Total Tayangan Halaman

Senin, 24 Desember 2012

Aku bukan Oky Setiana Dewi


Untuk Sang Penjaga hati
Ketika  nanti di hari yang hanya Allah yang tahu kapan dan dengan siapa,
Maka percaya lah aku bukan makhluk sempurna yang sekiranya kau cari kesempurnaan itu maka kau akan segera kecewa
Aku perempuan yang dilahirkan dari Mama yang selalu mencintai ku dan aku dibesarkan di keluarga yang biasa biasa saja, Papa ku hanya pegawai biasa, ibu ku seorang guru di sekolah biasa juga, tak ada kemewahan di keluarga kami, tak ada perayaan ulang tahun dengan bertumpuk kado. Kami hanya keluarga biasa  aku dan adik adik ku diminta untuk hidup biasa saja.
 Aku bukan Oky Setiana Dewi yang dalam ceritanya penuh dengan kejutan, kehidupan ku pun biasa biasa biasa saja, aku bukan Oky  setiana dewi, aku perempuan yang hidup di Kota Pekanbaru. Aku juga bukan seorang tahfiz quran, belajar tahsin nya pun hanya 2 kali seminggu, satu di pertemuan rutin, satu lagi di Rumah tahfiz PPA, itupun sudah sebulan ini Ustazah tahsin ku libur mengikuti pelatiihan. Maka bisa kau bayangkan kan bacaan quran ku.
Aku juga bukan akhwat akhwat seperti  akhwat akhwat saudara ku itu, mereka selalu kelihatan anggun, mereka juga sudah mapan, ada yang sudah jadi dosen, guru, pegawai , atau ibu rumah tangga yang sukses (maaf memang kadang kadang aku suka membandingkan diri ku dengan mereka), aku juga tidak pandai menjahit, menyulam, merangkai bunga (jadi nanti ketika kita sudah bersama jangan bermimpi ada kain rajutan, bunga  hasil karya ku ya), oh ya ada lagi aku juga tidak pandai masak kue, terakhir ketika bulan puasa lalu aku mencoba bikin dadar gulung, dan maaf hasilnya sangat mengecewakan . tapi jangan takut kalau bikin pergedel jagung Alhamdulillah aku ahlinya, sebulan penuh aku mempelajari cara membuat pergedel  jagung dan kentang, mungkin makanan ini akan aku sajikan untuk mu kelak.  Jadi aku tidak bisa disamakan dengan akhwat akhwat itu, mereka sempurna secara materi, fisik dan psikis(bukan berarti aku gila ya) aku ya kembali lagi ke bab di atas, hanya perempuan biasa, aku tidak hobby menyulam dan menjahit hobby ku mengamati sebuah objek, entah itu keramaian, kegiatan manusia, hilir mudik nya kendaraan, dan mengabadikan mereka dalam picture atau tulisan tulisan ku. Kalau udah megang kamera sih biasanya aku suka lupa diri, lupa daratan bahkan lupa kalau kamera  nya kamera pinjaman. Jadi kalau boleh berharap nih kelak ketika buah hati ku lahir akan aku abadikan perkembangannya untuk kuperlihatkan padanya kelak, agar dia sadar bagaimana Tuhan menciptakannya dari keadaan lemah. Dan bisa jadi kau juga jadi objek ku, objek foto disaat kau melakukan banyak perbuatan perbuatan baik, saat kau tengah berada dalam pusaran kebaikan.
