Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Januari 2012

Khalid bin Walid adalah legenda perang dunia.





Kisah Tiga Sahabat Mulia

Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan Abu Dzar al-Gifari. Tiga sahabat Rasulullah yang amat masyhur kemuliaannya, semoga Allah merahmati beliau. Mereka merupakan simbol perlawanan, simbol perjuangan.

Umar bin Khattab adalah mantan jagoan Mekkah. Saat seluruh kaum muslimin berhijrah ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, justru Umar memproklamirkan hijrahnya. “…Barangsiapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya jadi yatim atau istrinya jadi janda; temui aku di balik lembah itu!!!”, teriaknya lantang di tengah musyrikin Quraisy di Ka’bah.

Khalid bin Walid adalah legenda perang dunia. Mantan aktor utama kekalahan Rasulullah dalam perang Uhud itu menjadi panglima paling brilyan dalam naungan Islam. Dialah Syaifullah yang menyelamatkan ribuan jiwa sahabat dalam perang Muktah. Dialah yang mengusir Heraklius sang jendral besar Romawi dari Syam. Heraklius sendiri amat meratapi kekalahannya dari singa gurun pasir itu. Dia pulalah yang meluluh lantakkan Musailamah al-Kadzdzab si nabi palsu yang sudah banyak membunuh sahabat Rasulullah.

Abu Dzar al-Gifari dari suku Gifar, suku yang tiada taranya dalam menempuh perjalanan padang pasir. Mereka menjadi tamsil perbandingan dalam perjalanan yang luar biasa, baik malam atau pun siang hari tidak masalah bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar bertemu suku Gifar di malam hari!!!. Abu Dzar mewarisi sifat keras dan militansi sukunya. Saat baru masuk Islam, beliau dengan lantang mengucapkan syahadat di depan Ka’bah. Teriakan pertama tentang Islam diproklamirkan untuk menentang kesombongan Quraisy, justru dilakukan oleh perantau asing yang tidak punya kerabat atau pembela. Tak ayal, Abu Dzar habis dihajar masyarakat Quraisy. Baru pulih sedikit dari lukanya, Abu Dzar ingin bergegas melakukan provokasi itu sekali lagi. Untunglah segera dicegah para sahabat.

Ketiga sahabat militan itu memiliki “garis hidup” yang berbeda pasca kejayaan Islam. Umar sang jagoan berubah menjadi laki-laki lembut yang mudah menangis saat memegang tampuk khilafah. Kekuatan dan kecerdasannya membuatnya sukses memperluas dan mengelola wilayah Islam yang amat besar. Membentang dari perbatasan Hindustan hingga sungai Nil, dari Hadramaut hingga Armenia.

Khalid sang panglima seakan ditakdirkan hanya sebagai prajurit sejati. Namun gagal saat melakoni peran barunya sebagai Gubernur penaklukan Armenia. Beliau memilih memberikan harta kepada para pembesar untuk memperkuat fondasi pemerintahan dari pada kepada rakyat banyak. Hal ini amat membuat berang khalifah Umar bin Khattab. Beliau mencopot panglima besar itu dan mengirimnya balik ke Madinah.

Abu Dzar al-Gifari sang radikal revolusioner justru tidak diberi kesempatan menjadi pemimpin. Saat hampir seluruh sahabat terbaik Rasulullah memegang berbagai amanah publik dan strategis, Rasulullah menetapkan Abu Dzar tetap seperti sedia kala. Namun justru dari sinilah, Abu Dzar melakukan peran otokritik yang amat efektif. Sepeninggal khalifah Umar, hampir semua pejabat berlomba memperkaya diri. Disinilah Abu Dzar muncul, beliau berjalan dari satu negeri ke negeri yang lain mengontrol perilaku penguasa dan mengajak mereka kembali hidup sederhana.

Sekarang tantangan zaman terus berkembang. Dan perubahan memang menjadi watak dunia ini. Hanya satu hal terus konsisten, yaitu perubahan itu sendiri.

Maka, kenalilah perubahan dan berbagai tantangannya. Jangan lagi terjebak pada romantisme masa lalu. Para sahabat tidak berlama-lama mengenang sulitnya hidup di Mekkah, atau susahnya perjalanan hijrah. Bagaimana menjayakan Islam diseluruh penjuru dunia. Bagaimana mengelola pemerintahan dan masyarakat yang kian luas dan majemuk. Itulah yang menjadi perhatian besar mereka. Semua tantangan itu sudah cukup membuat mereka sibuk hingga tidak ada waktu untuk berselisih dan berpecah-belah.

Tidak ada waktu untuk melakukan berbagai hal yang justru memberatkan langkah derap perjuangan ini. Sebagaimana ucapan Rasulullah bagi orang-orang tertinggal dalam perang Tabuk :

“Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan Allah susulkan untuk kalian. Dan andaikan tidak, maka Allah telah membebaskan kalian dari padanya”.

Sahabatku yang baik, semoga Allah memberikan keistiqomahan kepada anda, dan bagi yang belum tergabung dengan kafilah perubahan…Bergabunglah.

Wallahu a’lam.

(Disunting dari majalah Al-Izzah)

“Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya




Januari 28, 2010 (diambil dari tulisan Edi Purnama/ Jakarta) 
Risalah Untuk Para Ikhwan dan akhwat 

Akhii, kutuliskan risalah ini bagimu. Bukan karena apa. Kau adalah saudaraku, Akhii fillah. Karena Allah Ta’ala.

Akhii, sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jemari Ar Rahman. Maka beruntunglah orang yang dihadapkan hatinya pada ketaatan pada Allah Ta’ala. Sungguh benarlah doa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam panjatkan, “Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘alaa tha’atika” (Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkan hati kami di atas ketaatan pada-Mu)

Akhii, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Manusia, ya Akhii. Tak terkecuali. Laki-laki maupun wanita.
 Tahukah kau wahai Akhii, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya yang artinya, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”

Dan agama kita yang mulia juga telah mengajarkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis yaa, Akhii. Bila kita tapaki perjalanan salaful ummah, kita akan temukan betapa mereka menjaga adab-adab tersebut.

