Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Oktober 2012

Jelajah Gizi _ Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah

 
Add caption
Asam Pedas Patin Mengoyang Lidah
Asam Pedas Ikan Patin adalah nama masakan khas dari Provinsi Riau. Provinsi ini   terletak di bagian tengah pulau Sumatra, dan terkenal dengan sungai  nya yaitu sungai Siak, Riau sendiri berpenduduk sekitar 5.543.031 jiwa. Riau telah didiami oleh berbagai suku dan etnik budaya, satu suku yang terkenal banyak mendiami wilayah ini adalah suku Melayu dengan persentase sekitar 37,74%, selanjutnya ada Minang, Jawa, Bugis, Batak dan Cina.
 Letaknya yang berdekatan dengan selat Malaka menjadikan Riau sebagai daerah transit para pedagang pada masanya, kekayaan alam nya yang berasal dari laut dan sungai  mempengaruhi pula berbagai kuliner khas nya. Berbagai penganan kebanyakan berbahan dasar ikan, hingga tak mengherankan jika  ikan menjadi satu dari komoditi andalan provinsi Riau. Tak  terkecuali dengan makanan yang satu ini, yaitu Asam Pedas Ikan Patin, walau tak dapat dinafikan jika asam pedas juga terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Asam pedas ada hampir di seluruh wilayah Sumatra dan semenanjung melayu. Masakan ini  sendiri juga terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang mayoritas penduduk nya bersuku melayu, orang minang menyebut nya Asam Padeh, sementara Aceh menyebutnya dengan Asam Keueng. Dalam sejarahnya tidak diketahui dengan pasti asal muasal asam pedas, di Malaysia asam pedas juga menjadi salah satu masakan khas mereka. Sementara di Riau Asam pedas yang sangat  terkenal yaitu asam pedas ikan patin. Ini menjadi salah satu ciri khas kuliner Riau,  masakan ini menjadi sangat popular baik di restoran-restoran maupun dalam santap di rumah tangga, ibarat kata kurang lengkap rasanya jika ke Riau belum mencicipi Asam Pedas Ikan Patin yang sangat menggoda selera ini. Di Pekanbaru khususnya Asam Pedas Ikan Patin disajikan tidak hanya di restoran atau rumah makan khas melayu saja tapi kita bisa menemukannya di restoran-restoran padang atau jawa, dan biasanya Ikan Patin lansung didatangkan dari para nelayan di tepi sungai Kampar, karena kelezatannya yang menggoda Asam Pedas ikan Patin disukai oleh banyak orang dan digemari semua kalangan. Belum lagi tambahan asam belimbing dalam sajiannya menjadikan kuliner ini benar-benar sayang untuk dilewatkan .
Riau sendiri menjadikan asam pedas  bagian dari seni  memasak masyarakat melayu yang tak boleh di tinggalkan, rasanya yang asam dan pedas sangat cocok dengan lidah orang melayu dan dapat diterima oleh yang lainnya.  Asam pedas ikan patin di olah dengan cara di masak  bersama bumbu-bumbu nya yang terdiri dari berbagai bahan asli Indonesia, aroma pedas yang berasal dari cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas yang ditumbuk sampai halus lalu ditambah dengan belimbing wuluh/asam belimbing, serai, daun jeruk dan daun salam membuatnya sangat fresh ketika dimakan, belum lagi ikan patin yang memiliki banyak manfaat seperti asam lemak tak jenuh Omega-3, Selenium, dan Taurin. Yang mana kita tahu bahwa Omega 3 bagus untuk proses perkembangan otak pada janin dan penting untuk perkembangan fungsi saraf dan penglihatan bayi. Sementara selenium sendiri berfungsi untuk membantu metabolisme tubuh dan sebagian anti oksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas. Konsumsi ikan Patin akan memberikan kecukupan lemak harian, dan lemak dibutuhkan oleh tubuh sebanyak seperempat hingga sepertiga dari total kalori sehari.
 Ikan patin menjadi ciri khas kuliner khas Riau yang kental dengan budaya melayu ini,  Pengolahannya hanya menggunakan sedikit minyak untuk menumis bumbu,  tekstur ikan patin  yang lembut tidak mengharuskan ikan ini di masak lama sehingga tidak banyak kandungan gizi yang hilang karena pengolahan yang lama, biasanya setelah bumbu yang ditumis di beri air dan ditunggu mendidih ikan baru di masukkan, tidak menunggu sekitar 5 sampai 10 menit  asam pedas siap disajikan, untuk menambah cita rasa bisa ditambahkan potongan tomat merah ke dalam kuahnya yang segar, kuah asam pedas ikan patin tidak memilki tekstur yang kental seperti asam pedas yang terdapat di tempat lain, kekentalannya yang mirip TomYam dari Thailand membuat makanan ini cocok disajikan dengan sepiring nasi panas, warna kuah nya yang begitu berselera dan tekstur ikan yang lembut dan creamy tentu tak dapat dilupakan. Ini lah yang membuat masakan ini begitu familiar di masyarakat, pengolahannya pun mudah, dan lagi Ikan Patin tidak sulit untuk di cari. Tentunya masakan ini menambah lagi Khasanah kuliner Indonesia. Rasanya yang asam dan pedas, dengan potongan ikan yang lembut dan lumer di mulut ditambah kandungan gizi yang banyak cocok untuk disajikan dalam menu masakan keluarga, menambah gizi, murah dan sehat.  

Sumber :
PW BKMT Provinsi Riau, 2005. Aneka resep Masakan Melayu Riau. Yogyakarta. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
http://id.wikipedia.org/wiki/Riau
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_pedas
http://cuek.wordpress.com/2012/05/24/gulai-asam-pedas-ikan-patin-riau/
http://shintaprastantidewi.blogspot.com/2012/06/kayanya-manfaat-ikan-patin.html