Oh ya aku sering mendengat teman teman akhwat ku di goda laki laki lain di saat mereka telah berkeinginan menikah, aku  sering kasihan pada teman teman ku itu, sepertinya mereka sangat gundah gulana, dan  ujung ujungnya mereka akan curhat ini dan itu pada ku, aku pun sering dengan rasa percaya diri nya memberikan nasehat dan masukan pada mereka, seolah olah aku sangat mengerti akan persoalan itu, biasanya aku ambil referensi dari yang kubaca atau pengalaman kakak kakak ku yang telah menikah , dan kuulang kembali di depan teman ku itu, nah..sekarang kau tahu kan kalo aku ini orang nya sangat sok tahu, masa aku menasehati orang yang tentang pernikahan di saat aku belum menikah..hadeeehhh.  beberapa kali teman ku mengabari aku tentang penolakan mereka terhadap seseorang, nah di point ini aku sering bingung, sebenarnya ada apa sih dengan teman ku itu, kenapa bisa dia menolak laki laki yang datang padanya.. apa yang kurang, atau banyak kekurangan nya tu laki laki , atau jangan jangan ada tipe yang diharapkan namun  tak datang.
 Cessss… nah.. ini nih yang suka bikin galau,,kalau udah bicara tipe atau kriteria… kalau teman ku menolak karena kriteria nya tak memenuhi syarat, lalu bagaimana dengan ku ya.. apa Kriteriaku, apa tipe ku, apa dia harus sesoleh Ali Bin Abi Thalib lah aku kan bukan Fatimah, bagaimana bisa berharap pendamping yang mendekati sempurna  seperti itu. Nah ini yang harus nya aku pahami bahwa ketidak sempurnaan seorang manusia. Tapi konon katanya laki laki yang “intelektualnya” tinggi suka menaruh kriteria seorang Fatimah pada seseorang perempuan? Benar atau tidak aku pun tak tahu. Semoga aku tidak bertemu dengan laki laki yang seperti itu ya,karena kalau sudah seperti itu maka dipastikan aku akan terdepak, seperti beberapa senior ku yang didepak hanya karena kurang putih kulitnya atau kurang mancung hidungnya.
Bagi ku tak butuh kesempurnaan yang tampak, karena menurut kakak kakak ku semua itu menipu, demi Allah itu lah tipuan dunia, kemapanan  yang datang dari hati itu lah kunci kebahagiaan, tak peduli sesederhana apa penampilannya,bagi ku menikah adalah untuk memenuhi separuh dien, maka dia pun kuharap akan sevisi dengan ku, aku telah berjanji (walau sering tak ditepati) bahwa sisa hidup hanya akan kuhadiahkan pada sang Pencipta. Maka cukuplah keimanannya menjadi pelengkap kebahagiaan mahligai itu. Dan aku pun berjanji untuk menjaga sejatinya cinta, mulai dari sebelum sebelum ini, membuang racun masa lalu, dari sesuatu yang tak penting.
Semoga waktu yang dijanjikan itu tak lama lagi, Ikhtiar dan doa sembari mempersiapkan diri, membekali diri dengan ilmu. Menikah bukan segala galanya tapi dengan menikah banyak hal yang bisa dicapai. Maka pernikahan ku pun nanti harus untuk mencapai Ridho Illahi dengan pendamping yang juga mencari ridho nya Allah, agar terlahir generasi yang soleh dan solehah kebanggaan bagi agama dan bangsanya.
Oh ya sekali lagi aku katakana aku bukan Oki Setiana  Dewi jadi tak perlu kau berharap aku akan menjadi seperti nya, karena bagi ku hidup adalah menjadi yang terbaik dari diri sendiri, hidup dengan menyebar manfaat.