Maka tidak layak bagi kita untuk bermudah-mudah dalam bergaul dengan lawan jenis. Janganlah bermain-main dengan kehormatan, yaa Akhii. Allah Ta’ala selalu mengawasi kita di manapun dan kapanpun. Apakah itu dalam kamar tertutup rapat, ketika kau sedang asik ber-SMS dengan wanita yang bukan mahrammu tanpa keperluan yang mendesak. Sama sekali bukan untuk hal yang membawa mashlahat, hanya untuk mengatakan,

“Ap kbr, Ukhti? Lg sbk ap skrng?”
 “Smgt ^_^”
 “Ttp senyum nggih =)”

Atau untuk sekadar mengirimkan nasehat. Entah itu terjemah Al Qur’an, potongan hadits, atau perkataan ulama. Apa maksud yang ada dalam hatimu, yaa Akhii? Banyak teman-teman ikhwan yang lebih berhak kau beri perhatian dan nasehat. Na’am, murni perhatian dan nasehat, tanpa tendensi apapun.

Tahukah yaa Akhii, terkadang syaithan menghiasi keburukan sehingga menjadi tampak indah. Bahkan terkadang syaithan membuka sembilan puluh sembilan pintu kebaikan untuk menjerumuskan manusia kepada satu pintu keburukan.

Akhii, Ibnu Taimiyah pernah berkata yang artinya, “Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah.”

Yaa Akhii, tidakkah kau ingin meneladani Yusuf ‘Alaihis Salam? Seorang pemuda yang menjaga iffah-nya yang dijanjikan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya.

Yaa Akhii, mungkin kau sudah pernah mendengar sebuah hadits dari Nau’as Ibni Sam’an radiyyallahu anhu yang artinya, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.”

Yaa Akhii, kebahagiaan sejati tidak akan diperoleh dengan cara yang haram. Percayalah itu. Cara ini hanya akan menimbulkan kesusahan dan kerusakan pada diri serta terbuangnya harta dengan sia-sia. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.

Terakhir yaa Akhii, saya akan nukilkan perkataan Salman Al Farisi radiyyallahu ‘anhu dari Ja’far bin Burqan yang artinya, “Ada tiga orang yang membuatku menangis dan tiga orang lagi membuatku tertawa. Aku tertawa melihat orang mengejar dunia sedangkan kematian telah mengintainya, orang berbuat lalai berbuat padahal dirinya tak pernah dilupakan, dan orang banyak tertawa, sedangkan ia tidak tahu apakah Allah murka ataukah ridha kepadanya. Dan aku menangis karena kepergian orang-orang yang dicintai, yaitu kepergian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya, kedahsyatan yang sangat mengerikan saat berada di pintu kematian, dan saat berdiri di hadapan Rabb semesta alam, yaitu ketika aku tidak mengetahui apakah aku akan dikembalikan ke surga atau ke neraka.

Kuharap risalah ini memperberat timbangan amal kebaikanku kelak. Pada hari di mana harta dan anak takkan berguna kecuali orang yang menghadap Allah Ta’ala dengan hati yang selamat.
 Wallahu’alam.

“ana sudah tidak sanggup lagi akh, mendingan ana mengundurkan diri….”

Diambil dari Tulisan Bang Edi Purnama (Jakarta)
Oktober 11, 2010
Meniti jalan profesional (Itqonul amal..)

“ana sudah tidak sanggup lagi akh, mendingan ana mengundurkan diri….”

Demikianlah bisikan seorang ikhwan di tengah syuro yang berlangsung cukup ‘memanas’. Suara ikhwan di balik hijab pun kian tinggi saja, bersahut-sahutan dengan sanggahan seorang akhwat di sisi lain.

Menjelang hari H, masih banyak pekerjaan panitia yang belum tuntas. Bagi segelintir panitia, P4L (pergi pagi pulang pagi lagi) tampaknya jadi kemestian. Dan hari itu tibalah, jumlah peserta melebihi target dan seluruh pendukung acara hadir, Alhamdulillah. Acara selesai dan dianggap lumayan sukses walau menyisakan hutang hingga bilangan jutaan.

“Dari mana kita melunasi hutang itu akh..?”

“Kita minta sama Allah”

Ba’da itu, sebagaimana tiap usai sebuah kegiatan, diadakanlah muhasabah. “Mari bersama-sama kita lapangkan dada serta membuang semua prasangka yang bisa merusak keikhlasan hati. Hendaknya selesai dari sini, kita semakin dikuatkan, semakin kokoh sebagai rijalud dakwah. Bukan sebaliknya…”, demikianlah taujihat ikhwan yang bertindak sebagai Steering Committee (SC). Sore itu masing-masing panitia bersalaman, berpelukan, dan ada juga yang terharu sambil bergumam, “Gak nyangka ya, ternyata Forkalam bisa melakukan acara ini, padahal keuangan kita hanya sedikit…hmm”.

Ini bukan penggalan fiksi, dan kisah di atas sebenarnya masih panjang lagi. “Kasus-kasus” klasik tentang kerja yang terdistribusikan hanya pada sedikit orang, Oknum panitia yang tidak amanah, ‘gesekan-gesekan’ antar personal, dan masih banyak lagi yang ikut menghiasi kinerja kepanitiaan itu.

Belum lagi berbicara tentang ‘penzholiman’ terhadap keluarga, orang tua dan saudara di rumah yang juga harus sering menahan kedongkolan karena jomplangnya perhatian sang aktivis antara dakwah di kampus dengan perhatian terhadap keluarga. Belum lagi ancaman mengulang kuliah gara-gara sering ditinggal manakala ada agenda, dan pada yang sama terngiang jargon : “Jasad kuat, dakwah hebat, IP 4”

Kalau sudah begini, alih-alih mensugesti diri dengan kalimat tauhid “ innallaha ma’ashshobirin”, bisa-bisa yang terucap malah :”pusiiiiing!…..”