Kamis, 20 September 2012

Itulah kalau nakhoda tidaklah paham alamat kapal akan tenggelam


Euforia kemeriahan PON ke 18 telah berakhir tepat pada tanggal 20 September pekan olahraga terbesar di Indonesia ini ditutup oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, gegap gempita pelaksanaannya sungguh luar biasa, semua berpesta, semua bergembira. Ini lah Indonesia, inilah rakyatnya, terlalu lama di percundangi oleh kompeni membuat watak orang Indonesia mengkal.
PON ke 18 di Provinsi Riau sepatutnya menjadi ajang yang luar biasa,  kemegahan seharusnya berbanding lurus dengan capaian yang dijadikan target, namun tampaknya hal ini hanya akan menjadi cerita kosong saja, selepas PON ini kita akan sama-sama melihat apakah targetan-targertan itu memang tercapai atau justru jauh panggang dari api.
Pemerintah Provinsi Riau melalui data LSM diperkirakan telah mengeluarkan 4,8 T untuk pembiayaan PON, bukan jumlah uang yang sedikit, oleh karenanya dipastikan pemerintah Provinsi Riau dalam kurun beberapa tahun kedepan akan hanya melunasi pembiayaan ini saja, karena seperti yang kita tahu bahwa pendanaan berasal dari anggaran pendapatan belanja daerah Riau, sementara pemerintah pusat hanya menggelontorkan sedikit bantuan saja, pihak sponsor yang tadinya diharap mau bekerja sama malah hilang entah kemana, hingga mau tak mau daripada kehilangan marwah PON tetap dilaksanakan di provinsi ini dengan terpaksa menggunakan uang “pribadi”.  
Kilas balik bagaimana Riau bisa menjadi tuan rumah memang tidak dapat di lepaskan dari peran besar Rusli Zainal Gubernur Riau yang menjabat 2 periode ini di tahun 2007, saat itu Riau bersaing dengan beberapa provinsi seperti  Jawa Barat, dan pada making decision nya Riau keluar sebagai “pemenang”. Dengan alasan agar ada pemerataan kemajuan olah raga di seluruh Indonesia . jadinya Riau menjadi Tuan Rumah. Kemelut kisruh PON ini telah terjadi di awal pelaksanaan hingga kini tepat dimana PON telah ditutup dengan pesta mewahnya. Dimulai dengan pembagian proyek pembangunan venues yang dijatah “masing-masing” kepada kolega dan handai taulan sang Pejabat. Kasus suap menyuap, kasus korupsi anggaran, venues yang terbengkalai, pembayaran honor, dan masih banyak masalah yang lainnya.
Saat pelaksanaan PON masyarakat pun dibuai dengan cerita dan tayangan betapa luar biasa nya PON ini, Riau dikenal di seluruh Indonesia, Riau semarak dengan kemeriahan pesta, tak ada ruang yang terbuka untuk sedikit melihat bahwa betapa ini menyakitkan. Betapa tidak, untuk kemeriahan beberapa saat kita harus mengorbankan triliyunan rupiah jatah jaminan pembangunan masyarakat Riau. Untuk euphoria sejenak kita mengabaikan nasib kesejehteraan puluhan ribu guru, perawat, buruh, petani, nelayan negeri ini. Di tengah hiruk pikuk pesta kita menutup mata atas jaminan kesehatan  ribuan anak balita, ratusan pasien miskin yang harus terbaring di lorong-lorong kamar sempit  rumah sakit pemerintah dengan pelayanan seadanya, dan demi gegap gempita nya pesta ratusan anak negeri ini terancam akan semakin dimatikan karakternya karena jatah pendidikan tak lagi cukup untuk mendidik mereka. Dan demi pesta bersama artis-artis ibu kota kita merelakan mereka yang berada di perbatasan, di pulau-pulau kecil semakin tersudutkan tak diperdulikan.
Kita bisa saja mengatakan bahwa kita orang Riau harus mensukseskan pelaksanaan PON ini, bukan orang Riau namanya jika tidak menghargai kerja keras orang menyelenggarakan PON, prestasi luar biasa jika Riau bisa membuat open dan closing ceremony yang megah, mengundang penyanyi dengan bayaran tinggi datang ke Riau menghibur kita semalam ya..hanya semalam, karena malam-malam berikutnya kita akan kembali bertemankan pelito* duduk di tangga depan rumah melihat jalanan telah kosong, pesta telah usai, kita ditinggal sendiri.
Pelaksanaan PON dengan 4 catur sukses yang diharapkan akan bisa dilihat berhasil atau tidak tentunya selepas ini, tapi jika dikatakan sebagai promosi daerah maka cukup selama pelaksanaan PON ini Riau di cap gagal menyelenggarakannya, tak ada good news yang ada bad news, pemerintah daerah telah mengeluarkan triliyunan rupiah untuk promosi tapi pemerintah pusat apalah daya membantu, media jauh lebih berkuasa. Kedatangan SBY pun tercoreng dengan pemberlakuan tiket masuk seharga 3 juta hingga 100 ribu untuk tribun penonton, alhasil kursi banyak yang kosong,  tak pelak sampai disitu, di tempat  pertandingan dikenakan pula retribusi parkir yang tak wajar, jika tak tahu malu tiket penonton pun akan di charge. Sungguh kenyataan yang diluar akal logika, korupsi dengan gaya baru dan ini benar-benar tidak lagi di bawah meja tapi sudah dengan meja-meja nya.
Kita sering lupa bahwa banyak kerja yang lebih penting, ibarat berladang kita belum menanam tapi sudah mau makan enak, bekerja lah dulu, tanamlah padi, beri air dan pupuk, kerja keras menjaga padi dari hama, mengairinya agar tak kering, bersabar menunggu hingga padi menguning siap di panen, ketika semua dipastikan padi rakyatnya telah tumbuh dengan subur tak ada lagi yang bersedih hati karena tanaman padinya  tak merunduk, jikalau semua sudah settle boleh  lah melepas lelah dengan berkumpul bersama menikmati hasil panen, semua tua muda, yang punya sawah dan tak punya sawah duduk bersama di atas rumput bernyanyi bersama ratusan anak burung yang terbang rendah, sang pemimpin membuka hajat dengan tak lupa menyimpan hasil nya sebagian untuk bekal hadapan, agar tak tamak kekenyangan yang bisa menyebabkan kehinaan atas keserakahan.
Maka logo “selamat datang sang juara” dengan burung serindit nya tercoreng malu sudah, mental juara hanya untuk tamu yang datang tapi tidak untuk tuan rumah,sifat egois yang mengakar telah melukai tanah melayu, tak ada lagi adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah. Semoga selepas ini KPK di  Riau akan melakukan kerja bersih-bersih, menangkapi penyamun yang menunpang di kapal, biarlah ini menjadi pelajaran berharga untuk dikenang oleh anak cucu tentang kisah keserakahan pemimpinnya .  Apabila pemimpin tahukan diri, memimpin umat sepenuh hati, amanah dipikul janji diisi rakyat sejahtera tuah berdiri*. Itulah kalau  nakhoda tidaklah paham alamat kapal akan tenggelam

*diambil dari tunjuk ajar "memilih pemimpin" Tenas Effendy

Rabu, 20 Juni 2012

Dan semua ini hanyalah sebuah tulisan yang sangat subyektif sekali. Karena ditulis dengan tinta keegoisan dan proses belajar yang masih sangat tertatih-tatih dan rapuh.