Minggu, 23 Desember 2012

Berkarya dan berbuat, jangan berhenti

Sabtu pagi ini bersiap siap untuk mengikuti sebuah acara yang di sms oleh salah seorang akhwat teman ku di satu organisasi, setelah selesai melakukan pekerjaan rumah , dan urusan pribadi aku pun segera menuju ke lokasi,  namun sebelumnya aku ada janji untuk menjemput Resti dulu, kebiasaanku dari dulu jika ada kegiatan – kegiatan seperti ini aku selalu mengajak akhwat akhwat di dekatku, aku ingin mereka dan aku sama sama belajar setiap harinya tidak peduli seperti apa bentuk belajar nya. Aku sadar aku  tidak bisa membekali kehidupan ini dengan teori teori di majelis atau forum bagi ku mengikut sertakan mereka dalam kehidupan yang real jauh lebih bermanfaat. Seperti  banyak nya manfaat yang aku dapatkan disini aku pun juga ingin mereka merasakan hal yang sama.
Walau sudah sedikit telat dari waktu yang di sms oleh temanku kami masih menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu tidak mau mengambil resiko dengan serangan maag yang akan menganggu aktifitas seharian ini mengingat masih banyak yang harus aku lakukan. Semangkuk bubur ayam  kami santap dengan lahapnya.  Selesai sarapan kupacu kendaraan lansung ke tempat acara, pagi ini kami dimintai tolong untuk menyebarkan 1000 bunga sempena dengan hari Ibu  oleh Ibu Iin istri dari wakil walikota Pekanbaru. Karena kedatangan kami yang telat rombongan telah bergerak duluan, janjian bertemu di tugu Zapin alih alih kami putar arah kendaraan menuju Jl sudirman setelah sebelumnya kami sempat menyusul rombongan di RS Zainab. Tak beberapa lama kami sampai di Tugu Zapin tepat di samping Mapolda Riau.  Kami  akhirnya bertemu dengan rombongan Ibu ibu dari Yayasan Peduli Keluarga pimpinan Ibu Iin sendiri. Akhirnya demi menghemat waktu mengingat bunga yang akan di bagikan masih cukup banyak maka rombongan pun dibagi beberapa kelompok menyebar ke berbagai pusat keramaian di Kota Pekanbaru.