Mari kita berbenah….



Al-Insaan

Prinsip Al-Insaan yang kita pahami adalah bahwa setiap manusia punya tiga potensi : hati (ruh), otak (aql), dan jasad. Kelengkapan tiga potensi ini merupakan syarat mutlak bagi seseorang agar berdaya secara utuh.

Walaupun konsep ini sudah jadi santapan sejak awal tarbiyah (pembinaan), namun realisasinya memang tak seindah dan semudah yang dibayangkan. Tuntutan untuk bisa menjadi da’i yang itqon (professional) dan cerdas berbarengan dengan tuntutan untuk menjaga hubungan antar manusia.

Pada saat seorang da’i terjun dalam aktivitas dakwah ammah, itqonul amal tampaknya memang jadi keniscayaan. Berbekal hamasah untuk meninggikan izzah diennya, profesionalisme menjadi kata yang ditulis besar-besar dalam buku agenda.

Walau demikian, jangan lupa da’i (yang notabene adalah manusia juga) bekerja dengan manusia juga. Dan tidak semua tipikal manusia bisa bekerja secara otomatis, layaknya mesin. Ada manusia yang begitu perasa dan ada pula yang sangat teoritis. Ada yang unggul dalam penguasaan fikroh, ada yang unggul dalam rutinitas ibadah mahdhah. Begitu seterusnya. Begitu beragamnya manusia, hatta manusia yang sama-sama tertarbiyah.

Anyway, once again, basically all human beings need to be filled in those three potentions. Semuanya butuh asupan untuk memenuhi keseimbangan fungsi-fungsinya. Maka, manakala seorang da’i menjadi “mati rasa”, menjadi sedemikian mekanis layaknya mesin, ia perlu ingat bahwa mesin pun butuh pelumas.

Kesuksesan sebuah amal dakwah, taruhlah sebagaimana kegiatan pada kisah di atas, tidak dapat di ukur hanya dari variabel-variabel yang kasat mata. Membludaknya peserta atau peliputan berbagai media massa, tidak cukup menjadi indikator sukses sebuah amal dakwah apabila menyisakan hubungan yang retak. Ukhuwahlah yang seharusnya mampu menjadi pelumas mesin itu. Dan ukhuwah, sangat terkait dengan ikatan hati (ta’liful qulub), terkait dengan kemampuan untuk berhubungan secara interpersonal. Sedangkan kekuatan hati itu tergantung pada quwwatus sillah billah (kekuatan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya).

Demikian pula, da’i tidak bisa berkutat pada hubungan interpersonal semata dengan mengabaikan kerja-kerja teknis yang dibutuhkan bagi sebuah seminar, aksi, atau agenda lainnya agar menjadi sebuah kegiatan yang layak. Kegiatan itu toh juga butuh pasukan yang jiddiyah mencari dana, menyebarkan publikasi, menata setting acara, dan kerja-kerja operasional lainnya.

Semestinya tidak ada potensi manusiawi yang terdzolimi demi memenuhi yang lain. Mendzolimi hati bisa berakibat turut terdzoliminya fikri dan jasmani. Demikian pula sebaliknya.

Berharap bisa professional, namun mengesampingkan kedekatan hati, baik antar personal maupun dengan Khaliknya, maka rasa-rasanya itu pun termasuk kezholiman.



Ketawazunan Jama’i

Oleh karena itu dalam setiap aktivitas yang melibatkan insan, sekompleks apapun kondisinya, seberagam apapun kasusnya, insya Allah akan menjadi aktivitas yang sukses tidak saja secara lahiriah namun juga kesuksesan secara yang hakiki, asal masing-masing dari ketiga potensi itu dipenuhi kebutuhannya secara adil. Dan bukankah itu adalah itqonul amal yang sesungguhnya?.

Dengan begitu, konsep ketawazunan dalam Al-Insaan hendaknya dipahami sebagai konsep yang tidak berlaku fardhi atau bagi orang per orang saja, namun lebih kompleks lagi juga berlaku di dalam sebuah sistem amal jama’i.

Yakinlah bahwa teori yang indah di atas kertas itu juga bisa terwujud di lapangan bila setiap da’i tak hanya taat mengikuti ta’limatnya, melainkan juga taat mejalankannya.

Bila penzholiman demi penzholiman ini masih terjadi juga, maka mungkin di sela-sela kepenatan beraktivitas dakwah, kita perlu berkontemplasi sejenak. Perlu membuka-buka lagi lembaran madah liqo’at kita, dan tentunya juga membuka mata dan hati kita.

Sebagaimana jingle iklan sebuah kopi instant: “Buka mata, buka hati, buka pikiran…”

Sesungguhnya bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Wallahu’alam.

(Materinya diambil dari majalah Al-Izzah)