Lagi-lagi pertanyaan yang sama di tanyakan kembali, kalau mau menghitung nya mungkin pertanyaan ini sudah ribuan kali ditanyakan oleh puluhan orang yang ada didekatku. Mulai dari orang tua, keluarga, adik-adikku, teman-teman, saudara seorganisasi hingga teman di dunia maya. Tapi ada yang menggelitik untuk pertanyaan kali ini, sebuah pertanyaan yang tak lansung mendarat kepadaku, pertanyaan yang kemudian ditanyakan kepada orang lain oleh temanku itu, he..he.. apakah karena dia melihat ku sangat dekat dengan saudariku itu sehingga cukup bagi teman ku itu untuk menanyakan nya.

 Hmmm.. tertawa geli saja mendengar cerita saudari ku itu, aku percaya dia tak akan menambahkan atau melebihkan. Hal  serupa juga pernah dilakukan oleh seorang senior ku, pertanyaan ini di tanyakannya kepada orang lain, bagaimana orang itu akan menjawab jika kami sudah lama tidak berjumpa walau masih sama-sama di kampus. Walau tak ada masalah dengan semua pertanyaan itu, entah mengapa rasanya aku sudah sangat “kebal” dipertanyakan pertanyaan seperti itu, jika diawal-awal dulu pertanyaan itu bisa bikin “bĂȘte” maka sekarang udah biasa aja dengan pertanyaan itu, tidak ada yang perlu aku kesalkan atau justru marah pada orang – orang yang menanyakan nya. Toh aku tidak harus membuat Jumpa pers untuk menjawab pertanyaan itu.

Lagi lagi soal diskusi pagi tadi bersama Linda, ada-ada saja cerita Linda. Akhwat berkulit hitam manis  ini selalu punya stock cerita yang tak akan ada habisnya, dan entah mengapa aku selalu saja mau mendengarkan ceritanya. Masih terkait soal pertanyaan mengenai wisuda ku yang ditanyakan oleh teman kami kepadanya, lagi- lagi aku berfikir kenapa orang-orang tak lansung menanyakan kepada ku apa masalah ku. Atau pertanyaan itu ditanyakan hanya untuk mengisi pembicaraan mereka di telefon saja biar ada yang dibicarakan. Entahlah

Ini lah yang sering tak aku pahami dari orang lain, ketika orang lain sering merasa sulit untuk memahami jalan pikiran ku. Ketika orang lain sering merasa sok tahu terhadap kehidupanku, apakah aku berhak untuk di judge sementara mereka tak membuka waktu untuk mengenal saja sedikit tentang hidup ku (maaf ini bukan point pembelaan) diluar ribuan kekurangan dalam hidup ini, tidak kah sedikit saja mereka melihat atau biarkan jika hanya ada seujung kuku hal yang positif dari hidupku. Beberapa merasa bahwa aku tak pernah mau menerima kritikan dari orang lain, Upss.. tunggu dulu tak selamanya ini benar tapi bukan berarti mereka juga salah, aku akui aku memang seperti itu, tapi tahukah kalian bahwa masih ada beberapa orang yang selalu memberikan kritikan nya kepada ku dan aku tak pernah tersinggung dengannya, banyak hal yang dikatakannya mampu aku cerna dan mampu aku turuti, beberapa orang yang hadir dalam senyum dan  message-message nya yang menyejukkan.

Teringat beberepa bulan yang lalu seseorang yang aku kenal baik telah “baku hantam” dengan ku di room chat FB, seseorang yang selama 4 tahun bersama ku di organisasi, entah karena dia sangat membenci cara ku makanya dia mampu mengatakan semua itu, dan bodohnya saat itu aku juga melakukan hal yang sama. Padahal aku punya pilihan untuk menahan semuanya, tapi pilihan itu tak kupilih. Dan kubiarkan semuanya berakhir “sempurna” dalam sebuah kemarahan. Ini bukanlah sebuah kebanggaan yang harusnya aku pamer - pamerkan, kini aku hanya tengah belajar membalut kemarahan itu, dan semua ini masih dalam sebuah proses yang harus aku lewati. Apakah sepantas itu aku dibenci ??? Dan malangnya beberapa orang mengetahui pertikaian itu, dan lagi-lagi tak ada yang menanyakan kepada ku mengapa semua bisa terjadi, kenapa mereka harus menanyakan kepada orang lain, apakah orang yang ditanyakan tahu apa yang terjadi. Itu masalahnya, adilkah ini untukku???

Seperti stanment  yang mengatakan bahwa aku sangat eksis sekali di FB, stantment salah..! salah besar teman. Tidak kah kau tahu aku juga punya akun Twitter, juga punya BLOG, juga kemarin masih menyimpan PIN BB dan aku juga eksis sekali disana. Dan tak ada pembelaan untuk ini, aku pun malas untuk membela, karena memang benar mungkin adanya. Tapi jika hidup ku aku habiskan di layar untuk pantengin aktivitas orang-orang di  dumay, maka biarkan sekali ini saja aku katakan “itu tidak benar” jika ingin aku klarifikasi, bahwa banyak hal yang aku lakukan di depan laptop ku. Tidak kah ingin kalian buka sedikit saja blog ku dan membacanya, atau kalian yang malas membaca, atau tulisan ku yang tak menarik (aku hanya tengah belajar teman..) kalau kau hanya membaca FB ku maka sampailah kalian pada kesimpulan seperti diatas, atau jika kalian berkenan bacalah tulisan ku di media cetak, atau jika kalian tak percaya maka datang lah kesini melihatnya.

Akan jadi masalah jika selanjutnya  aku katakan apa saja aktivitas ku setiap hari. Aku pun lagi tengah belajar teman, tak akan kubiarkan diriku mati dalam kubangan, dalam keadaaan galau tingkat nasional, tak kubiarkan masalah membelenggu hidupku, beberapa amanah sebagai korbid dan ketua di Pimpinan Pengurus cabang kemuslimahan aku coba jalani, saat ini statusku masih menjadi staff dari sebuah kelembagaan mahasiswa di Pekanbaru. Bersama dengan koordinator dan teman-teman ku itu kami agendakan banyak hal yang menjadi mimpi dan cita-cita.

 Jika kalian melihat ku dari sudut teman-temanku yang lain, yang masih sering terlihat “nongkrong”  di mesjid kampus, maka aku rasa masa itu telah lewat,  jika hanya dengan kalian melihat ku tak lagi ada disana itu bukan berarti aku telah “tiada” aku masih disini teman. Hanya berbeda tempat saja kali ini. Apakah ada masalah dengan semua itu ?? Lalu apakah jika kalian tak melihat ku disana maka pantas kah untuk kalian “memaki” ku di roomchat  seperti beberapa bulan yang lalu itu. Hari yang sangat pahit bagiku, kau telah tepat sekali menancapkan luka di saat luka yang lain tengah merekah pedih.