Pasar bawah pun menjadi tujuan aku dan Resti  untuk menyebarkan bunga, sebagian kelompok ada yang ke pasar pusat, pasar pagi di Jl Arengka.  Setiba di sana setelah memarkirkan kendaraan kami segera melangkahkan kaki menuju lapak penjual sayuran, Ibu ibu yang ditemui kami berikan bunga, dengan tak lupa menyampaikan salam dari Ibu Iin, tidak hanya Ibu ibu bapak bapak penjual Ikan pun ikut meminta bunga alasannya buat dibagikan ke Istrinya dirumah.”buat orang rumah nak..” kata sang bapak, Ibu ibu yang tidak mengerti maksud kami memberi bunga bertanya ini dan itu, kenapa  Buk Iin (sapaan akrab Istri wakil walikota) menyebarkan bunga nak..?, bahkan ada yang request “nak Ibuk minta yang warna merah ya..Ibu suka warna merah”, bahkan ada yang titip salam “nak salam ya buat Ibu cahyadi ..” bahkan engkong-engkong cina yang tengah menjaga toko pun ikut menyerbu kami, si engkong entah apa maksudnya bahkan meminta  dua tangkai.. bahkan seorang Mbak mbak penjual koran malah meminta bunga kami untuk Ibunya yang tengah sakit dirumah sakit. “Mbak minta ya buat Ibu saya yang lagi sakit ya..” kelakar-kelakar penghuni pasar ini menyejukkan hati kami, kebersamaan tanpa embel embel, yap..hanya untuk berbagi kebahagiaan di hari  ini tanggal 22 desember , walau sesungguhnya budi baik seorang Ibu tak akan pernah bisa terbalasakan bukankah kita hanya di minta berbuat baik saja, karena jasa ibu tak akan bisa dibalas walau laut dan isinya ditangkupkan.  
Lega rasanya harus berbagi dengan mereka semua, momen momen seperti ini tentu tak bisa kita rasakan jika kita tidak langsung bertemu dengan mereka, ada kepuasaan yang terpancar dari raut wajah pedagang  di pasar  ini, dari masyarakat yang di katergorikan menengah kebwah, dari orangorang yang sering kita katakan sebagai masayarakat yang kurang pendidikannya, lalu tahu apa kita tentang kesusahan hidup mereka, dari jerit pahit mereka, bahkan untuk menebus obat yang paling murah sekalipun. Kita sering  membuat  kajian kajian teoritis tentang kesusahan hidup mereka, tapi semua sayangnya hanya sampai di wacana saja tanpa eksekusi, ya..bagaimana mau eksekusi, jika mengurusi diri sendiri kita tak selesai. Padahal  sering kita katakan di orasi orasi ilmiah yang seolah olah begitu sangat ilmiah, dengan narasi narasi yang terlihat sangat luar biasa.lalu kapankah kita turun, kenapa terlalu lama kita memberi alasan untuk menyentuh mereka , kita masih berkutat di urusan internal saja, mengurus alas an alas an kemalasan kita. Ah..lalu apa bedanya kita dengan mereka yang juga hanya sampai di konferensi atau debat tak ada penghujungnya itu.
Teringat kembali beberapa bulan yang lalu ketika  mengawal kegiatan SISTER di daerah Tenayan Raya daerah Badak, daerah yang mayoritas penduduk nya membuat batu bata, bertemu dengan ibu ibu majelis taklim yang semua nya hidup dalam kesederhanaan, bahkan Musholla pun sangat terlihat ala kadarnya, tak ada pagar pembatas antara jalan dengan halaman, dalam keadaan penuh dengan keterbatasan mereka tak lupa untuk senantiasa memuliakan tamu, sajian kue sederhana tetap mereka suguhkan kepada kami, acara sore itu berakhir dengan penuh harapan dari Ibu ibu disana, betapa mereka sudah sangat merindukan perubahan.