———

Edi Purnama

Februari 2010

terima kasih pada semua pihak yg telah menginspirasi…

Rabu, 09 November 2011

Memperingati Hari Pahlawan di Riau negeriku


Memperingati Hari Pahlawan di Riau Negeriku 

Peringatan 10 November setiap tahunnya terasa sama saja, bagi sebagian besar perayaan 10 November hanya diperingati sebagai Hari dimana kita mengenang jasa para pahlawan kita. Setakat itu kah?? Iya. Karena hanya itu yang  dapat kumaknai selama ini semenjak  duduk di bangku sekolah. Namun kini ketika Bangku perkuliahan memperkenalkan arti dan tentang hidup, maka aku  seperti ditampar supaya  dapat memahami lebih jauh akan arti pahlawan dan makna tanggal 10 November.
Aku bahkan tidak hapal  semua nama-nama pahlawan di Indonesia, yah..paling banter yang bisa diingat adalah Pangeran Dipenogoro dengan Sorbannya atau Bung Tomo atau  R.A Ajeng Kartini. Dan nama beberapa orang. Yah.. paling-paling yang  ku tahu dari semua pahlawan-pahlawan itu adalah perjuangan mereka membela Indonesia. Lagi-lagi hanya setakat itu. Maka setelah itu jangan kalian tanya apa-apa lagi. Karena pasti ku tidak bisa menjawab apa-apa pun lagi. Maka sudahlah..jangan kita perdebatkan lagi tentang pahlawan-pahlawan yang telah mendahului kita. Tetap saja besok kita akan memperingati Hari Pahlawan  toh tidak akan berubah.
Sekarang kita kembali kemasa kini, masa dimana kita tengah mencari pahlawan, sesseorang yang akan membawa Riau ini ke pada sebuah perubahan. Perubahan Besar, dimana tidak ada lagi yang kelaparan, tidak ada lagi yang tidak bersekolah, tidak ada lagi kesenjangan sosial dan sekian ribu tidak ada lagi.
Mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Anis matta dalam sebuah artikelnya “Jangan pernah berpikir untuk menjadi pahlawan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan para pahlawan” lalu apa sebenarnya pekerjaan pahlawan itu??? Pertanyaan yang jika anda bisa jawab maka segera beri tahu saya saat ini juga. Apakah pekerjaan mereka adalah seperti yang ditulis Anis Matta yang dikutipnya dari seorang Mansur Samin :
Demi amanat dan beban rakyat
 Kami nyatakan keseluruh dunia
 Telah bangkit ditanah air
 Sebuah aksi kepahlawanan
 Terhadap kepalsuan dan kebohongan
 Yang bersarang dalam kekuasaan
 Orang-orang pemimpin gadungan

Apakah ini??? Bisa jadi iya. Jika iya maka jangan katakan Pemimpin saat ini adalah pahlawan, tak perlu lah lagi kita elu-elukan mereka lagi, tak perlu lah lagi kita memberi  uang  untuk makan mereka, dan tak perlu lagi kita berhenti, menepi ketika mereka melewati jalanan untuk menjalankan tugas kenegaraan. Maka lepaskan saja baliho besar mereka , koyakkan saja teman karena mereka bukan Pahlawan. Karena  kerja mereka bukanlah mengerjakan pekerjaan pahlawan. Toh dulu pun Bung Tomo tidak pernah memasang baliho dimana-mana untuk diangkat menjadi pahlawan. Tak perlu pasang senyum lebar  agar  dianggap baik. Itu menjijikan.. karena kerja mereka hanya menebang ribuan hektar Pohon di Hutan Kita, membiarkan Induk Gajah dan anak-anaknya mati terkapar, kerja mereka hanya duduk didalam kantor mereka yang sejuk, kerja mereka hanya melakukan kerja-kerja kecil yang tak ada gunanya seperti FFI, PON,ISG  Konser Musik, Perayaan Tahun baru, Makan-makan. Mengambil uang dari proyek-proyek yang tidak sedikit pun tidak menyentuh kepentingan rakyat, menyeruput habis APBD/APBN untuk memberi jajan anak-anak mereka. Lihatlah kawan mereka semakin kaya saja, Istri-Istri mereka pun makin pongah, anak-anak mereka pun tak akan jauh beda. Hanya bisa pamer kekayaan orang tua. 
 Riau  di Provinsi ini tak dapat ku temui Pemimpin yang bisa dibanggakan sebagai pahlawan, mereka hanya kerumunan orang-orang rakus yang ingin harta, jabatan dan wanita. Otak mereka telah dipenuhi dengan seks sehingga sel otak telah mati dibuatnya. Sehingga apapun dilakukan untuk kepuasan sendiri. Pemimpin ku telah buta, dibutakan oleh dunia. Pekerjaan nya tak lagi melakukan kerja-kerja yang bisa aku banggakan kelak, bahkan aku ingin segera menyepaknya keluar dari tempat kerjanya. Berlama-lama di sana akan membuat hatinya beku tak dapat lagi merasa.
Bagiku Pahlawan itu adalah Ibu Tukang Parkir di Jalanan Kota yang sering aku temui
Bagiku Pahlawan itu adalah Guru ngaji dengan Peci usang di Pinggiran kampong yang setia mendidik
Bagiku Pahlawan itu adalah si Pengamen yang tetap Punya harga diri dengan tidak mengambil hak orang lain pantang Korupsi apalagi Nepotisme
Bagiku Pahlwan itu adalah mereka yang berjuang Benar-Benar untuk Negeri ini, Jujur untuk Rakyat, mereka yang tak mengkhianati Indonesia
Sekali lagi aku mengutip apa yang ditulis oleh Anis Matta “ Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, "Telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menerah". Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, "berselempang semangat yang tak bisa mati".