Waduh jadi kemana-mana, apakah ini bisa dikatakan curhat.. mungkin lagi lagi mereka benar. Mengatakan jika aku suka sekali curhat di FB. Maka sekarang biarkan aku akan berjanji untuk mengurangi bahasa bahasa curhat seperti yang mereka dan kalian maksudkan. Karena belakangan aku memang merasa kerepotan dengan ulah ku itu. Sebuah masukkan yang keren sekali tentunya, dan lebih oke lagi sebenarnya jika lansung ditujukan kepadaku.

Yakinlah teman aku tak seaneh, tak sesulit seperti yang kalian bayangkan atau seperti yang kalian katakan kepada teman-teman ku itu. Aku masih makan nasi seperti yang kalian makan, masih berpijak di bumi yang sama .

Kalau pun ada cara pandang yang berbeda maka katakan saja itu sebagai warna, bukan karena beberapa pendapat yang berbeda lantas kalian memberikan judgement  kepada ku, banyak hal yang aku seolah-olah paling tahu, suka mengatur sana sini.. aku sadari itu. Dan bagaimana ya aku menyakinkan kalian jika sekarang aku lagi belajar untuk merubah itu semua.

Okey mungkin aku rasa cukup sekian saja, rasanya sudah banyak sekali yang aku katakan mungkin kalian sudah mual membacanya. Maafkan aku yang membuat nafsu makan kalian jadi hilang, maafkanlah aku yang aneh, yang pernah menyakiti hati banyak orang. Selagi ada sakit yang pernah aku buat kepada kalian jika kalian bersedia maka katakanlah kepada ku, agar bisa lansung ku meminta maaf kepada kalian, walau tak harus makan satu meja disebuah warung makan untuk menembus kesalahan ku. Akan klise sekali jika aku katakan aku hanya manusia biasa dengan berjuta kesalahan dan kekurangan. Tapi itu lah aku, oh ya doakan ya semoga target wisuda selepas menyelesaikan mata kuliah ku yang mendapat nilai E SEMPURNA itu bisa kuperbaiki.semoga target 6 bulan kedepan terwujud.  Mudah-mudahan dari doa kalian aku bisa menempati janji Papa ku untuk wisuda. Walau tak janji akan memenuhi keinginannya agar aku bisa menjadi guru karena bagi Papa ku seorang perempuan jika dia menjadi guru maka akan punya banyak waktu untuk mengurusi rumah tangganya, hanya dengan alasan simple ini saja Papa memasukkan ke FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN di UIR, dan mencabut status kemahasiswaan ku di FISIPOL UNRI jurusan Hubungan International beberapa tahun silam.  Tak ada yang disesali, semua telah menjadi cycles yang ditentukan oleh Allah SWT. Pertemuan dengan semua kehidupan ini telah tertulis di lauh mahfuzNya.


*ditujukan untuk semua teman baik laki-laki maupun perempuan yang pernah hadir dan bersinggungan dengan kehidupan ini. Bukan ditujukan untuk menyindir pribadi seseorang. Dan semua ini hanyalah sebuah tulisan yang sangat subyektif sekali. Karena ditulis dengan tinta keegoisan dan proses belajar yang masih sangat tertatih-tatih dan rapuh.


Ria Bustanudin






Lagi-lagi pertanyaan yang sama di tanyakan kembali, kalau mau menghitung nya mungkin pertanyaan ini sudah ribuan kali ditanyakan oleh puluhan orang yang ada didekatku. Mulai dari orang tua, keluarga, adik-adikku, teman-teman, saudara seorganisasi hingga teman di dunia maya. Tapi ada yang menggelitik untuk pertanyaan kali ini, sebuah pertanyaan yang tak lansung mendarat kepadaku, pertanyaan yang kemudian ditanyakan kepada orang lain oleh temanku itu, he..he.. apakah karena dia melihat ku sangat dekat dengan saudariku itu sehingga cukup bagi teman ku itu untuk menanyakan nya.

 Hmmm.. tertawa geli saja mendengar cerita saudari ku itu, aku percaya dia tak akan menambahkan atau melebihkan. Hal  serupa juga pernah dilakukan oleh seorang senior ku, pertanyaan ini di tanyakannya kepada orang lain, bagaimana orang itu akan menjawab jika kami sudah lama tidak berjumpa walau masih sama-sama di kampus. Walau tak ada masalah dengan semua pertanyaan itu, entah mengapa rasanya aku sudah sangat “kebal” dipertanyakan pertanyaan seperti itu, jika diawal-awal dulu pertanyaan itu bisa bikin “bĂȘte” maka sekarang udah biasa aja dengan pertanyaan itu, tidak ada yang perlu aku kesalkan atau justru marah pada orang – orang yang menanyakan nya. Toh aku tidak harus membuat Jumpa pers untuk menjawab pertanyaan itu.

Lagi lagi soal diskusi pagi tadi bersama Linda, ada-ada saja cerita Linda. Akhwat berkulit hitam manis  ini selalu punya stock cerita yang tak akan ada habisnya, dan entah mengapa aku selalu saja mau mendengarkan ceritanya. Masih terkait soal pertanyaan mengenai wisuda ku yang ditanyakan oleh teman kami kepadanya, lagi- lagi aku berfikir kenapa orang-orang tak lansung menanyakan kepada ku apa masalah ku. Atau pertanyaan itu ditanyakan hanya untuk mengisi pembicaraan mereka di telefon saja biar ada yang dibicarakan. Entahlah

Ini lah yang sering tak aku pahami dari orang lain, ketika orang lain sering merasa sulit untuk memahami jalan pikiran ku. Ketika orang lain sering merasa sok tahu terhadap kehidupanku, apakah aku berhak untuk di judge sementara mereka tak membuka waktu untuk mengenal saja sedikit tentang hidup ku (maaf ini bukan point pembelaan) diluar ribuan kekurangan dalam hidup ini, tidak kah sedikit saja mereka melihat atau biarkan jika hanya ada seujung kuku hal yang positif dari hidupku. Beberapa merasa bahwa aku tak pernah mau menerima kritikan dari orang lain, Upss.. tunggu dulu tak selamanya ini benar tapi bukan berarti mereka juga salah, aku akui aku memang seperti itu, tapi tahukah kalian bahwa masih ada beberapa orang yang selalu memberikan kritikan nya kepada ku dan aku tak pernah tersinggung dengannya, banyak hal yang dikatakannya mampu aku cerna dan mampu aku turuti, beberapa orang yang hadir dalam senyum dan  message-message nya yang menyejukkan.