Ah…kadang aku berfikir, dan aku mulai dengan melihat realita disekelilingku, mahasiswa dengan segala permasalahannya, urusan akademis, perkuliahan, tugas  yang telah menyita kehidupan mereka dengan realita sosial, apakah memang kehidupan kampus sekarang telah menjadi jurang pemisah realita itu? Entah lah.. lalu ada sekelompok lagi yang sibuk berkutat dengan organisasi namun tak pernah selesai dengan urusan urusan yang bahkan sangat sepele, lalu sering aku bertanya apa mereka dilahirkan hanya untuk berwacana saja,mereka yang menamai diri mereka dengan pejabat kampus pun kadang hanya sibuk di urusan menghadiri seminar, simpsoium atau mengahdiri undangan dan di akhir masa kepengurusan sibuk foto bareng, tidak kah amanah sekecil apapun akan dipertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Ya..lagi lagi aku berfikir bahwa masyarakat Indonesia ini adalah tipikal orang yang sangat sabar dalam penantian, bagaimana tidak dia harus sabar melihat pertikaian elit politik yang hidup dalam kemewahan yang selalu membawa nama _atas nama rakyat_ ke mana pun dia pergi, bahkan rakyat harus sabar menahan air liur melihat pemimpin nya menyantap kehidupan mewah, mereka harus selalu bersabar  dengan fasilitas umum yang sangat tidak layak yang diberikan oleh pejabatnya. Namun aneh nya   bapak bapak pejabat itu masih bisa dengan bangganya mengatakan di baliho bahwa mereka adalah sosok yang sangat merakyat, peduli dan penuh integritas dimana mereka mengatakan itu ketika istri dan anaknya tampil mentereng meminjam uang rakyat. Ah.. kasihannya menjadi rakyat Indonesia..
Dan kini berpuluh tahun sejak Soeharto menjajah Indonesia ditambah pasca lengesernya ke Primbon  oknum oknum penikmat uang rakyat masih banyak di negeri ini  namun beberapa muncul  dengan melawan arus politik yang kejam, mereka yang berani mengatakan tidak pada KKN, mereka yang amanah, mereka yang tampil sederhana dan narasi narasi mereka telah terwujud dalam perilaku dan masyarakat pun bangga pada mereka mereka yang jumlah nya sangat sedikit itu. Tentu nya Indonesia butuh sangat banyak sosok sosok amanah itu, tidak cukup 100 tetapi harus ribuan atau bahkan jutaan.
Di hari Ibu ini aku berfikir kembali bahwa setiap perempuan yang lahir di Indonesia ini mempunyai “kewajiban” untuk melahirkan pemimpin pemimpin luar biasa , setiap kita baik laki laki dan perempuan wajib berbuat baik dan menyebarkan kebaikan itu kepada semua orang. Kita tidak bisa duduk diam saja tapi harus berbuat, lakukan kebaikan sekecil apapun untuk mereka masyarakat yang membutuhkan perubahan, meyuapi  tentu bukan perkara bijak tetapi memberikan kail mungkin bisa jadi alternatif  untuk membuat hidup mereka lebih baik. Aku sering terkagum kagum pada sosok Ibu ibu penggerak di sekelilingku yang luar biasa, Ibu ibu yang tak kenal henti memberikan kebaikan, tanpa melalaikan kewajiban sebagai seorang Istri, mereka tak pernah kenal  lelah mengajarkan kebaikan kepada orang lain,di manapun orang orang itu berada. Tak ada keletihan dan keluh kesah pada wajah mereka.mereka yang kusebut dengan perempuan penginspirasi  untuk hidup ku. Ah.. ibu ibu luar biasa.. seperti Mama ku yang juga luar biasa, yang tak pernah melarang ku untuk berkarya dan berbuat untuk orang banyak. Mama dan Ibu ibu itu luar biasa.
Dan  izinkan aku berkata kepada ibu ibu pembuat batu bata, ibu penjual kue, ibu ibu penjual koran, ibu guru, ibu ibu pemetik sayuran , ibu penjual jamu, mohon izinkan aku dan teman teman ku yang sevisi dengan ku  atas nama kalian berjanji untuk tetap berkarya dan berbuat, bersama sama menyonsong perubahan. Izinkan kami  menyentuh kalian, senyum kalian yang jauh dari polesan make up, jauh dari gemerlapnya eye shadow ,lipstik ,atau  blus on mahal menjadi kebahagaian bagi ku.  
Ria Bustanudin
Ketua Salimah kec. Tenayan Raya