Jumat, 04 November 2011

TOLAK EKSPLOITASI WANITA OLEH PERUSAHAAN



Perempuan “Tereksploitasi
By Ria Bustanudin

            Berbicara masalah ekonomi dari jaman dahulu hingga kini di Indonesia umumnya dan beberapa daerah khususnya  perempuan dijadikan tulang punggung ekonomi keluarga, dipulau Jawa perempuan bersama-sama dengan pria turun ke sawah, di perkampungan-perkampungan para perempuannya turut menggembalakan ternak miliknya atau milik orang lain dimana dengannya  dia mendapat upah, bahkan di pasar-pasar tradisional wanita mendominasi sekira 80% hingga 90% persen, dan juga pekerja wanita (Pramuniaga) di mal-mal yang berkisar antara 70% hingga 80% wanita. Dalam dunia kerja perempuan memegang peranan sangat signifikan detik finance mencatat bahwa di tahun 2007 Jumlah perempuan yang bekerja jumlahnya semakin banyak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan. Selama Agustus 2006 hingga Agustus 2007 jumlah pekerja perempuan bertambah 3,3 juta orang penyebab terjadinya peningkatan jumlah pekerja perempuan adalah adanya unsur keterpaksaaan yang harus dijalani kaum perempuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Peningkatan jumlah pekerja perempuan sebagian berasal dari perempuan yang sebelumnya berstatus mengurus rumah tangga (bukan angkatan kerja). Di sisi lain peningkatan jumlah tenaga kerja perempuan terjadi di sektor informal yang memberikan adanya indikasi kemudahan keluar masuk pasar tenaga kerja. Sementara itu pertambahan jumlah pekerja laki-laki hanya sebesar 1,1 juta orang. Jumlah pekerja laki-laki itu terserap di sektor jasa dan konstruksi. Peluang ini berpotensi menjadikan pekerja -  pekerja perempuan  menjadi korban eksploitasi terbesar dalam sistem neoliberalisme.             Eksploitasi  terhadap perempuan tidak lagi berkisar antara kekeresan fisik atau pelecehan seksual yang lazim terjadi atau penindasan terhadap perempuan sifatnya bukan hanya yang dapat terlihat oleh mata seperti, upah buruh perempuan yang rendah, atau pendidikan dan kesehatan yang terlalaikan oleh negara, namun lebih dari itu aksi-aksi penindasan terhadap perempuan justru lebih menyentuh ke kesadaran mereka. Jika dulu ketika R.A Kartini memperjuangkan pendidikan yang setara antara  wanita dan pria di zaman penjajahan dengan membela kepentingan wanita yang tertindas maka kini wanita kembli ditindas oleh kebengisan zaman dimana wanita ditindas oleh pemilik modal yang bertujuan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya menjadi. Pemilik  modal berlomba-lomba mengeksploitasi perempuan. 
            . Belum lagi Iklan-iklan di media cetak dan elektronik pun sebagian besar menjadikan perempuan sebagai modelnya. Salah satu contoh Saat ini pramuniaga-pramuniaga yang bekerja di mal-mal khususnya di kota pekanbaru menjadi objek eksploitasi terbesar termasuk juga iklan-iklan yang memajang perempuan sebagai modelnya.             Disadari betul oleh pemilik modal ketika era pasar bebas masuk kaum penumpuk modal itu bukan hanya mengembangkan pembuatan produk, tetapi juga mengontrol kesadaran massa tentang tubuh melalui pencitraan tubuh ideal lewat berbagai media, dan antara lain via propaganda iklan. Dan itu dicitrakan melalui perempuan. Perempuan yang berkerja di hotel dan mal-mal di kota pekanbaru saat ini 70% nya menjadi objek eksploitasi. Ditambah lagi RUU tenagakerjaan yang mengatur khusus untuk perempuan belum terlalu jelas dan belum memberi perlindungan aman bagi pekerja terutama pekerja wanita  . Tuntunan ekonomi yang menjadi penyebab  perempuan-perempuan muda lulusan SMA/SMK ini harus  untuk menjadi tulang punggung keluarga.  Banyaknya Mal, Hotel dan Bank (khusunya Bank Konvensioanal) yang saat ini berkembang pesat di Pekanbaru menjdikan lapangan kerja untuk perempuan terbuka  lebar. Pramunia-pramuniaga atau yang biasa disebut sales promo girl tersebut memaksanya memakai pakaian yang membuka aurat,  rok diatas lutut, belum lagi kewajiban memakai high heels yang jelas-jelas tidak membuat nyaman dan bisa merusak kesehatan jika digunakan terus menerus, jam kerja yang sama antara wanita dan pria. Ditambah lagi upah minimun saja belum mampu memenuhi kebutuhan si perempuan tersebut ditambah lagi dengan jam kerja yang kadang tidak sesuai. Para perempuan yang bekerja di bandara juga tak lepas dari eksploitasi kapitalis, bandara sebagai gerbang masuk nya wisatawan atau tamu dari luar kota dimana image kota yang seharusnya menjadi pencitraan sebagai kota melayu ketike menginjakkan kaki disana kekhasaan dari Pekanbaru tercermin justru tidak terlihat  ketika perempuan –perempuan penjual makanan atau souvenir khas yang ada disana terlihat sama saja dengan  pekerja-pekerja perempuan di kota-kota lain di Indonesia. Ciri sebagai kota melayu pun tak terlihat . apatah lagi jika kita melihat di Mal-mal atau hotel pekerja wanitanya wajib memakai rok mini diatas lutut sedangkan pekerja pria memakai pakaian tertutup rapi. Ironis namun  bisa jadi bukan karena keinginan mereka tapi tuntutan pekerjaan. Ulfah Nurhidayah dalam blog nya yang berjudul Wajah perempuan di Dunia iklan mengatakan bahwa  Manusia saat ini tengah memperalat dan mengeksploitasi satu sama lain. Dalam hal ini hidup sedang disangkal, karena kerja yang seharusnya menjadi ekspresi dan kreatifitas kemakhlukan, menjadi kerja yang terpaksa, untuk mendapatkan upah, untuk sekedar dapat bertahan hidup.” Bisa jadi saat ini pekerja wanita di Riau ini tidak lagi dipekerjakan secara manusiawi tapi lebih kepada keterpakasaan untuk sebuah tuntutan ekonomi keluarga. Pemilik modal tidak lagi peduli dengan etika dan nilai.
            Sekarang ini citra perempuan yang lebih banyak dipengaruhi oleh pencitraan iklan menjadikan perempuan sebagai penarik konsumen ketimbang menaikkan kualitas produk sekarang ini citra perempuan yang dianggap baik adalah yang terlihat cantik, seksi, disukai banyak lelaki, memiliki sifat konsumtif, dan lain-lain. Nilai-nilai yang sejatinya harus ditanamkan tidak terlihat sedikitpun. Hal tersebut akan berimplikasi pula pada kultur perempuan Indonesia itu sendiri. Bertolak dari stereotip yang dipaksakan oleh media, secara perlahan dan tidak disadari kultur perempuan Indonesia akan bergeser ke arah stereotip itu. Nilai-nilai ketimuran yang menjunjung tinggi nurani yang dimiliki perempuan indonesia, perlahan-lahan tergantikan oleh budaya materialistik. Stereotip ini akan menyeret orang memandang dari segi kecantikan lahiriah saja. Tentunya hal ini sangat memiriskan hati.  Pekerja perempuan tidak lagi terlindungi  hak-hak dan kewajibannya. Belum lagi kepedulian perusahaan terhadap hak kesehatan pekerja wanitanya. Hak cuti haid dan melahirkan telah diatur dalam UU ketenakarjaan namun sering diabaikan oleh perusahaan.
  Padahal seperti ditegaskan diatas jumlah pekerja perempuan baik di sektor formal maupun informal sangat besar, yaitu sebanyak 39,95 juta jiwa, dengan 25 juta di antaranya berada dalam usia reproduksi 15-45 tahun. Kelompok usia reproduksi itu dinilai membutuhkan perhatian khusus sesuai kodratnya dan sudah dijamin dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Dan ini kiranya menjadi PR besar bagi pemerintah daerah dan pusat. UU ketenagakerjaan masih sangat lemah untuk melindungi hak buruh dan pekerja terutama disini perempuan. Pemerintah harus tanggap dalam memprioritaskan kebijakan-kebijakan yang membela kaum perempuan. Dan  tidak muluk-muluk juga jika kita berharap agar tidak lagi ada pengeksploitasian perempuan baik dalam tampilan iklan cetak/elektronik atau  pekerja perempuan yang dipaksakan memmenuhi keinginan perusahaan atau apapun bentuk penindasan yang berada dalam lingkaran liberal – kapitalistik dengan cara mengkontrol ketamakan pasar dan mengembalikan keadilan ekonomi di tangan rakyat. 
            Dan yang terpenting dari itu semua itu hharus dikembalikan kepada perempuan itu tersebut. Negara bertanggung jawab mengembalikan kepentingan dan hak-hak terhadap perempuan jika Iran mampu membuat kebijakan dengan membuat beberapa kebijakan yang memihak wanita diantaranya jam kerja perempuan lebih singkat ketimbang laki-laki dan menekankan  perempuan prioritas utamanya adalah keluarga. Maka Tidak heran jika Ahmadinejad sangat didukung oleh kaum wanita disana karena kebijakan yang berpihak pada perempuan. Perempuan dibalik kelemahan dan kekuatannya memliki peran masing-masing . Jika negara masih menjadikan perempuan sebagai objek  maka perempuan selamnya akan dieksploitasi. Isu gender yang diusung oleh aktivis gender malah terlihat tidak membela kepentingan perempuan tersebut ataupun bahkan di beberapa daerah yang pemimpin daerah nya seorang wanita saja hak-hak terhadap perempuan masih sering terabaikan bahkan kekerasan terhadap perempuan terus saja meningkat bahkan sampai sekarang perempuan masih dipekerjakan ditempat-tempat umum yang rentan pelecehan.  
            Sesungguhnya Tidak ada yang meragukan kekuatan seseorang wanita namun alangkah lebih indah dan terhormat  jika perempuan indonesia kembali menjadi perempuan yang memiliki nilai berdasarkan norma dan aturan agama  Dari zaman penjajahan wanita telah turut berjuang membela negara ketika suaminya gugur sang wanita menggantikan peran suamniya bukankah dalam Al-Quran Islam telah menggambarkan bahwa wanita adalah tiang agama jika perempuannya baik maka baiklah negara itu jika perempuan rusak maka rusak lah negara tersebut. Maka jangan rusak perempuan indonesia untuk mendapat keuntungan semata dan kembalikan wanita dalam kondratnya sebagai tiang negara
 TOLAK EKSPLOITASI WANITA OLEH PERUSAHAAN


