tak merunduk, jikalau semua sudah settle boleh  lah melepas lelah dengan berkumpul bersama menikmati hasil panen, semua tua muda, yang punya sawah dan tak punya sawah duduk bersama di atas rumput bernyanyi bersama ratusan anak burung yang terbang rendah, sang pemimpin membuka hajat dengan tak lupa menyimpan hasil nya sebagian untuk bekal hadapan, agar tak tamak kekenyangan yang bisa menyebabkan kehinaan atas keserakahan.
Maka logo “selamat datang sang juara” dengan burung serindit nya tercoreng malu sudah, mental juara hanya untuk tamu yang datang tapi tidak untuk tuan rumah,sifat egois yang mengakar telah melukai tanah melayu, tak ada lagi adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah. Semoga selepas ini KPK di  Riau akan melakukan kerja bersih-bersih, menangkapi penyamun yang menunpang di kapal, biarlah ini menjadi pelajaran berharga untuk dikenang oleh anak cucu tentang kisah keserakahan pemimpinnya .  Apabila pemimpin tahukan diri, memimpin umat sepenuh hati, amanah dipikul janji diisi rakyat sejahtera tuah berdiri*. Itulah kalau  nakhoda tidaklah paham alamat kapal akan tenggelam

*diambil dari tunjuk ajar "memilih pemimpin" Tenas Effendy