Kamis, 29 November 2012

Loe udah punya apa?? udah melakukan apa??



Aku benar – benar suka merasa heran dengan banyak nya realita di sekitar ku, banyak anak muda yang  sombong  merasa dirinya paling hebat, aih…aku benar – benar heran dengan orang orang seperti ini. Selama aku kuliah banyak hal tipe manusia yang seperti itu yang kutemui. Petantang petenteng kesana kemari, ngomong pake istilah ilmiah, merasa paling mengerti hukum orang lain selalu salah. Bicara nya seolah olah sudah merasa paling benar saja. Aih… aku sering bertanya tanya apakah yang menyebabkan kesombonngan di hati mereka. Dulu aku pernah tergabung di majalah kampus, 4 tahun lebih aku disana. Hilir mudik bersileweran orang masuk di dalamnya. Lebih variatif sifat yang aku kenal, begitu juga ketika aktif di BEM tak sedikit aku bertemu dengan orang yang sombong nya naudzubillah.. ada pejabat kampus yang ngerasa paling oke banget,, semua orang gak ada yang bener, yang bener tuh dia ama group sanggarnya, ujung ujung nya sih bicara kepentingan, semua nya berlatar kepentingan. Yap..kepentingan  yang ujung ujung nya bermuara kepada kepentingan pribadi
 Kembali kembali lagi dengan keheranan ku dengan kesombongan orang orang yang merasa paling benar itu, ada orang yang koar koar mengkritik semua kebijakan yang di buat oleh pimpinan ex; kampus, sampai mengkritik pun sudah tak lagi pake logika, nafsu merasa paling benar dan semua orang salah. Lalu aku berfikir nih orang apa sih yang dibanggakannnya.. emang nya udah berapa karya sih yang dihasilkannnya, udah berapa ribu kebaikan yang sih dilakukannya, trus udah berapa juta umat yang merasakan manfaat dari dirinya, sehingga mudah sekali menyalahkan semua orang. Merasa bangga dengan membawa bawa organisasi yang diikutinya, nah nih dia yang sering ku temui orang yang merasa paling hebat karena berada di organisasi yang sudah tua (ingat Tua bukan karena hebatnya). Ada orang yang akhirnya lupa daratan karena dibuai memori masa  lampau, aduhhh.. duhai  manusia lupa kah kau besarnya organisasi mu bukan karena dirimu seorang dinda, ada banyak campur tangan orang di dalamnya, ada masa yang telah dilewati yang membuat namamu organisasi di kenal orang. Lalu apa yang harus kau sombongkan jika untuk bergerak saja kau masih mengemis pada orang lain. Bukan kah setiap bulan kau pun menadahkan tangan kepada pimpinan yang kerap kau maki. Agar dana proposal mu cair. Kau boleh merasa paling hebat jika kau telah melalukakn banyak hal yang tak dilakukan orang lain, kebaikanmu kurva nya diatas orang lain.. maka boleh lah kau bangga bukan kah Firaun dan qorun pun sombong karena dia memilki banyak harta. Apakah kau Raja yang di pilih rakyat, yang paling kaya, yang paling banyak berbuat, sehingga pantas kau sombong?? Aih… berkaca lah dinda..
Aku pun sering merasa jengah dengan beberapa tingkah laku beberapa aktivis di kampus yang suka sekali mencari celah kesalahan orang lain, hingga beberapa kali orang orang seperti ini terpaksa aku block dalam hidup ku, aku sudah paling tidak bisa terima jika sudah masuk pada masalah fitnah memfitnah, bahkan kalian ada yang menyamakan organisasi ku  dengan yahudi laknatullah. Naudzubillah haruskah aku masih memanggil mu saudara ku, jika kau telah samakan kami dengan yahudi atau Israel laknatullah itu. Aku tidak tahu apakah kau memang terlahir sombong atau kah ashobiyah mu yang menyebabkan kau sombong, organisasi mu sudah sebebrapa hebatnya di dunia ini?? Bukankah Jutaan orang di dunia mempertanyakan kerja nyata organisasi anda bung?? Jika dulu sebelum kau bergabung dengan organisasi yang kau kalian klaim hebat itu ukhuwah kita baik obrolah kita menyenangkan, ada rindu untuk berdiskusi dengan mu, lalu kenapa sekarang kau jadikan kami musuh ketika kau ada di organisasi itu, hei,… teman kalau di tempat ku ketika hijrah menjadi pilihan maka saat itu juga kami diajarkan untuk tetap menjaga ukhwuah.. apakah kau tidak diajarkan demikian??? Ah..sayang sekali kalo begitu.
                Ah..entah sampai keheranan ini mengikuti..aku rasa tak kan habis sampai dunia kiamat. Karena orang orang seperti ini pasti aka ada terus sampai kebenaran itu disingkap denga nyata oleh pembuat kebenaran itu. 
“sombong  itu hanya milik Allah dan tdak di peruntukan buat mahkluk “
Ya Allah melalui tulisan ini
Satu pintaku
Jauhkan aku, keluarga ku, pendamping ku, anak cucu ku dan keturunan ku kelak
Dari sifat sombong
Dari sifat keji
Dari sifat bangga dengan kebodohan
Dari sifat alpa untuk mengedepankan ilmu dan amal
Ya Allah betapa takutnya kami jika ada secuil kesombongan dalam hati kami
Bantulah kami membersihkannya ya Allah
Bantu lah kami mengikis nya Ya Allah
Sungguh Ya Allah betapa aku takut dengan kesombongan itu