Selasa, 01 November 2011

Ria Bustanudin Staff Bidang Kebijakan Publik Pengurus Daerah KAMMI Riau



Pemuda berkarakter = Pemuda Berdaya saing Tinggi
Ria Bustanudin
Staff Bidang Kebijakan Publik Pengurus Daerah KAMMI Riau

Tidak salah jika pemuda disebut sebagai agen perubahan sekaligus generasi harapan bangsa, ditangan pemuda lah sebuah perubahan tercipta. Secara empiris pemuda adalah seseorang yang   to be more dynamics and successful”. Seseorang yang dinamis, memiliki cita-cita besar untuk bangsa, selalu optimis, Berpikiran untuk masa depan yang cerah. Masa depan ada di tangan pemuda, masa depan yang penuh gejolak, turbulensi global, keraganan, kompleksitas dan perubahan yang cepat. Salah satu hal yang membuat pemuda penting adalah keberadaan mereka mengisyaratkan adanya semangat perubahan. Jiwa mereka masih segar dan baru. Kaum muda cenderung berani mengambil keputusan, tanpa takut akan resiko yang akan dihadapinya. Bahkan terkadang, pengambilan keputusan mereka dianggap gegabah. Hal ini disebabkan karena jiwa mereka yang bergejolak dan menyala-nyala. Pada usia muda, manusia masih memiliki fisik yang segar, otot yang kuat serta semangat dan kecerdasan yang bisa diandalkan untuk memberi perubahan. Akan tetapi pemuda yang bisa mengubah peradaban bukanlah sembarang pemuda. Mereka adalah pemuda-pemuda yang memiliki kualitas diri yang bisa diandalkan.