Teringat beberepa bulan yang lalu seseorang yang aku kenal baik telah “baku hantam” dengan ku di room chat FB, seseorang yang selama 4 tahun bersama ku di organisasi, entah karena dia sangat membenci cara ku makanya dia mampu mengatakan semua itu, dan bodohnya saat itu aku juga melakukan hal yang sama. Padahal aku punya pilihan untuk menahan semuanya, tapi pilihan itu tak kupilih. Dan kubiarkan semuanya berakhir “sempurna” dalam sebuah kemarahan. Ini bukanlah sebuah kebanggaan yang harusnya aku pamer - pamerkan, kini aku hanya tengah belajar membalut kemarahan itu, dan semua ini masih dalam sebuah proses yang harus aku lewati. Apakah sepantas itu aku dibenci ??? Dan malangnya beberapa orang mengetahui pertikaian itu, dan lagi-lagi tak ada yang menanyakan kepada ku mengapa semua bisa terjadi, kenapa mereka harus menanyakan kepada orang lain, apakah orang yang ditanyakan tahu apa yang terjadi. Itu masalahnya, adilkah ini untukku???

Seperti stanment  yang mengatakan bahwa aku sangat eksis sekali di FB, stantment salah..! salah besar teman. Tidak kah kau tahu aku juga punya akun Twitter, juga punya BLOG, juga kemarin masih menyimpan PIN BB dan aku juga eksis sekali disana. Dan tak ada pembelaan untuk ini, aku pun malas untuk membela, karena memang benar mungkin adanya. Tapi jika hidup ku aku habiskan di layar untuk pantengin aktivitas orang-orang di  dumay, maka biarkan sekali ini saja aku katakan “itu tidak benar” jika ingin aku klarifikasi, bahwa banyak hal yang aku lakukan di depan laptop ku. Tidak kah ingin kalian buka sedikit saja blog ku dan membacanya, atau kalian yang malas membaca, atau tulisan ku yang tak menarik (aku hanya tengah belajar teman..) kalau kau hanya membaca FB ku maka sampailah kalian pada kesimpulan seperti diatas, atau jika kalian berkenan bacalah tulisan ku di media cetak, atau jika kalian tak percaya maka datang lah kesini melihatnya.

Akan jadi masalah jika selanjutnya  aku katakan apa saja aktivitas ku setiap hari. Aku pun lagi tengah belajar teman, tak akan kubiarkan diriku mati dalam kubangan, dalam keadaaan galau tingkat nasional, tak kubiarkan masalah membelenggu hidupku, beberapa amanah sebagai korbid dan ketua di Pimpinan Pengurus cabang kemuslimahan aku coba jalani, saat ini statusku masih menjadi staff dari sebuah kelembagaan mahasiswa di Pekanbaru. Bersama dengan koordinator dan teman-teman ku itu kami agendakan banyak hal yang menjadi mimpi dan cita-cita.

 Jika kalian melihat ku dari sudut teman-temanku yang lain, yang masih sering terlihat “nongkrong”  di mesjid kampus, maka aku rasa masa itu telah lewat,  jika hanya dengan kalian melihat ku tak lagi ada disana itu bukan berarti aku telah “tiada” aku masih disini teman. Hanya berbeda tempat saja kali ini. Apakah ada masalah dengan semua itu ?? Lalu apakah jika kalian tak melihat ku disana maka pantas kah untuk kalian “memaki” ku di roomchat  seperti beberapa bulan yang lalu itu. Hari yang sangat pahit bagiku, kau telah tepat sekali menancapkan luka di saat luka yang lain tengah merekah pedih.

Waduh jadi kemana-mana, apakah ini bisa dikatakan curhat.. mungkin lagi lagi mereka benar. Mengatakan jika aku suka sekali curhat di FB. Maka sekarang biarkan aku akan berjanji untuk mengurangi bahasa bahasa curhat seperti yang mereka dan kalian maksudkan. Karena belakangan aku memang merasa kerepotan dengan ulah ku itu. Sebuah masukkan yang keren sekali tentunya, dan lebih oke lagi sebenarnya jika lansung ditujukan kepadaku.

Yakinlah teman aku tak seaneh, tak sesulit seperti yang kalian bayangkan atau seperti yang kalian katakan kepada teman-teman ku itu. Aku masih makan nasi seperti yang kalian makan, masih berpijak di bumi yang sama .

Kalau pun ada cara pandang yang berbeda maka katakan saja itu sebagai warna, bukan karena beberapa pendapat yang berbeda lantas kalian memberikan judgement  kepada ku, banyak hal yang aku seolah-olah paling tahu, suka mengatur sana sini.. aku sadari itu. Dan bagaimana ya aku menyakinkan kalian jika sekarang aku lagi belajar untuk merubah itu semua.

Okey mungkin aku rasa cukup sekian saja, rasanya sudah banyak sekali yang aku katakan mungkin kalian sudah mual membacanya. Maafkan aku yang membuat nafsu makan kalian jadi hilang, maafkanlah aku yang aneh, yang pernah menyakiti hati banyak orang. Selagi ada sakit yang pernah aku buat kepada kalian jika kalian bersedia maka katakanlah kepada ku, agar bisa lansung ku meminta maaf kepada kalian, walau tak harus makan satu meja disebuah warung makan untuk menembus kesalahan ku. Akan klise sekali jika aku katakan aku hanya manusia biasa dengan berjuta kesalahan dan kekurangan. Tapi itu lah aku, oh ya doakan ya semoga target wisuda selepas menyelesaikan mata kuliah ku yang mendapat nilai E SEMPURNA itu bisa kuperbaiki.semoga target 6 bulan kedepan terwujud.  Mudah-mudahan dari doa kalian aku bisa menempati janji Papa ku untuk wisuda. Walau tak janji akan memenuhi keinginannya agar aku bisa menjadi guru karena bagi Papa ku seorang perempuan jika dia menjadi guru maka akan punya banyak waktu untuk mengurusi rumah tangganya, hanya dengan alasan simple ini saja Papa memasukkan ke FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN di UIR, dan mencabut status kemahasiswaan ku di FISIPOL UNRI jurusan Hubungan International beberapa tahun silam.  Tak ada yang disesali, semua telah menjadi cycles yang ditentukan oleh Allah SWT. Pertemuan dengan semua kehidupan ini telah tertulis di lauh mahfuzNya.


*ditujukan untuk semua teman baik laki-laki maupun perempuan yang pernah hadir dan bersinggungan dengan kehidupan ini. Bukan ditujukan untuk menyindir pribadi seseorang. Dan semua ini hanyalah sebuah tulisan yang sangat subyektif sekali. Karena ditulis dengan tinta keegoisan dan proses belajar yang masih sangat tertatih-tatih dan rapuh.