Ria Bustanudin
Pekanbaru di suatu pagi

Minggu, 14 Oktober 2012

Jelajah Gizi _ Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah

 
Add caption
Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah
Asam Pedas Ikan Patin adalah nama masakan khas dari Provinsi Riau. Provinsi ini   terletak di bagian tengah pulau Sumatra, dan terkenal dengan sungai  nya yaitu sungai Siak, Riau sendiri berpenduduk sekitar 5.543.031 jiwa. Riau telah didiami oleh berbagai suku dan etnik budaya, satu suku yang terkenal banyak mendiami wilayah ini adalah suku Melayu dengan persentase sekitar 37,74%, selanjutnya ada Minang, Jawa, Bugis, Batak dan Cina.
 Letaknya yang berdekatan dengan selat Malaka menjadikan Riau sebagai daerah transit para pedagang pada masanya, kekayaan alam nya yang berasal dari laut dan sungai  mempengaruhi pula berbagai kuliner khas nya. Berbagai penganan kebanyakan berbahan dasar ikan, hingga tak mengherankan jika  ikan menjadi satu dari komoditi andalan provinsi Riau. Tak  terkecuali dengan makanan yang satu ini, yaitu Asam Pedas Ikan Patin, walau tak dapat dinafikan jika asam pedas juga terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Asam pedas ada hampir di seluruh wilayah Sumatra dan semenanjung melayu. Masakan ini  sendiri juga terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang mayoritas penduduk nya bersuku melayu, orang minang menyebut nya Asam Padeh, sementara Aceh menyebutnya dengan Asam Keueng. Dalam sejarahnya tidak diketahui dengan pasti asal muasal asam pedas, di Malaysia asam pedas juga menjadi salah satu masakan khas mereka. Sementara di Riau Asam pedas yang sangat  terkenal yaitu asam pedas ikan patin. Ini menjadi salah satu ciri khas kuliner Riau,  masakan ini menjadi sangat popular baik di restoran-restoran maupun dalam santap di rumah tangga, ibarat kata kurang lengkap rasanya jika ke Riau belum mencicipi Asam Pedas Ikan Patin yang sangat menggoda selera ini. Di Pekanbaru khususnya Asam Pedas Ikan Patin disajikan tidak hanya di restoran atau rumah makan khas melayu saja tapi kita bisa menemukannya di restoran-restoran padang atau jawa, dan biasanya Ikan Patin lansung didatangkan dari para nelayan di tepi sungai Kampar, karena kelezatannya yang menggoda Asam Pedas ikan Patin disukai oleh banyak orang dan digemari semua kalangan. Belum lagi tambahan asam belimbing dalam sajiannya menjadikan kuliner ini benar-benar sayang untuk dilewatkan .
Riau sendiri menjadikan asam pedas  bagian dari seni  memasak masyarakat melayu yang tak boleh di tinggalkan, rasanya yang asam dan pedas sangat cocok dengan lidah orang melayu dan dapat diterima oleh yang lainnya.  Asam pedas ikan patin di olah dengan cara di masak  bersama bumbu-bumbu nya yang terdiri dari berbagai bahan asli Indonesia, aroma pedas yang berasal dari cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas yang ditumbuk sampai halus lalu ditambah dengan belimbing wuluh/asam belimbing, serai, daun jeruk dan daun salam membuatnya sangat fresh ketika dimakan, belum lagi ikan patin yang memiliki banyak manfaat seperti asam lemak tak jenuh Omega-3, Selenium, dan Taurin. Yang mana kita tahu bahwa Omega 3 bagus untuk proses perkembangan otak pada janin dan penting untuk perkembangan fungsi saraf dan penglihatan bayi. Sementara selenium sendiri berfungsi untuk membantu metabolisme tubuh dan sebagian anti oksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas. Konsumsi ikan Patin akan memberikan kecukupan lemak harian, dan lemak dibutuhkan oleh tubuh sebanyak seperempat hingga sepertiga dari total kalori sehari.
 Ikan patin menjadi ciri khas kuliner khas Riau yang kental dengan budaya melayu ini,  Pengolahannya hanya menggunakan sedikit minyak untuk menumis bumbu,  tekstur ikan patin  yang lembut tidak mengharuskan ikan ini di masak lama sehingga tidak banyak kandungan gizi yang hilang karena pengolahan yang lama, biasanya setelah bumbu yang ditumis di beri air dan ditunggu mendidih ikan baru di masukkan, tidak menunggu sekitar 5 sampai 10 menit  asam pedas siap disajikan, untuk menambah cita rasa bisa ditambahkan potongan tomat merah ke dalam kuahnya yang segar, kuah asam pedas ikan patin tidak memilki tekstur yang kental seperti asam pedas yang terdapat di tempat lain, kekentalannya yang mirip TomYam dari Thailand membuat makanan ini cocok disajikan dengan sepiring nasi panas, warna kuah nya yang begitu berselera dan tekstur ikan yang lembut dan creamy tentu tak dapat dilupakan. Ini lah yang membuat masakan ini begitu familiar di masyarakat, pengolahannya pun mudah, dan lagi Ikan Patin tidak sulit untuk di cari. Tentunya masakan ini menambah lagi Khasanah kuliner Indonesia. Rasanya yang asam dan pedas, dengan potongan ikan yang lembut dan lumer di mulut ditambah kandungan gizi yang banyak cocok untuk disajikan dalam menu masakan keluarga, menambah gizi, murah dan sehat.  

Sumber :
PW BKMT Provinsi Riau, 2005. Aneka resep Masakan Melayu Riau. Yogyakarta. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
http://id.wikipedia.org/wiki/Riau
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_pedas
http://cuek.wordpress.com/2012/05/24/gulai-asam-pedas-ikan-patin-riau/
http://shintaprastantidewi.blogspot.com/2012/06/kayanya-manfaat-ikan-patin.html