Gerakan tahun 1998 juga merupakan gerakan yang dipelopori oleh pemuda dan mahasiswa dimana sebelumnya gerakan-gerakan massiv melawan ketidakadilan di Indonesia juga dimotori oleh pemuda dan mahasiswa. Tidak hanya di Indonesia di belahan dunia lain nya pemuda juga  mengambil peran besar. Dalam sejarah Islam tercatat ada banyak Sahabat Rasulullah yang masih muda belia namun telah menjadi pimpinan perang pada saat itu. Namun saat ini menilik dari kondisi kekinian Indonesia ketika semangat sebagiannya untuk menjadi pembaharu maka disisi lain tak dapat dinafikan bahwa pemuda Indonesia masih jauh dari ideal. Sebagai Negara berkembang Negara ini masih mengantongi banyak masalah. Salah satunya adalah hilangnya karakter seorang pemuda dalam diri pemuda itu sendiri. Berjuta persoalan yang menghinggapi pemuda mulai dari penggunaan narkoba, krisis identitas, seks bebas, tawuran, kejahatan dan lain-lain. Dan dengan kompleksnya persoalan-persoalan itu terkadang memunculkan sikap pesimistis terhadap pemuda itu sendiri. Padahal pemuda seperti yang saya sebutkan di atas maka tentunya harapan-harapan besar itu ada ditangan pemuda. Namun bagaimana jika kualitas pemudanya jauh dari harapan. Pemudanya kehilangan karakter sebagai pemuda itu sendiri.
seorang pemuda tidak mungkin bermetafosis menjadi tokoh yang besar jika tidak memiliki kualitas individu yang mendukung. Ia tidak akan bisa memberi warna bagi perubahan jika pemuda tersebut hanyalah ”pemuda biasa-biasa saja”. Kualitas yang dimaksud di sini bisa dalam berbagai aspek seperti intelektual, finansial, maupun kemampuan dalam memimpin. Satu hal yang perlu diketahui bahwa ketika seorang pemuda hanya dibekali dengan materi atau pendidikan tetapi tidak memiliki karakter yang siap memberi perubahan, maka semua itu akan sia-sia. Ilmu yang dimiliki akan terpendam dalam dirinya. Oleh karena itu dibutuhkan sosok pemuda yang siap dari berbagai aspek dimana ia memiliki pengetahuan dan karakter yang bisa mengubah peradaban menjadi lebih baik.
Saya berpikiran jika setiap pemuda mengetahui dan mengenal siapa dirinya maka niscaya persoalan-persoalan terkait pelanggaran  moral tidak akan ada lagi. Namun masalahnya saat ini Indonesia belumlah terlalu serius dalam membentuk dan mengarahkan  karakter pemudanya. Pendidikan yang ada di sekolah-sekolah formal saat ini masih sangat kaku dan hanya berfokus pada kognitif semata. Belum mampu memproduk manusia Indonesia menjadi manusia seutuhnya. Konsep kepemimpinan untuk membentuk karakterk pemuda yang tangguh menjadi wacana yang menarik.  Dalam upaya membangun capasitas personal (personal capacity building) pemuda maka perlu dibangun kepribadian yang memiliku  Pengetahuan Ke-agaman-an, pemuda itu harus memiliki ilmu pengetahuan dasar keagamaan, dan wawasan sejarah dan wacana keagamaan. Pengetahuan ini harus dimiliki agar pemuda  memiliki sistem berpikir agama dan mampu mengkritisi serta memberikan solusi dalam cara pandang sesuai dengan pandangan agama. Kemudian membangun kredibilitas Moral, pemuda itu harus memiliki basis pengetahuan ideologis, kekokohan akhlak, dan konsistens. Kredibilitas moral ini merupakan hasil dari interaksi yang intensif dengan pengetahuan dan pendidikan serta pengalaman yang dimilikinya. Dan yang paling penting pemuda itu harus memiliki  Wawasan ke-Indonesia-an yang baik, dan dia  memiliki pengetahuan yang berkorelasi kuat dengan solusi atas problematika umat dan bangsa, sehingga pemuda yang dihasilkan dalam proses selain memiliki daya kritis, ilmiah dan obyektif juga mampu memberikan tawaran solusi dengan cara pandang makro kebangsaan agar kemudian dapat memberikan solusi praktis dan komprehensif. Wawasan ke-Indonesia-an yang dimaksud adalah penguasaan cakrawala ke-Indonesia-an, realitas kebijakan publik, yang terintegrasi oleh pengetahuan interdisipliner. Lalu kemudian pemuda itu harus pakar dan profesionalisme dalam bidang yang digemari atau disukainya pemuda wajib menguasai studi yang dibidanginya agar memiliki keahlian spesialis dalam upaya pemecahan problematika umat dan bangsa. Profesionalisme dan kepakaran adalah syarat mutlak yang kelak menjadikan pemuda sebagai referensi yang ikut diperhitungkan publik.
Kepemimpinan,Kompetensi kepemimpinan yang dibangun pemuda adalah kemampuan memimpin gerakan dan perubahan yang lebih luas.. Sosok  pemuda tidak sekedar ahli di wilayah spesialisasinya, lebih dari itu ia adalah seorang intelektual yang mampu memimpin perubahan. Di samping mampu memimpin gerakan dan gagasan, dia juga harus memiliki pergaulan luas dan jaringan kerja efektif yang memungkinkan terjadi akselerasi perubahan.
Diplomasi dan Jaringan, pemuda adalah mereka yang terlibat dalam upaya perbaikan nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu ia harus memiliki kemampuan jaringan, menawarkan dan mengkomunikasikan pemikirannya atau gagasannya sesuai bahasa dan logika yang digunakan berbagai lapis masyarakat. Penguasaan skill diplomasi, komunikasi massa, dan jaringan ini adalah syarat sebagai pemimpin perubahan.
Pentingnya membangun karakter pemuda agar bisa memiliki daya saing yang tinggi inilah yang menjadi titik tolak saya dalam penulisan makalah ini. Karena, walaupun di Indonesia ini banyak pemuda namun jika tidak mempunyai daya saing yang tinggi maka tidak akan dapat dibanggakan sebagai pencetus perubahan bangsa. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemuda yang memiliki karakter-karakter positif yang mampu membawa perubahan di bidangnya masing-masing. Bukan hanya daya saing tinggi, nilai manfaat bagi masyarakat juga dibutuhkan karena dengan memiliki jiwa yang peduli pada masyarakat maka ia tidak hanya sekedar mengejar kesuksesan diri sendiri semata tetapi juga memikirkan sesamanya. (Ria Bustanudin)