Ria Bustanudin






Lagi-lagi pertanyaan yang sama di tanyakan kembali, kalau mau menghitung nya mungkin pertanyaan ini sudah ribuan kali ditanyakan oleh puluhan orang yang ada didekatku. Mulai dari orang tua, keluarga, adik-adikku, teman-teman, saudara seorganisasi hingga teman di dunia maya. Tapi ada yang menggelitik untuk pertanyaan kali ini, sebuah pertanyaan yang tak lansung mendarat kepadaku, pertanyaan yang kemudian ditanyakan kepada orang lain oleh temanku itu, he..he.. apakah karena dia melihat ku sangat dekat dengan saudariku itu sehingga cukup bagi teman ku itu untuk menanyakan nya.

 Hmmm.. tertawa geli saja mendengar cerita saudari ku itu, aku percaya dia tak akan menambahkan atau melebihkan. Hal  serupa juga pernah dilakukan oleh seorang senior ku, pertanyaan ini di tanyakannya kepada orang lain, bagaimana orang itu akan menjawab jika kami sudah lama tidak berjumpa walau masih sama-sama di kampus. Walau tak ada masalah dengan semua pertanyaan itu, entah mengapa rasanya aku sudah sangat “kebal” dipertanyakan pertanyaan seperti itu, jika diawal-awal dulu pertanyaan itu bisa bikin “bĂȘte” maka sekarang udah biasa aja dengan pertanyaan itu, tidak ada yang perlu aku kesalkan atau justru marah pada orang – orang yang menanyakan nya. Toh aku tidak harus membuat Jumpa pers untuk menjawab pertanyaan itu.

Lagi lagi soal diskusi pagi tadi bersama Linda, ada-ada saja cerita Linda. Akhwat berkulit hitam manis  ini selalu punya stock cerita yang tak akan ada habisnya, dan entah mengapa aku selalu saja mau mendengarkan ceritanya. Masih terkait soal pertanyaan mengenai wisuda ku yang ditanyakan oleh teman kami kepadanya, lagi- lagi aku berfikir kenapa orang-orang tak lansung menanyakan kepada ku apa masalah ku. Atau pertanyaan itu ditanyakan hanya untuk mengisi pembicaraan mereka di telefon saja biar ada yang dibicarakan. Entahlah

Ini lah yang sering tak aku pahami dari orang lain, ketika orang lain sering merasa sulit untuk memahami jalan pikiran ku. Ketika orang lain sering merasa sok tahu terhadap kehidupanku, apakah aku berhak untuk di judge sementara mereka tak membuka waktu untuk mengenal saja sedikit tentang hidup ku (maaf ini bukan point pembelaan) diluar ribuan kekurangan dalam hidup ini, tidak kah sedikit saja mereka melihat atau biarkan jika hanya ada seujung kuku hal yang positif dari hidupku. Beberapa merasa bahwa aku tak pernah mau menerima kritikan dari orang lain, Upss.. tunggu dulu tak selamanya ini benar tapi bukan berarti mereka juga salah, aku akui aku memang seperti itu, tapi tahukah kalian bahwa masih ada beberapa orang yang selalu memberikan kritikan nya kepada ku dan aku tak pernah tersinggung dengannya, banyak hal yang dikatakannya mampu aku cerna dan mampu aku turuti, beberapa orang yang hadir dalam senyum dan  message-message nya yang menyejukkan.

Teringat beberepa bulan yang lalu seseorang yang aku kenal baik telah “baku hantam” dengan ku di room chat FB, seseorang yang selama 4 tahun bersama ku di organisasi, entah karena dia sangat membenci cara ku makanya dia mampu mengatakan semua itu, dan bodohnya saat itu aku juga melakukan hal yang sama. Padahal aku punya pilihan untuk menahan semuanya, tapi pilihan itu tak kupilih. Dan kubiarkan semuanya berakhir “sempurna” dalam sebuah kemarahan. Ini bukanlah sebuah kebanggaan yang harusnya aku pamer - pamerkan, kini aku hanya tengah belajar membalut kemarahan itu, dan semua ini masih dalam sebuah proses yang harus aku lewati. Apakah sepantas itu aku dibenci ??? Dan malangnya beberapa orang mengetahui pertikaian itu, dan lagi-lagi tak ada yang menanyakan kepada ku mengapa semua bisa terjadi, kenapa mereka harus menanyakan kepada orang lain, apakah orang yang ditanyakan tahu apa yang terjadi. Itu masalahnya, adilkah ini untukku???

Seperti stanment  yang mengatakan bahwa aku sangat eksis sekali di FB, stantment salah..! salah besar teman. Tidak kah kau tahu aku juga punya akun Twitter, juga punya BLOG, juga kemarin masih menyimpan PIN BB dan aku juga eksis sekali disana. Dan tak ada pembelaan untuk ini, aku pun malas untuk membela, karena memang benar mungkin adanya. Tapi jika hidup ku aku habiskan di layar untuk pantengin aktivitas orang-orang di  dumay, maka biarkan sekali ini saja aku katakan “itu tidak benar” jika ingin aku klarifikasi, bahwa banyak hal yang aku lakukan di depan laptop ku. Tidak kah ingin kalian buka sedikit saja blog ku dan membacanya, atau kalian yang malas membaca, atau tulisan ku yang tak menarik (aku hanya tengah belajar teman..) kalau kau hanya membaca FB ku maka sampailah kalian pada kesimpulan seperti diatas, atau jika kalian berkenan bacalah tulisan ku di media cetak, atau jika kalian tak percaya maka datang lah kesini melihatnya.

Akan jadi masalah jika selanjutnya  aku katakan apa saja aktivitas ku setiap hari. Aku pun lagi tengah belajar teman, tak akan kubiarkan diriku mati dalam kubangan, dalam keadaaan galau tingkat nasional, tak kubiarkan masalah membelenggu hidupku, beberapa amanah sebagai korbid dan ketua di Pimpinan Pengurus cabang kemuslimahan aku coba jalani, saat ini statusku masih menjadi staff dari sebuah kelembagaan mahasiswa di Pekanbaru. Bersama dengan koordinator dan teman-teman ku itu kami agendakan banyak hal yang menjadi mimpi dan cita-cita.

 Jika kalian melihat ku dari sudut teman-temanku yang lain, yang masih sering terlihat “nongkrong”  di mesjid kampus, maka aku rasa masa itu telah lewat,  jika hanya dengan kalian melihat ku tak lagi ada disana itu bukan berarti aku telah “tiada” aku masih disini teman. Hanya berbeda tempat saja kali ini. Apakah ada masalah dengan semua itu ?? Lalu apakah jika kalian tak melihat ku disana maka pantas kah untuk kalian “memaki” ku di roomchat  seperti beberapa bulan yang lalu itu. Hari yang sangat pahit bagiku, kau telah tepat sekali menancapkan luka di saat luka yang lain tengah merekah pedih.

Waduh jadi kemana-mana, apakah ini bisa dikatakan curhat.. mungkin lagi lagi mereka benar. Mengatakan jika aku suka sekali curhat di FB. Maka sekarang biarkan aku akan berjanji untuk mengurangi bahasa bahasa curhat seperti yang mereka dan kalian maksudkan. Karena belakangan aku memang merasa kerepotan dengan ulah ku itu. Sebuah masukkan yang keren sekali tentunya, dan lebih oke lagi sebenarnya jika lansung ditujukan kepadaku.

Yakinlah teman aku tak seaneh, tak sesulit seperti yang kalian bayangkan atau seperti yang kalian katakan kepada teman-teman ku itu. Aku masih makan nasi seperti yang kalian makan, masih berpijak di bumi yang sama .

Kalau pun ada cara pandang yang berbeda maka katakan saja itu sebagai warna, bukan karena beberapa pendapat yang berbeda lantas kalian memberikan judgement  kepada ku, banyak hal yang aku seolah-olah paling tahu, suka mengatur sana sini.. aku sadari itu. Dan bagaimana ya aku menyakinkan kalian jika sekarang aku lagi belajar untuk merubah itu semua.

Okey mungkin aku rasa cukup sekian saja, rasanya sudah banyak sekali yang aku katakan mungkin kalian sudah mual membacanya. Maafkan aku yang membuat nafsu makan kalian jadi hilang, maafkanlah aku yang aneh, yang pernah menyakiti hati banyak orang. Selagi ada sakit yang pernah aku buat kepada kalian jika kalian bersedia maka katakanlah kepada ku, agar bisa lansung ku meminta maaf kepada kalian, walau tak harus makan satu meja disebuah warung makan untuk menembus kesalahan ku. Akan klise sekali jika aku katakan aku hanya manusia biasa dengan berjuta kesalahan dan kekurangan. Tapi itu lah aku, oh ya doakan ya semoga target wisuda selepas menyelesaikan mata kuliah ku yang mendapat nilai E SEMPURNA itu bisa kuperbaiki.semoga target 6 bulan kedepan terwujud.  Mudah-mudahan dari doa kalian aku bisa menempati janji Papa ku untuk wisuda. Walau tak janji akan memenuhi keinginannya agar aku bisa menjadi guru karena bagi Papa ku seorang perempuan jika dia menjadi guru maka akan punya banyak waktu untuk mengurusi rumah tangganya, hanya dengan alasan simple ini saja Papa memasukkan ke FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN di UIR, dan mencabut status kemahasiswaan ku di FISIPOL UNRI jurusan Hubungan International beberapa tahun silam.  Tak ada yang disesali, semua telah menjadi cycles yang ditentukan oleh Allah SWT. Pertemuan dengan semua kehidupan ini telah tertulis di lauh mahfuzNya.


*ditujukan untuk semua teman baik laki-laki maupun perempuan yang pernah hadir dan bersinggungan dengan kehidupan ini. Bukan ditujukan untuk menyindir pribadi seseorang. Dan semua ini hanyalah sebuah tulisan yang sangat subyektif sekali. Karena ditulis dengan tinta keegoisan dan proses belajar yang masih sangat tertatih-tatih dan rapuh.


Ria Bustanudin






Lagi-lagi pertanyaan yang sama di tanyakan kembali, kalau mau menghitung nya mungkin pertanyaan ini sudah ribuan kali ditanyakan oleh puluhan orang yang ada didekatku. Mulai dari orang tua, keluarga, adik-adikku, teman-teman, saudara seorganisasi hingga teman di dunia maya. Tapi ada yang menggelitik untuk pertanyaan kali ini, sebuah pertanyaan yang tak lansung mendarat kepadaku, pertanyaan yang kemudian ditanyakan kepada orang lain oleh temanku itu, he..he.. apakah karena dia melihat ku sangat dekat dengan saudariku itu sehingga cukup bagi teman ku itu untuk menanyakan nya.

 Hmmm.. tertawa geli saja mendengar cerita saudari ku itu, aku percaya dia tak akan menambahkan atau melebihkan. Hal  serupa juga pernah dilakukan oleh seorang senior ku, pertanyaan ini di tanyakannya kepada orang lain, bagaimana orang itu akan menjawab jika kami sudah lama tidak berjumpa walau masih sama-sama di kampus. Walau tak ada masalah dengan semua pertanyaan itu, entah mengapa rasanya aku sudah sangat “kebal” dipertanyakan pertanyaan seperti itu, jika diawal-awal dulu pertanyaan itu bisa bikin “bĂȘte” maka sekarang udah biasa aja dengan pertanyaan itu, tidak ada yang perlu aku kesalkan atau justru marah pada orang – orang yang menanyakan nya. Toh aku tidak harus membuat Jumpa pers untuk menjawab pertanyaan itu.

Lagi lagi soal diskusi pagi tadi bersama Linda, ada-ada saja cerita Linda. Akhwat berkulit hitam manis  ini selalu punya stock cerita yang tak akan ada habisnya, dan entah mengapa aku selalu saja mau mendengarkan ceritanya. Masih terkait soal pertanyaan mengenai wisuda ku yang ditanyakan oleh teman kami kepadanya, lagi- lagi aku berfikir kenapa orang-orang tak lansung menanyakan kepada ku apa masalah ku. Atau pertanyaan itu ditanyakan hanya untuk mengisi pembicaraan mereka di telefon saja biar ada yang dibicarakan. Entahlah

Ini lah yang sering tak aku pahami dari orang lain, ketika orang lain sering merasa sulit untuk memahami jalan pikiran ku. Ketika orang lain sering merasa sok tahu terhadap kehidupanku, apakah aku berhak untuk di judge sementara mereka tak membuka waktu untuk mengenal saja sedikit tentang hidup ku (maaf ini bukan point pembelaan) diluar ribuan kekurangan dalam hidup ini, tidak kah sedikit saja mereka melihat atau biarkan jika hanya ada seujung kuku hal yang positif dari hidupku. Beberapa merasa bahwa aku tak pernah mau menerima kritikan dari orang lain, Upss.. tunggu dulu tak selamanya ini benar tapi bukan berarti mereka juga salah, aku akui aku memang seperti itu, tapi tahukah kalian bahwa masih ada beberapa orang yang selalu memberikan kritikan nya kepada ku dan aku tak pernah tersinggung dengannya, banyak hal yang dikatakannya mampu aku cerna dan mampu aku turuti, beberapa orang yang hadir dalam senyum dan  message-message nya yang menyejukkan.