Minggu, 30 Oktober 2011

Antara KAMMI dan Tenas Effendy



Kunjungan PD KAMMI Riau  ke kediaman Tenas Effendy

Minggu, 30 Oktober 2011 PD KAMMI Riau berkunjung ke kediaman budayawan sekaligus sastrawan H.Tennas Effendy  di Pasir Putih Kampar. Kedatangan rombongan di sambut lansung  oleh laki-laki berusia 87 tahun ini. Di pendopo nya yang sejuk dan dipenuhi ratusan buku-buku dan piagam penghargaan yang didapatnya selama ini. Lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Atuk ini memberi beberapa petuahnya kepada pengurus PD KAMMI yang hadir saat itu, dia memaparkan apa dan bagiamana sebenarnya Melayu dan bagaimana hubungan Melayu dengan Islam . Budayawan  yang telah menulis berbagai judul buku yang termasyuhur salah satu nya adalah Tunjuk Ajar, Memilih Pemimpin dalam budaya melayu. Menyitir fenomena yang saat ini terjadi di Riau,  Atuk Tenas Effendy merasa bahwa pemimpin di Riau ini  telah meninggalkan adat, semua telah tergadai demi kepentingan politik. Sehingga malu tak lagi pada tempatnya. Datuk menggambarkan Pemimpin yang ideal itu seperti Bulan, mulanya kecil, lalu besar dan kemudian bulat sempurna, indah di pandang dan kemudian menyejukkan.
Pria yang suka beranalogi ini juga menyampaikan nasihat kepada pengurus bagaimana sesuatu yang datang kepada kita itu harus di Ayak, dia mengkiaskan Ayakan itu menggunakan nyiru (alat untuk menampih beras yang masih di gunakan di kampung-kampung ). Nilai-nilai untuk mengayak itu adalah Agama sehingga kita tahu mana yang buruk dan mana yang baik Ujarnya.  Atuk pun mengatakan bahwa sebenarnya budaya Melayu itu sangatlah Islami dia mencontohkan penggunaan baju kurung oleh orang melayu yang mana dulu baju kurung itu bernama Teluk Belanga (nama salah satu daerah di Singapura). sebagian orang menyebutnya Gunting Cina  Baju kurung itu digambarkan sebagian sesuatu yang dikurung (dikungkung) oleh Syara (agama) dan adat. Seperti itu Melayu, sesungguhnya melayu itu menjabarkan nilai-nilai islam itu sendiri.
Eddy Syahrizal mantan Ketua KAMDA Riau yang juga turut hadir menanyakan  pendapat beliau tentang arti “Putra Daerah”, dengan lugas beliau menjawab “dia sendiri tidak mengerti mengapa orang mengangkat wacana putra daerah, sembari bercanda dia berkelakar “ kalau lah putra daerah itu diidentikkan oleh orang asli Riau maka menurut saya orang asli itu adalah suku talang mamak atau  suku sakai he..he..” kelakar nya ini memancing tawa seluruh peserta yang hadir saat itu. Orang melayu sebenarnya sangat terbuka. Ujarnya kembali
Orang melayu juga menurut Atuk adalah orang yang paling paham akan sopan santun, tutur bahasanya lembut, dia tahu pada dirinya, juga seseorang yang arif dan bijaksana karena menurut Atuk lagi bahwa budaya melayu itu penuh kesantunan, menghormati orang lain. Seperti dicontohkan dalam rumah asli orang melayu yang mana ada dua pintu, yang satu pintu depan dan yang yang satu pintu belakang. Pintu depan untuk tamu, pintu belakang untuk keluar masuk “orang rumah” beginilah orang melayu menghormati tamu yang datang. Lalu dalam kesantunan tutur kata. Orang melayu bukan lah orang yang suka blak-blak an dalam penyampaian, itulah dulu mengapa orang melayu suka berdendang, berpantun, dan bersyair. Menyampaikan nasehat-nasehat dalam bentuk sindiran. Ini adalah bentuk kearifan budaya yang dimilki orang Riau. Misalnya : dalam penggunaan kalimat “banyak Siket” ini bermakna ketika kalimat ini dilontarkan maka si penerima kalimat diberi pertimbangan untuk memutuskan.
Selanjutnya dalam penyampaiannya pria ini memberi motivasi untuk pengurus daerah dalam berorganisasi kunci dalam membangun organisasi yang solid dan kokoh adalah membangun silahturrahmi dan komunikasi, seperti memakan nasi dia menggambarkan berapa banyak orang yang terlibat dalam proses beras menjadi nasi, mulai dari menanam oleh petani, hingga nasi tersaji di atas meja. Begitulah juga berorganisasi. Kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri, hidup haruslah berbagi, selain itu Atuk juga menyarankan agar setiap organisasi kepemudaan  menggunakan media – media yang ada mulai dari jejaring social, media cetak, hingga elektronik untuk mensyiarkan budaya melayu ke segenap penjuru.
Gigin Ahmad Affandi, Kepala Bidang Kebijakan Publik KAMMI Riau menanyakan mengenai apa sebenarnya Budaya Melayu itu, apakah budaya melayu itu hanya sebatas yang selama ini ditampilkan oleh pejabat-pejabat di  Riau, lalu apa peran Dewan kesenian melayu dalam hal mengembangkan budaya Melayu, Datuk pun menjawab “ jangan sempit memandang sesuatu, Budaya melayu bukan hanya tari-tarian atau nyanyi-nyanyian, itu hanya lah bagian kecil dari budaya melayu, namun tak dipungkiri saat ini banyak yang terjebak dengan pemikiran seperti itu sehingga Melayu hanya dianggap sebagai tari-tarian atau sejenisnya, beliau berharap agar kita tidak terkotak-kotak dengan pandangan sempit itu, Dunia Melayu adalah Dunia Islam ada 300 Juta lebih orang melayu yang tersebar di seluruh dunia.
Terakhir Atuk berpesan bahwa jangan pernah menghampakan harapan orang yang datang pada kita, tidak mampu membantu dengan materi bantulah dengan pikiran atau tenaga Ujarnya menutup perbincangan siang itu.