Teringat beberepa bulan yang lalu seseorang yang aku kenal baik telah “baku hantam” dengan ku di room chat FB, seseorang yang selama 4 tahun bersama ku di organisasi, entah karena dia sangat membenci cara ku makanya dia mampu mengatakan semua itu, dan bodohnya saat itu aku juga melakukan hal yang sama. Padahal aku punya pilihan untuk menahan semuanya, tapi pilihan itu tak kupilih. Dan kubiarkan semuanya berakhir “sempurna” dalam sebuah kemarahan. Ini bukanlah sebuah kebanggaan yang harusnya aku pamer - pamerkan, kini aku hanya tengah belajar membalut kemarahan itu, dan semua ini masih dalam sebuah proses yang harus aku lewati. Apakah sepantas itu aku dibenci ??? Dan malangnya beberapa orang mengetahui pertikaian itu, dan lagi-lagi tak ada yang menanyakan kepada ku mengapa semua bisa terjadi, kenapa mereka harus menanyakan kepada orang lain, apakah orang yang ditanyakan tahu apa yang terjadi. Itu masalahnya, adilkah ini untukku???

Seperti stanment  yang mengatakan bahwa aku sangat eksis sekali di FB, stantment salah..! salah besar teman. Tidak kah kau tahu aku juga punya akun Twitter, juga punya BLOG, juga kemarin masih menyimpan PIN BB dan aku juga eksis sekali disana. Dan tak ada pembelaan untuk ini, aku pun malas untuk membela, karena memang benar mungkin adanya. Tapi jika hidup ku aku habiskan di layar untuk pantengin aktivitas orang-orang di  dumay, maka biarkan sekali ini saja aku katakan “itu tidak benar” jika ingin aku klarifikasi, bahwa banyak hal yang aku lakukan di depan laptop ku. Tidak kah ingin kalian buka sedikit saja blog ku dan membacanya, atau kalian yang malas membaca, atau tulisan ku yang tak menarik (aku hanya tengah belajar teman..) kalau kau hanya membaca FB ku maka sampailah kalian pada kesimpulan seperti diatas, atau jika kalian berkenan bacalah tulisan ku di media cetak, atau jika kalian tak percaya maka datang lah kesini melihatnya.

Akan jadi masalah jika selanjutnya  aku katakan apa saja aktivitas ku setiap hari. Aku pun lagi tengah belajar teman, tak akan kubiarkan diriku mati dalam kubangan, dalam keadaaan galau tingkat nasional, tak kubiarkan masalah membelenggu hidupku, beberapa amanah sebagai korbid dan ketua di Pimpinan Pengurus cabang kemuslimahan aku coba jalani, saat ini statusku masih menjadi staff dari sebuah kelembagaan mahasiswa di Pekanbaru. Bersama dengan koordinator dan teman-teman ku itu kami agendakan banyak hal yang menjadi mimpi dan cita-cita.

 Jika kalian melihat ku dari sudut teman-temanku yang lain, yang masih sering terlihat “nongkrong”  di mesjid kampus, maka aku rasa masa itu telah lewat,  jika hanya dengan kalian melihat ku tak lagi ada disana itu bukan berarti aku telah “tiada” aku masih disini teman. Hanya berbeda tempat saja kali ini. Apakah ada masalah dengan semua itu ?? Lalu apakah jika kalian tak melihat ku disana maka pantas kah untuk kalian “memaki” ku di roomchat  seperti beberapa bulan yang lalu itu. Hari yang sangat pahit bagiku, kau telah tepat sekali menancapkan luka di saat luka yang lain tengah merekah pedih.

Waduh jadi kemana-mana, apakah ini bisa dikatakan curhat.. mungkin lagi lagi mereka benar. Mengatakan jika aku suka sekali curhat di FB. Maka sekarang biarkan aku akan berjanji untuk mengurangi bahasa bahasa curhat seperti yang mereka dan kalian maksudkan. Karena belakangan aku memang merasa kerepotan dengan ulah ku itu. Sebuah masukkan yang keren sekali tentunya, dan lebih oke lagi sebenarnya jika lansung ditujukan kepadaku.

Yakinlah teman aku tak seaneh, tak sesulit seperti yang kalian bayangkan atau seperti yang kalian katakan kepada teman-teman ku itu. Aku masih makan nasi seperti yang kalian makan, masih berpijak di bumi yang sama .

Kalau pun ada cara pandang yang berbeda maka katakan saja itu sebagai warna, bukan karena beberapa pendapat yang berbeda lantas kalian memberikan judgement  kepada ku, banyak hal yang aku seolah-olah paling tahu, suka mengatur sana sini.. aku sadari itu. Dan bagaimana ya aku menyakinkan kalian jika sekarang aku lagi belajar untuk merubah itu semua.

Okey mungkin aku rasa cukup sekian saja, rasanya sudah banyak sekali yang aku katakan mungkin kalian sudah mual membacanya. Maafkan aku yang membuat nafsu makan kalian jadi hilang, maafkanlah aku yang aneh, yang pernah menyakiti hati banyak orang. Selagi ada sakit yang pernah aku buat kepada kalian jika kalian bersedia maka katakanlah kepada ku, agar bisa lansung ku meminta maaf kepada kalian, walau tak harus makan satu meja disebuah warung makan untuk menembus kesalahan ku. Akan klise sekali jika aku katakan aku hanya manusia biasa dengan berjuta kesalahan dan kekurangan. Tapi itu lah aku, oh ya doakan ya semoga target wisuda selepas menyelesaikan mata kuliah ku yang mendapat nilai E SEMPURNA itu bisa kuperbaiki.semoga target 6 bulan kedepan terwujud.  Mudah-mudahan dari doa kalian aku bisa menempati janji Papa ku untuk wisuda. Walau tak janji akan memenuhi keinginannya agar aku bisa menjadi guru karena bagi Papa ku seorang perempuan jika dia menjadi guru maka akan punya banyak waktu untuk mengurusi rumah tangganya, hanya dengan alasan simple ini saja Papa memasukkan ke FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN di UIR, dan mencabut status kemahasiswaan ku di FISIPOL UNRI jurusan Hubungan International beberapa tahun silam.  Tak ada yang disesali, semua telah menjadi cycles yang ditentukan oleh Allah SWT. Pertemuan dengan semua kehidupan ini telah tertulis di lauh mahfuzNya.


*ditujukan untuk semua teman baik laki-laki maupun perempuan yang pernah hadir dan bersinggungan dengan kehidupan ini. Bukan ditujukan untuk menyindir pribadi seseorang. Dan semua ini hanyalah sebuah tulisan yang sangat subyektif sekali. Karena ditulis dengan tinta keegoisan dan proses belajar yang masih sangat tertatih-tatih dan rapuh.


Ria Bustanudin







v